PESAN SINGKAT

Kamis, 15 Desember 2011

perilaku dakwah Rasulullah


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Pendahuluan
“Muhammad adalah suatu jiwa yang bijaksana dan pengaruhnya dirasakan dan tak akan dilupakan oleh orang orang di sekitarnya.” (Diwan Chand Sharma, seorang sarjana beragama Hindu, dalam bukunya The Prophets of the East (Nabi-nabi dari Timur).
Sejak diangkat menjadi nabi sekaligus sebagai Rasul yang di utus oleh Allah SWT, Nabi Muhammad SAW telah mendakwahkan pemikiran kepada warga kota Makkah. Beliau menanamkan kalimat tauhid Lâ ilâha illallâh kepada masyarakat kafir quraysi, agar masyarakat kala itu tidak lagi menyembah patung-patung berhala yang mereka buat sendiri kemudian mereka sembah. Rasulullah berusaha merubah mindset atau pola fikir mereka dengan kalimat tauhid tersebut.
Rasulullah telah mengubah pandangan mereka tentang kehidupan, dari cara pandang yang dangkal menuju cara pandang yang mendalam lagi jernih yang merupakan cerminan dari akidah Islam. Pandangan mereka tidak sebatas dunia, melainkan justru menembus negeri akhirat. Rasulullah saw mengubah pemikiran masyarakat bahwa Allah Swt tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya.
Begitu pula, pemikiran Islam yang ditanamkan Rasul tentang kehidupan setelah dunia telah mengubah persepsi tentang kebahagiaan pada diri umat, dari sekedar pemenuhan syahwat dengan segala kenikmatan dunia beralih kepada mencari ridha Allah Swt. Nampaklah kaum muslim binaan Nabi tidak takut akan kematian, dan berharap syahid di jalan Allah Swt.
Nabi Muhammad adalah nabi petunjuk bagi umat muslim dalam menjalankan berbagai aktifitasnya, termasuk dalam berdakwah. Maka bagaimana dakwah nabi Muhammad pada masa kejayaan Islam, itulah yang harus diteladani, nabi tidak menggunakan dan pemaksaan dalam dakwahnya. Nampaknya inilah  yang harus di update terus oleh kaumnya, hingga masa sekarang.

B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat di tentukan beberapa rumusan masalah dibawah ini, yaitu:
1.      Mengapa Rasulullah dijadikan sebagai teladan dakwah Islam?
2.      Bagaimana contoh perilaku dakwah Rasulullah?

C.      Tujuan Pembahasan
Dari rumusan masalah diatas maka dapat di tentukan beberapa tujuan pembahasan dibawah ini, yaitu:
1.         Mengetahui Mengapa Rasulullah dijadikan sebagai teladan dakwah Islam.
2.         Mengetahui contoh perilaku dakwah Rasulullah.















