PESAN SINGKAT

Kamis, 15 Desember 2011

prinsip-prinsip berdakwah bagi umat


BAB Ihttps://plus.google.com/u/0/117734609450688708337/videos#117734609450688708337/videos
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
       Dakwah merupakan penentu segala pemikiran yang dengannya setiap umat dan bangsa terdorong kepadanya. Kewajiban berdakwah didasarkan atas suatu ajaran, bahwa Islam adalah agama risalah untuk umat manusia, sedangkan umat manusia adalah pendukung amanat tersebut, yaitu sebagai penerus risalah Islam (nabi) dalam segala dimensi ruang dan waktu. Dengan mengemban amanat ini, da’i dituntut untuk mampu berpijak dan bertindak, mampu menyentuh dan menyejukkan hati agar dakwahnya dapat diterima, sehingga membawa perubahan bagi manusia.
       Manusia dalam kodratnya diciptakan oleh Allah bukan hanya sebagai makhluk individu, akan tetapi ia juga berperan sebagai makhluk sosial. Dalam hubungan sesama manusia inilah manusia dihadapkan dengan warna-warna sosial, yang kadang kala apabila disikapi secara berlebihan ataupun berbeda pandangan maka akan terjadi konflik pribadi ataupun bahkan merembet pada konflik sosial.
       Ketika seorang da’i melangkahkan kakinya untuk berdakwah, tentu akan menjumpai berbagai macam corak manusia. Masing-masing corak itu harus dihadapi dengan cara yang sepadan dengan tingkat kecerdasan, sepadan dengan alam pikiran dan perasaan serta tabiat masing-masing. Oleh karena itu, seorang da’i hendaknya mengetahui konsep serta prinsip-prinsip dakwah yang sesuai dan tepat untuk diterapkan dalam masyarakat yang berbeda.

B.  Rumusan Masalah
       Berdasarkan penjelasan di atas ada beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, diantaranya:
1.    Bagaimanakah konsep berdakwah bagi umat Islam?
2.    Bagaimanakah prinsip-prinsip berdakwah bagi umat Islam?