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Rasulullah Dijadikan Sebagai Teladan Dakwah Islam.
Satu hal yang logis dan tidak terbantah, bahwa Rasulullah saw adalah teladan kita di jalan dakwah. Dakwah kita adalah Islam dan tidak ada sesuatu yang kita dakwahkan selain Islam. Sedangkan Rasulullah adalah orang yang dipercaya oleh Allah untuk membawakan Islam ini kepada kita. Rasulullah adalah orang pertama yang merealisasikan dien ini dengan segala sisi dan tuntunannya. Itu dilakukan dengan pengawasan dan taujih (bimbingan) Allah swt. melalui perantaraan wahyu. Maka tak ada seorang pun yang lebih mengerti dan lebih memahami dien ini daripada Rasulullah. Beliaulah yang paling pantas diikuti dan diteladani oleh siapa saja yang hendak berdakwah mengharap ridho Allah swt.[1]
Tidak ada teladan terbaik dalam berdakwah selain dakwah Rasulullah saw. Bagaimana mungkin sebagai seorang rasul, jika perilaku dakwahnya tidak menjadi teladan bagi segenap para pengikutnya, apalagi kesuksesan-kesuksesan yang pernah dicapainya. Hanya 23 tahun beliau berhasil mengubah tatanan masyarakat Arab yang jahiliyyah kepada masyarakat Islam, dari masyarakat penyembah berhala kepada masyarakat penyembah Allah SWT, dari masyarakat gemar berjudi dan minum arak menjadi masyarakat yang taat kepada Allah dan rasul-nya, dari kemusyrikan kepada tauhid, dari perpecahan kepada persatuan.[2]
Adalah hampir diakui oleh semua pemikir di dunia, bahwa Muhammad merupakan satu-satunya pemimpin dunia yang memiliki keteladanan sangat tinggi bagi umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya. Kesuksesan beliau dalam memimpin, bukan hanya diakui oleh umat Islam, akan tetapi diakui juga oleh para ahli ketimuran (orientalis). Mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad saw bukan hanya sukses menjadi pemimpin agama, akan tetapi beliau juga sukses dalam memimpin negara.[3]
M. Hart dalam bukunya 100 tokoh terkemuka, ia menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai the first person. John Dollinger, sejak awal dunia ini tidak ada makhluk lain yang memiliki pengaruh luar biasa dalam hal religius, moral dan politik, seperti yang dimiliki Muhammad sang Arab. Tidak satupun dari dirinya yang tidak berimplikasi secara eksternal menjadi tauladan bagi umatnya, apa yang dia lakukan, dia katakan, bahkan cita-citakan menjadi penuntun dan pedoman hidup kaum muslimin. Beliau bukan hanya menyerukan manusia kepada kebenaran, melainkan beliau sendiri yang meneladankan kebenaran.[4]
Bagi umat Islam pengakuan akan keteladanan Rasulullah saw bukan hanya didasarkan pada hasil pengamatan kepada sejarah perjalanan hidup manusia, akan tetapi secara i’tiqodiyah (teologis), merupakan bagian dari keimanannya. Hal demikian difirmankan oleh Allah swt,
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Oleh sebab itu umat Islam hendaknya ber-ittiba’ meneladani nilai-nilai dakwah yang dipakai oleh Rasulullah saw.
Tatkala kita ber-ittiba’ kepada Rasulullah, berarti taat kepada Allah swt. karena pada hakekatnya semua yang datang dari beliau adalah atas bimbingan Allah swt. sebagaimana firman-Nya:
$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #uqolù;$# ÇÌÈ   ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ  
Artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
Kemudian yang perlu kita pertanyakan adalah apa saja yang menjadi sebab kesuksesan dakwah Rasulullah saw? Berikut penjelasannya.
Pertama, dakwah Rasulullah saw adalah dakwah etis (sesuai dengan etika). Ali mufrodi dalam tulisannya Sejarah dan Dakwah Nabi saw, sekurang-kurangnya ada dua nilai etis yang terpancar dari dakwah Nabi saw, yaitu nilai konsistensi dan nilai keteladanan. Yang dimaksud dengan nilai konsistensi adalah (1) bahwa Nabi saw selalu istiqomah, tetap pada pendirian, tanpa mengenal putus asa untuk terus berdakwah kendatipun berbagai tantangan, godaan, bujukan sampai kepada teror yang sering ia peroleh, (2) bahwa Nabi saw konsekuen dengan apa yang diucapkan tanpa harus menarik kembali apa yang didakwahkannya, karena memandang dirinya belum mampu/enggan mempraktekkannya. (3) adanya kesesuaian antara apa yang ia ucapkan dengan apa yang beliau perbuat, demikian pula sebaliknya apa yang ia perbuat itulah yang ia katakan.[5]
Sedangkan yang dimaksud keteladanan adalah bahwa Nabi saw merupakan orang pertama yang mempraktekkan apa yang didakwahkannya. Apabila ia menyuruh ibadah maka ibadah Nabi walaupun sudah mendapat jaminan ma’shum hampir seluruh waktu malamnya digunakan untuk ibadah, kalau beliau menyuruh agar membiasakan pola hidup sederhana maka ia tampakkan kesederhanaan itu dalam kehidupannya sehari-hari.[6]
Kedua, Nabi saw sangat mampu menjaga dan merawat kompetensinya, dan ini menjadi energi kekuatan yang melahirkan serangkaian perilaku etis dalam berdakwah. Sebagai contoh:
1.    Sejarah sering menyebutkan bahwa Nabi saw sangat pandai merawat spiritualnya sehingga tampak kekhusyu’an batinnya, ketenangan, kenyamanan dan kedamaian dari raut wajahnya, serta melahirkan sifat-sifatnya yang mulia.
2.    Keberhasilannya dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia di tengah kehidupan sosial masyarakat.
3.    Keteguhannya dalam menanamkan rasa percaya para jama’ah. Dalam sejarah hidupnya tidak pernah sekalipun melahirkan perilaku yang menurunkan wibawanya. Ini terpancar pada misi perjuangan dakwahnya yang tidak pernah berakhir serta kesinambungannya antara prinsip gerak dakwah pertama dengan prinsip-prinsip gerak dakwah selanjutnya.

Selain faktor-faktor di atas, faktor lain yang dapat dibaca dari keberhasilan dakwah Rasul adalah terletak pada prinsip-prinsip etika yang dijunjung tinggi ketika berdakwah.
Pertama, cara Rasul dalam merespon sebuah kemungkaran. Jika suatu kemungkaran dipandang masih bisa disampaikan dengan cara lemah-lembut dan simpatik, maka beliau akan menempuh cara tersebut, akan tetapi jika setelah diperhitungkan kondisinya membutuhkan ketegasan, maka beliau akan menempuhnya. Bahkan beliau juga akan menunjukkan roman muka merah karena marah untuk menekan pelaku kemungkaran supaya kembali ke jalan yang benar.[7]
Kedua, dalam melakukan amar ma’ruf nahyi mungkar, beliau selalu memperhatikan akibat yang ditimbulkan, jika sekiranya beliau beranggapan bahwa amar ma’ruf nahyi mungkar tersebut menimbulkan kemadharatan, maka beliau akan menahan diri untuk tidak melakukannya terlebih dahulu. Beliau akan melakukannya dengan menunggu waktu yang paling tepat, sehingga akan dapat diterima oleh orang yang diberi nasehat. Namun jika amar ma’ruf nahyi mungkar yang akan beliau sampekan dipandang tidak mengandung madharat, maka beliau akan segera menyampaikannya.[8]
Ketiga, dalam merespon sebuah kejadian (tindakan kesalahan), beliau tidak pernah bersikap kasar ataupun mencaci maki seseorang yang berbuat salah. Namun sebaliknya, beliau sangat lapang dada dan selalu memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Kalaupun beliau harus mengungkapkan rasa kesalnya terhadap sebuah kesalahan, maka beliau tidak langsung menunjuk hidung si pelaku.
Dari situ diperoleh beberapa poin hikmah penting dalam dakwahnya Rasulullah saw, yakni arahan secara bijaksana dengan melihat situasi dan kondisi, bertahap dalam menyampaikan pesan, mengambil yang paling ringan madharatnya di antara dua madharat, mengambil yang paling tinggi kemashlahatannya di antara dua mashlahat.[9]
Rasulullah saw memang sangat terkenal dengan akhlaknya yang agung. Dikalangan kafir Quraisy sendiri mengakui akan kejujuran beliau, sampai diberi gelar al-Amin (jujur). Allah swt juga menegaskan dalam al-Qur’an akan kebagusan perangai beliau,
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã
Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam: 4).

B.       Contoh perilaku dakwah Rasulullah
1.    Model Implementasi Unsur Etis dalam Dakwah Rasul terhadap Umat Muslim
Berikut adalah beberapa uraian yang mengilustrasikan praktek dakwah Rasul saw terhadap umat Islam:
a)    Aktivitas dakwah dalam memberikan arahan tentang shalat
Jika Rasulullah melihat ada salah seorang sahabat melakukan kesalahan dalam shalatnya maka beliau akan langsung memberitahukan kesalahan tersebut dengan cara yang bijak dan lemah lembut.[10]
Suatu ketika Rasulullah tidak sempat mengimami shalat jama’ah karena suatu urusan, waktu itu iqomah sudah dikumandangkan dengan secara terpaksa Abu Bakar ditunjuk jama’ah untuk menjadi imam shalat. Setelah beberapa saat berlangsung kemudian tibalah Rasulullah ke masjid untuk shalat, jama’ah yang sempat melihat Rasul spontan bereaksi, diantaranya mereka lakukan tepuk tangan untuk mengingatkan imam. Rasul pun menghampiri shaf terdepan sehingga Abu Bakar pun sempat menolehnya. Tapi Rasul memberikan isyarat agar shalat tetap dilanjutkannya, sehingga Abu Bakar pun melanjutkannya, tapi setelah memuji Allah Abu Bakar mundur dari posisi imamnya hingga Nabi maju ke depan dan memimpin shalat hingga selesai. Setelah shalat selesai Rasul bertanya kepada Abu Bakar, mengapa kau tidak melanjutkan shalat hingga selesai? Kata Abu Bakar: “apa pantas bagiku untuk shalat di depan Rasulullah?” kemudian Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “ mengapa kalian bertepuk tangan, isyarat tepuk tangan itu hanya untuk kaum wanita sedangkan bagi laki-laki hendaknya mengucapkan tasbih.”
Suatu ketika Rasul masuk masjid untuk melakukan shalat, tiba-tiba seorang sahabatpun menyusul masuk masjid juga untuk melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat si sahabat itu menjumpai Rasul seraya mengucapkan salam, setelah salamnya dijawab Rasul berkata: “ulangilah shalatmu karena dengan shalatmu seperti tadi, sama saja dengan belum melaksanakan shalat!”, orang itupun mengulangi shalatnya. Setelah selesai kembali ia menjumpai Nabi seraya mengucapkan salam. Persis sama peristiwanya dengan yang pertama, ia pun kembali disuruh mengulangi shalatnya, hal itu hingga tiga kali. Setelah itu Rasul menjelaskan, shalat itu hendaknya dilakukan dengan tuma’ninah, setelah berdiri lakukan takbiratul ihram, kemudian ruku’ yang tuma’ninah, berdiri tegak tuma’ninah, sujud tuma’ninah demikian pula duduk dengan tuma’ninah”. Berdasarkan riwayat ini cara dakwah Rasul dengan cara mengoreksi kekeliruan sahabatnya, seraya menyuruhnya untuk mengulang shalat hingga 3x, hal itu untuk memastikan kesalahan yang dilakukan sahabat apakah karena lupa atau memang belum mengetahuinya.
Rasul pernah menegur ketika melihat ada orang begitu tergesa-gesa pergi ke masjid lantaran takut ketinggalan rakaat pertama. Kata Rasul, kalau diantara kamu melihat ada orang begitu tergesa-gesa karena tidak mau ketinggalan raka’at pertama, hendaklah segera diingatkan, sarankan agar ia berjalan lebih tenang. Kalau memang ternyata ketinggalan rakaat pertama, maka hendaklah menyempurnakannya.
Rasulullah juga pernah menegur Muadz bin Jabal karena saat menjadi Imam ia membaca surat yang panjang sehingga menimbulkan keresahan pada jama’ahnya. Kata Rasul, hai Muadz apakah kamu ingin menjadi tukang fitnah, engkau memanjangkan bacaan surat dalam shalat padahal di belakangmu itu ada orang lanjut usia, anak-anak kecil dan orang sakit. Memang memanjangkan bacaan itu sunnah, tapi kalau karena hanya ingin mengejar sunnah kemudian mengganggu yang wajib bagi para jama’ahnya sama dengan anda telah melakukan fitnah.
b)   Cara Rasul mengajarkan etika berbusana
Rasulullah melarang menggunakan pakaian yang kotor, sebab bisa mengganggu pandanngan mata atau baunya yang akan mengganggu orang lain. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a. dia berkata, Rasulullah datang mengunjungi rumah kami lantas beliau menyaksikan ada seorang laki-laki yang rambutnya acak-acakan, maka beliau bersabda, “ apa anda tidak mempunyai sesuatu yang bisa digunakan untuk merapikan rambut?”. Rasulullah juga melihat seorang laki-laki berpakaian kotor, maka beliau pun bersabda: “apa ia tidak mempunyai sesuatu yang bisa dipakai untuk mencuci pakaiannya”.
c)    Cara Rasul menegur laki-laki yang menyerupai wanita dan sebaliknya
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a Rasulullah telah melaknat kaum pria yang berperilaku seperti wanita atau sebaliknya. Bahkan beliau bersabda: keluarkan dia dari rumahmu! Rasulullah telah mengusir si Fulan yang kebanci-bancian.
Orang-orang banci itu penyakit sosial, sebab mereka itu tidak bisa dikatakan pria sepenuhnya yang bisa dimanfaatkan oleh bangsa. Namun juga tidak bisa dikatakan wanita tulen sehingga memiliki kemampuan mendidik suatu generasi yang shaleh. Perilaku banci merupakan penyimpangan perilaku yang diakibatkan oleh beberapa faktor diantaranya:
1)   Mungkin seorang ibu memasrahkan tugas keibuannya pada pembantu sehingga salah didik.
2)   Mungkin anak laki-laki itu memiliki beberapa saudara perempuan, sehingga dia pun suka ikut-ikutan menjahit dan berlogat bahasa mereka.
d)   Cara Rasul menegur praktek dagang yang menipu
Rasulullah tak segan-segan memukul orang yang melanggar syari’at serta menyita harta sebagai hukuman bagi pelanggar syari’at dalam transaksi perdagangan. Pelanggaraan syariat itu seperti jual beli barang haram (haram dimakan, diminum), jual beli yang mengandung unsur riba.
Rasulullah saw jika melewati seorang pedagang, maka beliau selalu memeriksa barang dagangannya. Jika beliau melihat ada unsur penipuan yang merugikan pembeli, beliau akan langsung menegur dan memberinya nasihat. Bukan hanya itu, Rasulullah juga menunjukkan bagaimana cara dagang yang benar.
Uraian di atas hanyalah sekelumit tentang cara dakwah Rasul yang mengantarkan pada keberhasilannya, faktor-faktor kesuksesan lainnya juga ditopang oleh mentalitas, sikap, karakter, perangai, budi pekerti yang umumnya sarat dengan nilai keteladanan.
2.    Model Implementasi Unsur Etis dalam Dakwah Rasul terhadap Umat Non Muslim
Dakwah bermaksud untuk menyatakan dan tabligh bermakna menyampaikan. Allah telah memerintahkan kita untuk menyatakan atau menyampaikan  Kalimah Mulia kepada mereka yang belum mengucapkan Kalimah Mulia. Kalimah Mulia adalah aku bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah Nabi Allah. Dakwah atau Tabligh adalah perintah pertama Allah dan itu adalah yang paling mudah untuk dilakukan. Satu-satunya prasyarat untuk melakukan dakwah, ialah orang yang tahu Kalimah Mulia. Ia tidak memiliki prasyarat lain selain mengetahui Kalimah Mulia. Seseorang selepas membaca Kalimah Mulia mempunyai tanggungjawab untuk menyampaikan Kalimah Mulia kepada orang lain yang belum mengucapkan Kalimah. Nabi Muhammad saw mengatakan dalam arti, sampaikan dariku  walau kamu tahu hanya satu ayat. Menyampaikan Kalimah Mulia kepada orang lain adalah perintah Allah dan itu adalah perintah Allah yang pertama  seseorang harus melakukan selepas dia masuk Islam. Perintah pertama Allah bukan menunaikan sembahyang lima kali sehari. Perintah pertama Allah adalah untuk menyampaikan Kalimah Mulia kepada mereka yang belum menerima Kalimah Mulia.