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Konsep Dakwah
1.    Pengertian Dakwah
               Ditinjau dari segi etimologi atau asal kata (bahasa), dakwah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti “panggilan, ajakan atau seruan”.
               Dalam Ilmu Tata Bahasa Arab, kata dakwah berbentuk sebagai “isim mashdar”. Kata ini berasal dari fi’il (kata kerja) “da’a-yad’u”, artinya memanggil, mengajak, atau menyeru. Arti kata dakwah seperti ini sering dijumpai atau digunakan dalam ayat Al Qur’an seperti dalam Surat Ali Imran ayat 104:
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.
              Dakwah menurut istilah mengandung arti yang beraneka ragam. Banyak ahli Ilmu Dakwah memberikan definisi terhadap istilah dakwah terdapat beraneka ragam pendapat.
              Menurut Drs. Hamzah Yaqub dalam bukunya “Publistik Islam memberikan pengertian dakwah dalam Islam ialah “mengajak umat manusia dengan hikmah kebijaksanaan untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
              Dalam Al Qur’an surat An Nahl ayat 125 disebutkan bahwa dakwah adalah mengajak umat manusia ke jalan Allah dengan cara yang bijaksana, nasehat yang baik serta berdebat dengan cara yang baik pula.
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr&
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
              Definisi yang lain, seperti definisi dakwah menurut Team Proyek Penerangan Bimbingan dan Dakwah / khotbah Agama Islam (pusat) Departemen Agama RI Dalam bukunya “Metodologi Dakwah Kepada Suku Terasing” adalah setiap usaha yang mengarah untuk memperbaiki suasana kehidupan yang lebih baik dan layak, sesuai dengan kehendak dan tuntunan kebenaran.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah:
a.    Dakwah adalah suatu usaha atau proses yang diselenggarakan dengan sadar dan terencana
b.    Usaha yang dilakukan adalah mengajak umat manusia ke jalan Allah, memperbaiki
     situasi yang lebih baik (dakwah bersifat pembinaan dan pengembangan)
c.    Usaha tersebut dilakukan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, yakni hidup bahagia sejahtera di dunia ataupun di akhirat.
2.    Hakikat Dakwah
              Jika difahami dari penjelasan dalam pengertian dakwah sebelumnya, maka hakekat yang paling penting adalah sebagai jalan Ketauhidan. Kata ketauhidan berasal dari kata tauhid, dari bahasa Arab yang menunjukkan kepada kesendirian atau keesaan. (Ahmad bin Fâris Zakariyâ, op. cit., VI, hlm. 90) Jadi yang dimaksud dengan ketauhidan adalah adanya keyakinan atau kepercayaan bahwa Allah hanya satu dan tiada satupun yang dapat menyamai-Nya.
Hal ini sesuai dengan Q.S al Qashash: 87-88:
Ÿwur y7¯RÝÁtƒ ô`tã ÏM»tƒ#uä «!$# y÷èt/ øŒÎ) ôMs9ÌRé& šøs9Î) ( äí÷Š$#ur 4n<Î) šÎn/u ( Ÿwur ¨ûsðqä3s? z`ÏB tûüÅ2ÎŽô³ßJø9$# ÇÑÐÈ   Ÿwur äíôs? yìtB «!$# $·g»s9Î) tyz#uä ¢ Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd 4 @ä. >äóÓx« î7Ï9$yd žwÎ) ¼çmygô_ur 4 ã&s! â/õ3çtø:$# Ïmøs9Î)ur tbqãèy_öè? ÇÑÑÈ  
“Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
              Dua ayat tersebut menunjukkan bahwa berdakwah adalah mengajak kepada umat manusia agar tidak berbuat syirik atau menyekutukan Allah Swt, sebab kalau masih ada sesembahan lain selain Dia, berarti sama saja memiliki dua keyakinan atau kepercayaan.
              Dengan kata lain, bahwasanya ayat di atas memberi penjelasan bahwa agar menyeru seluruh manusia untuk beribadah hanya kepada Allah semata, Dia tiada sekutu bagi-Nya. Hal ini sesuai dengan Q.S al-Dzariyat: 56
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ  
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
              Kata ya’buduni disini berarti beribadah kepada-Ku. Kata ibadah berakar kata dari ‘abada - ya’budu-‘ibadatan, menurut bahasa berarti memperbudak, tunduk dan taat, mempertuhankan, dan manasik. Ada ulama’ tidak sepakat arti ibadah ini, di antara mereka misalnya, Ibnu Taimiyah: Ibadah dasar maknanya adalah merendahkan diri, akan tetapi ibadah yang diperintahkan mengandung makna merendahkan diri dan memberikan makna kecintaan. Jadi ibadah itu mengandung makna merendahkan diri dan adanya kecintaan yang mendalam kepada Allah Swt.
              Sehubungan dengan hal tersebut Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa bagi siapa saja yang tunduk dan merendahkan diri kepada manusia disertai dengan kebencian, ia bukan ‘abid kepada manusia yang menjadi juragannya, begitu pula seseorang yang mencintai sesuatu tanpa ketaatan dan ketundukan kepada sesuatu itu, berarti ia juga tidak ‘abid kepadanya. Oleh karena itu, jika kita beribadah kepada Allah, maka yang paling dicintai, diagungi, ditaati secara sempurna dari segala sesuatu adalah Allah Swt serta selalu merendahkan diri kepada-Nya.
Dari keterangan tersebut, dapat difahami bahwa ibadah yang hakiki ada dua hal, yaitu:
a.    Taat dan tunduk kepada apa yang disyari’atkan oleh Allah, yang dibawa oleh Rasul-Nya, baik perintah maupun larangan. Hal ini tercermin unsur ketaatan dan ketundukan, karena tidak dapat disebut hamba yang taat dan tunduk, kalau tidak mengikuti perintah-Nya dan membangkang syari’at-Nya.
b.    Cinta kepada syari’at Allah Swt. yang dibawa oleh Rasul-Nya bersumber dari hati yang cinta kepada Allah Swt, karena Dialah yang menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan, Dia memberi kelebihan dibanding dengan makhluk-makhluk lain.
              Mengajak manusia kepada ke- tauhidan (Meng-Esakan Tuhan) pada hakekatnya untuk memenuhi fitrah manusia, karena manusia dilahirkan di bumi ini telah membawa fitrah beragama, yaitu untuk beriman kepada Allah semata.