Perintah pertama hanya untuk menyatakan atau menyampaikan  Kalimah Mulia kepada orang lain yang belum menerima Kalimah dan bukan untuk membuat orang untuk memeluk agama Islam. Perintah  yang sangat ringkas dan itu adalah yang paling mudah untuk dilakukan bila dibandingkan dengan semua perintah Allah. Setiap orang yang mengetahui Kalimah Agung harus mampu menyampaikan Kalimah kepada orang lain. Perintah hanya untuk menyampaikan dan bukan untuk membuat orang itu untuk memeluk agama Islam. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kecuali Allah. Siapa pun yang Allah ingin memberi petunjuk  akan mendapatkan petunjuk dan sesiapa sahaja yang Allah ingin menjadi sesatkan akan sesat. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kecuali Allah. Hanya Allah memerintahkan kita untuk menyampaikan dan Allah tidak memerintahkan kita untuk memberi petunjuk. Kerja  yang memberi petunjuk  adalah pekerjaan Allah dan kita hanya diperintah untuk menyampaikan atau untuk menyampaikankan  Kalimah Mulia kepada orang lain. Jika kita berfikir bahawa Allah telah memerintahkan kita untuk menjadikan orang bukan Islam masuk Islam maka kita menjadikannya kerja yang sangat berat. Kerja menukar bukan Islam menjadi  Muslim adalah kerja Allah. Ketika kita telah mengambil kerja Allah, maka perintah ini menjadi sangat berat pada kita. Kita akan membuat pelbagai alasan untuk tidak melakukan kerja dakwah.
Kini Muslim percaya bahawa hanya para ulama boleh melakukan kerja dakwah. Mereka juga percaya bahawa muslim  terlebih dahulu menjadi baik sebelum kita boleh memberikan dakwah kepada bukan Islam.  Dakwah bererti untuk menyampaikankan Kalimah Agung kepada bukan Islam, usaha dakwah harus dilakukan oleh semua muslim dan bukan hanya para ulama. Allah telah membuat usaha dakwah wajib bagi semua Muslim dan selepas masuk Islam; perintah pertama ialah melakukan dakwah. Ketika seseorang melakukan kerja dakwah, Allah akan membuat iman kita menjadi kuat. Ketika Abu Bakar masuk Islam, yang pertama  Nabi Muhammad saw memintanya agar menyampaikan  Kalimah Mulia kepada orang lain. Pada hari yang sama, Abu Bakar masuk Islam beliau telah menyampaikan Kalimah Mulia kepada banyak orang lain yang belum mengucapkan Kalimah dan beberapa daripada mereka memeluk Islam. Sebaliknya, kita menyuruh  orang yang baru memeluk Islam untuk bersolat  lima kali sehari dan tidak  untuk menyampaikan Besar Kalimah kepada orang lain. Kita percaya bahawa perintah Allah pertama adalah untuk melakukan solat lima kali sehari dan tidak untuk menyampaikan Kalimah Agung. Ketika seseorang setelah masuk Islam dan tidak melakukan pekerjaan menyampaikan Kalimah Mulia, maka iman nya akan menjadi lemah. Pertama, iman mereka harus diperkuatkan dengan mengajak mereka untuk melakukan pekerjaan menyampaikan  Kalimah Mulia dan ketika iman mereka meningkat maka hanya kita menyuruh mereka untuk melakukan sembahyang lima kali sehari.
Dakwah bererti menyatakan, tabligh bermakna menyampaikan Kalimah Mulia, dan merupakan perintah pertama Allah kepada semua umat Islam. Ini adalah perintah Allah termudah. Allah telah memerintahkan semua umat Islam untuk melakukan dakwah bahkan jika mereka tahu hanya Kalimah Mulia . Allah telah memberikan kerja dakwah atau tabligh untuk semua muslim dan semua muslim mampu melakukan pekerjaan dakwah. Allah telah membuat usaha dakwah ringkas  dan mudah kerana itu adalah cara untuk mendapatkan iman. Iman adalah hal yang paling berharga bahawa semua orang harus memiliki. Tanpa iman, Allah tidak akan menerima amalsmanusia. Tanpa iman, orang akan hidup dalam penderitaan di dunia ini dan di akhirat akan harus pergi ke api neraka. Iman adalah hal yang paling penting bahawa keperluan manusia. Kerana iman adalah sangat penting dan merupakan keperluan semua umat manusia, Allah telah membuat pekerjaan mendapat  iman yang ringkas  dan mudah. Ketika seseorang selepas mengucapkan Kalimah Mulia dan menyampaikan Kalimah Mulia kepada orang lain maka Allah akan memberi  iman yang kuat. Saat ini muslim memiliki iman sangat lemah kerana mereka telah meninggalkan pekerjaan menyampaikan Kaliamh Mulia kepada orang lain. Mereka telah meninggalkan pekerjaan dakwah kerana mereka percaya bahawa pekerjaan dakwah adalah untuk membuat bukan Islam menjadi muslim. Hanya Allah  yang akan membuat bukan Islam untuk menjadi Muslim dan Allah telah memerintahkan kita hanya untuk menyampaikan Kalimah Mulia bukan Islam .. Sama ada orang  bukan Islam tidak masuk Islam atau tidak, tetapi  kita telah menyampaikan Kalimah Mulia menjadi muslim kita berjaya kerana kita sudah menuruti perintah Allah.
Ketika kita berkata kepada bukan Islam, masuk Islam dan bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Nabi Allah, tentu saja, kita akan berjaya, maka kita telah menyampaikan Kalimah Mulia. Dakwah adalah tugas yang sangat mudah untuk dilakukan. Tidak memerlukan pengetahuan melainkan mengetahui Kalimah Agung. Ketika kita melakukan dakwah, kami tidak bertanggung jawab untuk meyakinkan mereka tentang Islam dan kami tidak bertanggung jawab untuk membuat mereka untuk masuk Islam. Ketika kita melakukan dakwah, kita hanya bertanggungjawab untuk menyampaikan Kalimah Mulia kepada mereka. Dalam hal mereka menolak, maka kita berdoa agar Allah memberi mereka hidayah untuk masuk Islam. Untuk melakukan dakwah kita perlu lakukan hanya sekali. Bahkan orang miskin boleh melakukan dakwah. Kita harus memberi masa  minimum 45 minit setiap hari untuk melakukan kerja dakwah. Ketika kita bertemu dengan orang bukan Islam, kita dakwahkan Kalimah dan ketika kita bertemu muslim, kami saling mengingatkan tentang Allah dan mengajak  dia untuk melakukan kerja dakwah. Jika anda berminat  untuk mempelajari usaha dakwah dan kerja umat Islam mengingatkan pentingnya usaha  dakwah
Bimbingan Alquran Tentang Tata cara berdakwah kepada Non-Muslim
1.      Q. S. Ali Imran ayat 64
ö@è% Ÿ@÷dr'¯»tƒ É=»tGÅ3ø9$# (#öqs9$yès? 4n<Î) 7pyJÎ=Ÿ2 ¥ä!#uqy $uZoY÷t/ ö/ä3uZ÷t/ur žwr& yç7÷ètR žwÎ) ©!$# Ÿwur x8ÎŽô³èS ¾ÏmÎ/ $\«øx© Ÿwur xÏ­Gtƒ $uZàÒ÷èt/ $³Ò÷èt/ $\/$t/ör& `ÏiB Èbrߊ «!$# 4 bÎ*sù (#öq©9uqs? (#qä9qà)sù (#rßygô©$# $¯Rr'Î/ šcqßJÎ=ó¡ãB ÇÏÍÈ  
Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

Dalam ayat ini, Allah SWT. mengajak mereka kepada perkara lain yang merupakan masalah pokok agama dan intinya, yang telah disepakati oleh semua Nabi. Yaitu, persamaan dan keadilan antara kedua belah pihak secara seimbang, tidak berat sebelah, yaitu beribadah hanya kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya. Tatkala mereka berpaling, Allah SWT. memerintahkan Nabi agar mengatakan kepada mereka, “Saksikanlah oleh kamu, bahwa kami adalah orang-orang muslim.”
Katakanlah (wahai Muhammad), wahai orang-orang ahlul Kitab, ke sinilah kalian, dan bersepakatlah pada suatu perkataan yang adil, yang telah disepakati oleh para Rasul dan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka. Hal ini diperintahkan oleh Taurat, Injil serta al-Qur`an.
Kita tidak akan tunduk kecuali hanya kepada Tuhan yang mempunyai kekuasaan dan mutlak dalam menentukan syariat dan yang mempunyai wewenang menghalalkan dan mengharamkan. Kita hendaknya tidak menyekutukan Allah dengan apapun dan sebagian dari kita tidak mengambil sebagian lainnya sebagai Tuhan-tuhan selain Allah SWT.
Ayat ini mengandung tauhid dalam ketuhanan, seperti yang tersurat dalam firman-Nya (Alla Na`budu illAllah), serta tauhid dalam ketuhanan yang tersurat dalam firman-Nya (Wa la yattakhizu ba`duna arbaaban min duunillah).
Objek ini telah disepakati dalam semua agama. Nabi Ibrahim telah datang dengan membawa ajaran Tauhid. Nabi Musa juga datang dengan membawa agama Tauhid. Dalam Taurat telah disebutkan dengan mengutip firman Allah, sesungguhnya Allah adalah Tuhanmu, janganlah kamu mempunyai Tuhan lain di hadapan-Ku. Janganlah kamu membuat patung pahatan untukmu, dan juga gambar apapun, berupa apapun yang ada di langit atas dan di bumi bawah. Janganlah kamu bersujud kepadanya dan janganlah kamu menyembahnya.
Bila mereka menolak dan berpaling dari ajaran ini, hanya menyembah kepada selain Allah, dan mengambil para sekutu, para perantara, Tuhan-tuhan yang menghalalkan dan mengharamkan, maka katakanlah kepada mereka, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang taat kepada Allah lagi ikhlas. Kami tidak menyembah siapapun kecuali Allah SWT. Dan kami tidak memohon kepada selain-Nya dalam meminta suatu manfaat atau menolak bahaya. Kami tidak menghalalkan sesuatu kecuali yang telah dihalalkan Allah, dan tidak mengharamkan kecuali apa yang diharamkan-Nya.
Dari penjelasan Ahmad Mushtafa al-Maraghiy tentang ayat di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa maksud Allah dari ayat di atas adalah agar dakwah Islam yang mulia ini disebarkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, dengan cara kita kenalkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Allah SWT. dan bahwa bumi tempat kita hidup ini adalah kepunyaan-Nya. Maka wajar dan wajiblah bagi kita sebagai makhluk-Nya untuk menyembah dan bersujud kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.
2. Q. S. al-Maidah ayat 15
Ÿ@÷dr'¯»tƒ É=»tGÅ6ø9$# ôs% öNà2uä!$y_ $oYä9qßu ÚúÎiüt7ムöNä3s9 #ZŽÏWŸ2 $£JÏiB öNçFYà2 šcqàÿøƒéB z`ÏB É=»tGÅ6ø9$# (#qàÿ÷ètƒur Ætã 9ŽÏVŸ2 4 ôs% Nà2uä!%y` šÆÏiB «!$# ÖqçR Ò=»tGÅ2ur ÑúüÎ7B ÇÊÎÈ  
Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.