              Hakekat dakwah, terpenting adalah untuk meluruskan dan mengarahkan serta mengajak kepada manusia agar mengikuti agama tauhid, dengan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan.
3.    Dasar Hukum Dakwah
              Titik tolak untuk mendasari hukum dakwah adalah Al Qur’an dan As-Sunnah. Dari kedua dasar hukum tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dakwah merupakan suatu kewajiban bagi setiap manusia yang beragama Islam. Tak ada alasan lain untuk meninggalkan kewajiban dakwah kecuali setelah manusia meninggalkan alam yang fana ini. Beberapa dalil Al Qur’an menyebutkan kewajiban manusia dalam dakwah. Dalil-dalilnya antara lain:
Surat Ali Imran ayat 110:
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ  
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Surat Ali Imran ayat 104:
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
Surat At Tahrim ayat 6:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
4.    Tujuan Dakwah
               Dakwah merupakan suatu rangkaian kegiatan atau proses, dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan ini dimaksudkan untuk pemberi arah atau pedoman bagi gerak langkah kegiatan dakwah. Sebab tanpa tujuan yang jelas seluruh aktivitas dakwah akan sia-sia. Apalagi ditinjau dari segi pendekatan sistem (system approach), tujuan dakwah merupakan salah satu unsur dakwah. Dimana antara unsur dakwah yang satu dengan yang lain saling membantu, mempengaruhi, berhubungan.  Tujuan umum dakwah adalah mengajak umat manusia kepada jalan yang benar dan diridhai Allah agar dapat hidup bahagia dan sejahtera di dunia maupun di akhirat. Tujuan dakwah di atas masih bersifat ijmali atau umum, oleh karena iitu masih juga memerlukan rumusan-rumusan secara terperinci pada bagian lain. Sebab menurut anggapan sementara ini tujuan dakwah yang utama menunjukkan pengertian bahwa dakwah kepada seluruh ummat baik yang sudah memeluk agama maupun yang dalam keadaan kafir atau musyrik. Arti ummat atau kaum disini menunjukkan pengertian seluruh alam atau setidaknya se alam dunia. Sedangkan yang berkewajiban berdakwah ke seluruh ummat adalah Rasulullah dan utusan-utusan yang lain. Tujuan khusus dakwah merupakan perumusan tujuan sebagai perincian daripada tujuan umum dakwah. Tujuan ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan seluruh aktivitas dakwah dapat jelas diketahui ke mana arahnya, ataupun jenis kegiatan apa yang hendak dikerjakan, kepada siapa berdakwah, dengan cara yang bagaimana, dan sebagainya secara terperinci.
5.    Objek dakwah
               Yang dimaksud dengan obyek dakwah adalah siapa yang diajak untuk melaksanakan ajaran agama dengan baik. Adapun obyek dakwah adalah seluruh umat manusia. Hal itu sesuai dengan:
·         Q.S. al-A’râf (7): 158,
Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua
·         Q.S. Saba’ (34): 28,
Walaupun dakwah itu untuk seluruh manusia, namun harus dijelaskan dari mana dakwah itu dimulai, maka perlu dijelaskan sebagai berikut:
a. Kepada diri sendiri
b. Kepada keluarga
c. Sanak keluarga dekat
d. Sebagian kelompok
e. Seluruh umat manusia
               Objek dakwah amatlah luas, ia adalah masyarakat yang beraneka ragam latar belakang dan kedudukannya. Berkait di dalamnya manusia yang merupakan anggota masyarakat yang masing-masing mempunyai kelainan individu. Manusia memang unik, unik tapi nyata. Unik karena kompleksitas kepribadiannya yang saling berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain, pribadi dimaksudkan disini adalah berbagai aspek dan sifat-sifat psikis dari seseorang. Obyek dakwah adalah pribadi semacam tersebut yang sangat beragam.
6.    Metode dakwah
                           Metode dakwah adalah cara mencapai tujuan dakwah, untuk mendapatkan gambaran tentang prinsip-prinsip metode dakwah harus mencermati firman Allah Swt, dan Hadits Nabi Muhammad Saw :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“ Serulah [ manusia ] kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik …….“ (An-Nahl [16]: 125)
                           Dari ayart tersebut dapat difahami prinsip umum tentang metode dakwah Islam yang menekankan ada tiga prinsip umum metode dakwah yaitu ; Metode hikmah, metode mau’izah khasanah, meode mujadalah billati hia ahsan, banyak penafsiran para Ulama’ terhadap tiga prinsip metode tersebut antara lain :
1. Metode hikmah menurut Syekh Mustafa Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa hikmah yaitu; Perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.
2. Metode mau’izhah hasanah menurut Ibnu Syayyidiqi adalah memberi ingat kepada orang lain dengan pahala dan siksa yang dapat menaklukkan hati.
3. Metode mujadalah dengan sebaik-baiknya menurut Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menegaskan agar orang-orang yang melakukan tukar fikiran itu tidak beranggapan bahwa yang satu sebagai lawan bagi yang lainnya, tetapi mereka harus menganggap bahwa para peserta mujadalah atau diskusi itu sebagai kawan yang saling tolong-menolong dalam mencapai kebenaran. Demikianlah antara lain pendapat sebagaian Mufassirin tentang tiga prinsip metode tersebut. Selain metode tersebut Nabi Muhammad Saw bersabda :
 مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
 “ Siapa di antara kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya, dan yang terakhir inilah selemah-lemah iman.” (H.R. Muslim)