Sebab turun ayat ini adalah sebagaimana terdapat dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi Muhammad SAW. didatangi oleh orang-orang Yahudi yang bertanya tentang hukum rajam. Nabi SAW. bertanya : ‘’Siapa di antara kalian yang paling alim ?’’, mereka menunjuk Ibnu Shuriya, Nabi SAW. meminta kepadanya untuk menjawab dengan sebenarnya sambil bersumpah atas nama Allah yang menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, yang mengangkat gunung Thur dan menetapkan sepuluh janji yang telah diterima oleh mereka serta menggemparkan mereka. Berkatalah Ibnu Shuriya : Ketika telah banyak kaum kami yang mati dirajam karena zina, kami tetapkan hukum dera seratus kali dan kami cukur kepalanya. Maka ditetapkanlah kembali kepada kaum Yahudi hukum rajam. Lalu turunlah ayat ini (surat al-Maidah : 15), sebagai peringatan kepada orang yang telah melalaikan hukum-hukum Allah SWT.
Setelah Allah menerangkan, bahwa Dia telah mengambil janji orang-orang Yahudi dan Nasrani, seperti yang telah Dia ambil pula dari umat islam; dan bahwa mereka ternyata melanggar janji dan sumpah tersebut, dan tidak lagi melaksanakan apa yang telah diperintahkan kepada mereka, bahkan mereka buang sebagian besar wahyu yang telah Dia turunkan kepada mereka. Dan setelah itu Allah menyeru mereka untuk beriman kepada Nabi Muhammad SAW. dan kepada kitab yang dibawanya.
Maksud ayat, hai ahli Kitab, sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu, Muhammad Rasulullah dan pemungkas para Nabi itu, yang menerangkan kepadamu sebagian besar dari hukum-hukum yang kamu sembunyikan, yang dulu sudah diturunkan Allah kepadamu. Tetapi, kamu enggan melaksanakannya.
An-Nur (cahaya) di sini yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW. Dikatakan demikian, karena beliau menerangi hati sebagaimana cahaya menerangi mata. Dan sebagaimana tanpa cahaya, maka mata tak akan dapat melihat barang apapun yang dapat dilihat, maka begitu pula, andaikan tak ada wahyu yang di bawa oleh Muhammad SAW., tentu hati siapapun tak akan tahu hakikat agama yang sebenarnya, baik dari kalangan ahli Kitab sendiri maupun dari kalangan lainnya. Dan tentu mereka tidak akan tahu perubahan apa yang dialami oleh kitab taurat dan Injil, baik berupa hilangnya sebagian isi maupun dilupakannya dengan sengaja. Juga kecerobohan para pemuka agama terhadap sebagian yang lain, dengan menyembunyikan sebagian isi Kitab atau merubahnya. Dan tentulah mereka akan tetap berada dalam kebodohan dan kekafiran yang gelap gulita, tanpa dapat melihat cahaya kebenaran.
Al-Kitabu al-Mubiin (Kitab yang menerangkan), ialah al-Qur`an al-Karim, karena al-Qur`an itu sendiri jelas dan menjelaskan apa saja yang diperlukan umat manusia, sehingga mereka mendapat petunjuk. Membawa mereka kepada jalan keselamatan (jalan yang selamat dari segala rasa takut).




3. Q. S. al-A`raf ayat 157
tûïÏ%©!$# šcqãèÎ7­Ftƒ tAqߧ9$# ¢ÓÉ<¨Z9$# ¥_ÍhGW{$# Ï%©!$# ¼çmtRrßÅgs $¹/qçGõ3tB öNèdyYÏã Îû Ïp1uöq­G9$# È@ÅgUM}$#ur NèdããBù'tƒ Å$rã÷èyJø9$$Î/ öNßg8pk÷]tƒur Ç`tã ̍x6YßJø9$# @Ïtäur ÞOßgs9 ÏM»t6Íh©Ü9$# ãPÌhptäur ÞOÎgøŠn=tæ y]Í´¯»t6yø9$# ßìŸÒtƒur öNßg÷Ztã öNèduŽñÀÎ) Ÿ@»n=øñF{$#ur ÓÉL©9$# ôMtR%x. óOÎgøŠn=tæ 4 šúïÏ%©!$$sù (#qãZtB#uä ¾ÏmÎ/ çnrâ¨tãur çnrã|ÁtRur (#qãèt7¨?$#ur uqZ9$# üÏ%©!$# tAÌRé& ÿ¼çmyètB   y7Í´¯»s9'ré& ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÎÐÈ  
(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

Dalam memahami ayat ini, Imam Syafi`i berkata: Dikatakan Allah maha tahu dosa-dosa mereka serta apa yang dilarang bagi mereka sebab apa yang mereka perbuat. Dikatakan, apa yang disyariatkan dari agama Muhammad SAW.
Tidak ada makhluk yang berakal sejak Allah mengutus Muhammad SAW., baik itu Ahli Kitab, penyembah berhala atau orang yang hidup dengan ruh dari golongan jin dan manusia, yang sampai kepadanya dakwah Muhammad SAW., kecuali pasti hujjah Allah dihadapkan kepadanya dengan mengikuti agamanya. Orang beriman sebab mengikuti Nabi, dan orang kafir sebab tidak mengikuti Nabi.
Setiap orang baik yang beriman maupun yang kafir dikenai ketetapan pengharaman apa yang diharamkan Allah melalui lisan Nabi-Nya, yang sebelumnya mubah dalam suatu ajaran agama atau tidak mubah dan penghalalan apa yang dihalalkan Allah melalui lisan Muhammad SAW. yang sebelumnya haram menurut satu ajaran agama atau tidak haram.
Imam Syafi`i berkata lagi, dikatakan; semua itu diharamkan atas mereka sampai mereka beriman. Tidak sepatutnya semua itu diharamkan atas mereka, sedangkan apa yang berbeda dari agama Muhammad itu telah dihapus dengan agama-Nya. Sebagaimana tidak boleh dikatakan, dulu khamar halal bagi mereka sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW., meskipun mereka tidak masuk agama Nabi.
Jadi, dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi-nabi dan Rasul-rasul terdahulu telah disempurnakan oleh syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., apa yang dilarang oleh ajaran Nabi Muhammad sekarang wajib untuk ditaati oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena ajaran Rasulullah sekarang adalah sama dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul-rasul terdahulu, yaitu mengajak kepada tauhid dan agama yang lurus.