B.  Prinsip-Prinsip Berdakwah
1.    Mencari Titik Temu atau Sisi Kesamaan
               Kita menyaksikan pola dakwah Rasulullah sebelum masanya hijriah, tidak pernah menyeru umatnya sendiri atau ahli kitab dengan sebutan orang-orang kafir, musyrik atau munafik, melainkan dengan seruan yang sama dengan dirinya yaa ayyuhan naas, “wahai manusa”. Bahkan untuk orang-orang munafik, sebelum jatuhnya kota Mekkah Nabi Saw mempergunakan pangggilan yaa ayyuhal ladziina aamanuu, “hai orang-orang yang beriman”, dan sama sekali tidak pernah mengungkapkan secara terang-terangan kemunafikan mereka dengan menggunakan panggilan yaaa ayyuhal munafiqun, “hai orang munafiq”. Akan tetapi setelah sekian lama berdakwah dengan kelembutan dan ayat-ayat Ilahi sia-sia menjelaskan kebenaran kepada mereka dan mereka tidak saja menolak kebenaran, tetapi juga bersekongkol dan bersepakat membunuh Rasulullah. Baru Rasulullah menyeru dengan kata-kata tegas dan jelas . “Hai orang- orang kafir” dan manyatakan berlepas tangan dari tangan mereka da agama mereka. Ali Imran:64:
ö@è% Ÿ@÷dr'¯»tƒ É=»tGÅ3ø9$# (#öqs9$yès? 4n<Î) 7pyJÎ=Ÿ2 ¥ä!#uqy $uZoY÷t/ ö/ä3uZ÷t/ur žwr& yç7÷ètR žwÎ) ©!$# Ÿwur x8ÎŽô³èS ¾ÏmÎ/ $\«øx© Ÿwur xÏ­Gtƒ $uZàÒ÷èt/ $³Ò÷èt/ $\/$t/ör& `ÏiB Èbrߊ «!$# 4 bÎ*sù (#öq©9uqs? (#qä9qà)sù (#rßygô©$# $¯Rr'Î/ šcqßJÎ=ó¡ãB ÇÏÍÈ
Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".
2.    Menggembirakan Sebelum Menakut-nakuti
            Sudah menjadi fitrah manusia suka kepada yang menyenangkan dan benci kepada yang menakutkan, maka selayaknya bagi para da’i untuk memulai dakwahnya dengan member harapan yang menarik, mempesona dan menggembirakan sebelum memberikan ancaman.
            Seorang da’i seharusnya terlebih dahulu memberikan kabar gembira sebelum ancaman, mendorong, beramal dan menyebutkan faedahnya sebelum menakut nakuti. Memberitahu keutamaaan menyebarkan ilmu sebelum member peringatan kepada mereka tentang besarnya dosa menyembunyikan ilmu dan memotivasi untuk melaksanakan shalat pada waktnya sebelum memberikan peringatan tentang besarnya dosa meninggalkan shalat.
            Kita memang tidak dapat menafikan manfaat tarhib, karena beragam tabiat manusia. Akan tetapi, member kabar gembira terlebih dahulu sebelum peringatan itu bisa membuat hati menerima dengan baik dan lega. Pemberian motivasi ini bisa menumbuhkan harapan dan optimism seseorang.
3.    Memudahkan Tidak Mempersulit
            Di antara metode yang menyejukkan yang ditempuh oleh Rasulullah dalam berdakwah yaitu mempermudah tidak mempersulit serta meringankan tidak memberatkan begitu melimpah nash al-quran maupun teks as-Sunnah yang memberikan isyarat bahwa memudahkan itu lebih disukai Allah daripada mempersulit.
Allah  berfirman:
& 3 ߃̍ムª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߃̍ムãNà6Î/ uŽô£ãèø9$#  ÇÊÑÎÈ
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
߃̍ムª!$# br& y#Ïeÿsƒä öNä3Ytã 4 t,Î=äzur ß`»|¡RM}$# $ZÿÏè|Ê ÇËÑÈ
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.
4 $tB ߃̍ムª!$# Ÿ@yèôfuŠÏ9 Nà6øn=tæ ô`ÏiB 8ltym
                Allah tidak bermaksud menyulitkan kamu dan manusia teapi dia hendak membersihkan kamu.
                        Dalam shohih Bukhori disebutkan ketika Rasulullah mengutus sahabatnya (untuk berdakwah) bersabda:
يَسِّرُ وا وَ لاَ تُعَسِّرُ وا وَ بَشِّرُوا وَ لَاتُنَفِرُوا 
Mudahkan jangan kalian mempersulit berikan kabar gembira jangan buat mereka lari.
4.    Memperhatikan Penahapan Beban dan Hukum
                        Untuk mejadikan  aktivitas dakwah tidak memberatkan dan menawan hati mad’u, para da’i harus meperhatikan prinsip hokum penahapan baik dalam amar ma’ruf  maupun nahi mungkar. Hal ini sejalan dengan sunatullah dalam penciptaan makhluk dan mengikuti metode perundang-undangan hokum Islam. Dengan mengetahui bahwa manusia tidak senang untuk menghadapi perpindahan sekaligus dari suatu keadaan kepada keadaan lain yang asing. Maka al-Quran tidaj diturunkan sekaligus, melainkan surat demi surat dan ayat demi ayat, dan kadang-kadang menurut peristiwa-peristiwa yang menghendaki diturunkannya, agar dengan cara demikian lebih disenangi oleh jiwa dan lebih mendorong ke arah mentaatinya serta bersiap-siap untuk meninggalkan ketentuan-ketentuan lama untuk menerima hokum yang baru. Sebagai penahapan dalam hokum Islam, demikian pula aktivitas dakwah dijalankan.
                        Dalam hal ini, barangkali contoh yang paling tepat di antara penerapan terhadap pelarangan khamr, larangan minuman khamr dan judi pada mulanya belum diharamkan dengan tegas tetapi disebutkan bahwa pada khamr dan judi terdapat dosa yang besar dan ada kegunaan bagi orang banyak. Kemudian setelah jiwa mereka bisa menerima pertimbangan untung rugi minuman dan judi maka turun lagi firman Allah SWT:
sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).
5.    Memperhatikan Psikologi Mad’u
                        Mengingat bermacam-macam tipe manusia yang dihadapi da’i dan berbagai jenis antara dia dengan mereka serta berbagai kondisi psokologis mereka, setiap da’i yang mengharapkan sejuk dalam aktivitas dakwahnya harus memperhatikan kondisi psikologis mad’u.
                        Mohammad Natsir mengemukakan pendapat yang berkaitan dengan kondisi psikologis mad’u ini bahwa: pokok persoalan bagi seorang pembawa dakwah ialah bagaimana menentukan cara yanb tepat dan efektif dalam menghadapi suatu golongan tertentu dalam suatu keadaan dan suasana tertentu.
                        Seorang da’i harus memperhatikan kedududkan sosial penerima dakwah. Jika seorang da’i mencium adanya sikap memusuhi Islam dalam diri penerima dakwah, maka dengan alas an apa pun dia tidak boleh memperburuk situasi. Dia mesti berusaha sebisa-bisanya untuk menghilangkan sikap permusuhan tersebut.
                        Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan dalam pengembangan agama Islam, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.    Diperlukan dakwah dan strategi yang jitu, sehingga perubahan yang ada akibat jalannya dakwah tidak terjadi secara frontal, tetapi bertahap sesuai fitrah manusia.
b.    Dakwah Islam seharusnya dilakukan dengan menyejukkan, mencari titik persamaan bukan perbedaan, meringankan bukan memberatkan, memudahkan bukan mempersulit, menggembirakan bukan menakut-nakuti, bertahap dan berangsur-angsur bukan secara frontal, sebagaimana pola dakwah yang dialankan oleh Radulullah saw, ketika mengubah kehidupan jahiliah menjadi kehidupan Islamiyah.
c.    Dalam dakwah tidak mengenal kata keras kalau yang dimaksud kasar dan frontal.[1]