4.      Q. S. Asy-Syura ayat 15
šÏ9ºs%Î#sù äí÷Š$$sù ( öNÉ)tFó$#ur !$yJŸ2 |NöÏBé& ( Ÿwur ôìÎ7®Ks? öNèduä!#uq÷dr& ( ö@è%ur àMZtB#uä !$yJÎ/ tAtRr& ª!$# `ÏB 5=»tGÅ2 ( ßNöÏBé&ur tAÏôãL{ ãNä3uZ÷t/ ( ª!$# $uZš/u öNä3š/uur ( !$uZs9 $oYè=»yJôãr& öNä3s9ur öNà6è=»yJôãr& ( Ÿw sp¤fãm $uZoY÷t/ ãNä3uZ÷t/ur ( ª!$# ßìyJøgs $uZoY÷t/ ( Ïmøs9Î)ur 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÎÈ  
Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplahsebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya Berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".

Oleh karena itu, dia (Muhammad) tidak perlu gusar dan merasa sesak dada kalau mereka itu masih tetap ingkar dan tak mau beriman, karena bagaimanapun juga dia (Muhammad) tidak memaksa mereka untuk beriman dan memperoleh kecuali hal itu dikehendaki Allah.
Dengan ayat ini, Rasulullah SAW. Sudah diberi dua perintah pokok, pertama; Dakwah diteruskan, ajakan dan seruan tidak boleh berhenti. Kedua; pendirian teguhkan, tegak lurus dengan keyakinan kepada Tuhan (Istiqamah), karena suatu dakwah tidak akan jaya, kalau yang berdakwah tidak mempunyai istiqamah (pendirian teguh) dan sebagai lanjutannya jangan diikuti, jangan dipedulikan hawa nafsu mereka yang hendak membawa kepada pertengkaran yang sangat menghabiskan tenaga dan hendaklah dijelaskan pendirian. Pendirian yang tidak digoyahkan oleh gelora hawa nafsu lawan. Pendirian itu adalah: Dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya Berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali.
Ayat ini menjelaskan bahwa, walaupun dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. banyak mendapatkan tantangan dari kafir Quraisy, namun Allah SWT. memberikan sokongan kepada Nabi agar tetap gigih dan istiqamah dalam berpegang kepada tauhid dan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia sekalipun ada di antara mereka yang enggan menerima.

Kesimpulan :
Dari uraian-uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya semua ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi-nabi dan Rasul-rasul terdahulu adalah sama, yaitu sama-sama mengajak kepada tauhid dan beriman kepada Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT.
Dalam menyampaikan kebenaran agama Islam kepada non muslim (Yahudi dan Nasrani) dan menegakkan amar ma`ruf nahiy munkar di muka bumi, haruslah memiliki pendirian yang teguh dan penuh dengan kesabaran, karena banyak tantangan dan hambatan yang harus dilalui.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak pernah senang dengan agama Islam termasuk umatnya. Namun, umat Islam sendiri sangat menginginkan mereka untuk masuk ke dalam agama Islam, supaya mereka juga berada dalam agama keselamatan (selamat dari rasa ketakutan) yang penuh rahmat dari Allah SWT.
















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1.    Karena Sejarah sering menyebutkan bahwa Nabi saw sangat pandai merawat spiritualnya sehingga tampak kekhusyu’an batinnya, ketenangan, kenyamanan dan kedamaian dari raut wajahnya, serta melahirkan sifat-sifatnya yang mulia. Keberhasilannya dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia di tengah kehidupan sosial masyarakat. Keteguhannya dalam menanamkan rasa percaya para jama’ah. Dalam sejarah hidupnya tidak pernah sekalipun melahirkan perilaku yang menurunkan wibawanya. Ini terpancar pada misi perjuangan dakwahnya yang tidak pernah berakhir serta kesinambungannya antara prinsip gerak dakwah pertama dengan prinsip-prinsip gerak dakwah selanjutnya.
2.    Model Implementasi Unsur Etis dalam Dakwah Rasul terhadap Umat Muslim dan umat non muslim menggunakan beberapa metode.














DAFTAR PUSTAKA

Enjang. 2009. Etika Dakwah. Bandung: Widya Padjadjaran.
Departemen Agama RI. 1989.  Al Qur’an dan Tejemahannya. Surabaya:Mahkota.
Masyhur, Musthafa. 2001. Teladan di Medan Dakwah. Solo: Era Intermedia.



[1] Musthafa Masyhur, Teladan di Medan Dakwah (Solo: Era Intermedia, 2001), hal 60.
[2] Enjang, Etika Dakwah (Bandung: Widya Padjadjaran, 2009), hal. 71.
[3] Ibid. hal. 71.
[4] Ibid. hal. 71.
[5] Ibid, hal. 72.
[6] Ibid, hal. 73.
[7] Ibid, hal. 74.
[8] Ibid. hal. 74.
[9] Ibid, hal. 75.
[10] Ibid, hal. 75

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

GALERI

Photobucket