       Prinsip-prinsip dakwah menurut Achmad Mubarok dalam pengantarnya di buku Psikologi Dakwah terangkum dalam:
1.      Berdakwah itu harus dimulai dari diri sendiri (ibda’ binafsi) dan kemudian menjadikan keluarganya sebagai contoh bagi masyarakat.
2.      Secara mental da’i harus siap menjadi ahli waris para nabi yakni mewarisi perjuangan yang beresiko. Semua nabi harus mengalami kesulitan dalam berdakwah kepada kaumnya meski sudah dilengkapi mukjizat.
3.      Dai harus menyadari bahwa masyarakat membutuhkan waktu untuk dapat memahami pesan dakwah. Oleh karena itu, dakwah pun harus memperhatikan tahapa-tahapan sebagaimana dahulu nabi Muhammad harus melalui tahapan periode Makkah dan Madinah.
4.      Da’i juga harus menyelami alam pikiran masyarakat sehingga kebenaran Islam tidak disampaikan dengan menggunakan logika masyarakat.
5.      Dalam menghadapi kesulitan, dai harus bersabar, jangan bersedih atas kekafiran masyarakat, karena sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap pembawa kebenaran akan dilawan oleh orang kafir. Seorang dai hanya bisa mengajak, sedangkan yang memberi petunjuk adalah Allah.
6.      Citra positif dakwah akan sangat melancarkan komunikasi dakwah, sebaliknya citra buruk akan membuat semua aktivitas dakwah menjadi kontradiktif. Dalam hal ini, keberhasilan membangun komunitas Islam, meski kecil akan sangat efektif untuk dakwah.
7.      Dai harus memperhatikan tertib urutan pusat perhatian dakwah, yaitu prioritas pertama berdakwah dengan hal-hal yang bersifat universal yakni kebajikan, baru kepada amar ma’ruf kemudian nahi munkar.

       Sedangkan prinsip-prinsip dakwah jika ditinjau dari makna persepsi dari masyarakat secara jama’ adalah:
a.       Dakwah sebagai tabligh, wujudnya adalah ketika mubaligh menyampaikan ceramah atau pesan dakwah kepada masyarakat
b.      Dakwah sebagai ajakan
c.       Dakwah sebagai pekerjaan menanam, dapat diartikan mendidik manusia agar mereka bertingkah laku sesuai dengan hukum Islam
d.      Dakwah sebagai akulturasi nilai
e.       Dakwah sebagai pekerjaan membangun.[2]
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.    Konsep dakwah
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwah konsep dakwah terdapat hal-hal di bawah ini:
a.    Pengertian dakwah
Dakwah adalah suatu proses penyampaian, ajakan atau seruan kepada orang lain atau kepada masyarakat agar mau memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama secara sadar, sehingga membangkitkan dan mengembalikan potensi fitri orang itu, dan dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat.
b.    Hakikat dakwah
Hakekat dakwah, terpenting adalah untuk meluruskan dan mengarahkan serta mengajak kepada manusia agar mengikuti agama tauhid, dengan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan.
c.    Dasar hukum dakwah
Titik tolak untuk mendasari hukum dakwah adalah Al Qur’an dan As-Sunnah. Dari kedua dasar hukum tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dakwah merupakan suatu kewajiban bagi setiap manusia yang beragama Islam.
d.   Tujuan Dakwah
Dakwah merupakan suatu rangkaian kegiatan atau proses, dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan ini dimaksudkan untuk pemberi arah atau pedoman bagi gerak langkah kegiatan dakwah.
e.    Objek dakwah
Yang dimaksud dengan obyek dakwah adalah siapa yang diajak untuk melaksanakan ajaran agama dengan baik. Adapun obyek dakwah adalah seluruh umat manusia.
f.     Metode dakwah
Metode dakwah adalah cara mencapai tujuan dakwah, untuk mendapatkan gambaran tentang prinsip-prinsip metode dakwah harus mencermati firman Allah Swt, dan Hadits Nabi Muhammad Saw.
2.    Prinsip-prinsip dakwah
a.    Mencari Titik Temu atau Sisi Kesamaan
b.    Menggembirakan Sebelum Menakut-nakuti
c.    Memudahkan Tidak Mempersulit
d.   Memperhatikan Penahapan Beban dan Hukum
e.    Memperhatikan Psikologi Mad’u











DAFTAR RUJUKAN
Ilahi, Wahyu. 2010. Komunikasi Dakwah. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Munir, M. 2006. Metode Dakwah. Jakarta: Kencana
Chadijah Nasution, 1978, Bercerita Sebagai Metode Dakwah, Jakarta: Buan
          Bintang.
Slamet. 1994. Prinsip-prinsip Metodologi Dakwah. Surabaya: Al-Ikhlas
Syukir, Asmuni. 1983. Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam. Surabaya: Al-Ikhlas


[1] M. Munir. Metode Dakwah. (Jakarta: Kencana, 2009). Hlm, 50-59
[2] Wahyu Ilaihi. Komunikasi Dakwah. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010). Hlm, 22

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

GALERI

Photobucket