BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pendahuluan
“Muhammad adalah
suatu jiwa yang bijaksana dan pengaruhnya dirasakan dan tak akan dilupakan oleh
orang orang di sekitarnya.” (Diwan Chand Sharma, seorang sarjana beragama
Hindu, dalam bukunya The Prophets of the East (Nabi-nabi dari Timur).
Sejak
diangkat menjadi nabi sekaligus sebagai Rasul yang di utus oleh Allah SWT, Nabi
Muhammad SAW telah mendakwahkan pemikiran kepada warga kota Makkah. Beliau
menanamkan kalimat tauhid Lâ ilâha illallâh kepada masyarakat kafir
quraysi, agar masyarakat kala itu tidak lagi menyembah patung-patung berhala
yang mereka buat sendiri kemudian mereka sembah. Rasulullah berusaha merubah
mindset atau pola fikir mereka dengan kalimat tauhid tersebut.
Rasulullah
telah mengubah pandangan mereka tentang kehidupan, dari cara pandang yang
dangkal menuju cara pandang yang mendalam lagi jernih yang merupakan cerminan
dari akidah Islam. Pandangan mereka tidak sebatas dunia, melainkan justru
menembus negeri akhirat. Rasulullah saw mengubah pemikiran masyarakat bahwa
Allah Swt tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah
kepada-Nya.
Begitu
pula, pemikiran Islam yang ditanamkan Rasul tentang kehidupan setelah dunia
telah mengubah persepsi tentang kebahagiaan pada diri umat, dari sekedar
pemenuhan syahwat dengan segala kenikmatan dunia beralih kepada mencari ridha
Allah Swt. Nampaklah kaum muslim binaan Nabi tidak takut akan kematian, dan
berharap syahid di jalan Allah Swt.
Nabi
Muhammad adalah nabi petunjuk bagi umat muslim dalam menjalankan berbagai
aktifitasnya, termasuk dalam berdakwah. Maka bagaimana dakwah nabi Muhammad
pada masa kejayaan Islam, itulah yang harus diteladani, nabi tidak menggunakan
dan pemaksaan dalam dakwahnya. Nampaknya inilah yang harus di update terus oleh kaumnya,
hingga masa sekarang.
B.
Rumusan Masalah
Dari
latar belakang diatas maka dapat di tentukan beberapa rumusan masalah dibawah
ini, yaitu:
1.
Mengapa Rasulullah dijadikan sebagai
teladan dakwah Islam?
2.
Bagaimana contoh perilaku dakwah
Rasulullah?
C.
Tujuan Pembahasan
Dari
rumusan masalah diatas maka dapat di tentukan beberapa tujuan pembahasan
dibawah ini, yaitu:
1.
Mengetahui Mengapa Rasulullah dijadikan
sebagai teladan dakwah Islam.
2.
Mengetahui contoh perilaku dakwah
Rasulullah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Rasulullah Dijadikan Sebagai
Teladan Dakwah Islam.
Satu hal yang logis
dan tidak terbantah, bahwa Rasulullah saw adalah teladan kita di jalan dakwah.
Dakwah kita adalah Islam dan tidak ada sesuatu yang kita dakwahkan selain
Islam. Sedangkan Rasulullah adalah orang yang dipercaya oleh Allah untuk
membawakan Islam ini kepada kita. Rasulullah adalah orang pertama yang
merealisasikan dien ini dengan segala sisi dan tuntunannya. Itu dilakukan
dengan pengawasan dan taujih (bimbingan) Allah swt. melalui perantaraan wahyu.
Maka tak ada seorang pun yang lebih mengerti dan lebih memahami dien ini
daripada Rasulullah. Beliaulah yang paling pantas diikuti dan diteladani oleh
siapa saja yang hendak berdakwah mengharap ridho Allah swt.[1]
Tidak ada teladan terbaik dalam berdakwah selain dakwah Rasulullah saw.
Bagaimana mungkin sebagai seorang rasul, jika perilaku dakwahnya tidak menjadi
teladan bagi segenap para pengikutnya, apalagi kesuksesan-kesuksesan yang
pernah dicapainya. Hanya 23 tahun beliau berhasil mengubah tatanan masyarakat Arab
yang jahiliyyah kepada masyarakat Islam, dari masyarakat penyembah berhala
kepada masyarakat penyembah Allah SWT, dari masyarakat gemar berjudi dan minum
arak menjadi masyarakat yang taat kepada Allah dan rasul-nya, dari kemusyrikan
kepada tauhid, dari perpecahan kepada persatuan.[2]
Adalah hampir diakui oleh semua pemikir di dunia, bahwa Muhammad
merupakan satu-satunya pemimpin dunia yang memiliki keteladanan sangat tinggi
bagi umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya. Kesuksesan beliau
dalam memimpin, bukan hanya diakui oleh umat Islam, akan tetapi diakui juga
oleh para ahli ketimuran (orientalis). Mereka mengakui bahwa Nabi
Muhammad saw bukan hanya sukses menjadi pemimpin agama, akan tetapi beliau juga
sukses dalam memimpin negara.[3]
M. Hart dalam bukunya 100 tokoh terkemuka, ia menempatkan Nabi Muhammad
saw sebagai the first person. John Dollinger, sejak awal dunia ini tidak
ada makhluk lain yang memiliki pengaruh luar biasa dalam hal religius, moral
dan politik, seperti yang dimiliki Muhammad sang Arab. Tidak satupun dari
dirinya yang tidak berimplikasi secara eksternal menjadi tauladan bagi umatnya,
apa yang dia lakukan, dia katakan, bahkan cita-citakan menjadi penuntun dan
pedoman hidup kaum muslimin. Beliau bukan hanya menyerukan manusia kepada
kebenaran, melainkan beliau sendiri yang meneladankan kebenaran.[4]
Bagi umat Islam pengakuan akan keteladanan Rasulullah saw bukan hanya
didasarkan pada hasil pengamatan kepada sejarah perjalanan hidup manusia, akan
tetapi secara i’tiqodiyah (teologis), merupakan bagian dari keimanannya.
Hal demikian difirmankan oleh Allah swt,
ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqß™u‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.
Artinya: “Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Oleh sebab itu umat
Islam hendaknya ber-ittiba’ meneladani nilai-nilai dakwah yang dipakai
oleh Rasulullah saw.
Tatkala kita ber-ittiba’
kepada Rasulullah, berarti taat kepada Allah swt. karena pada hakekatnya
semua yang datang dari beliau adalah atas bimbingan Allah swt. sebagaimana
firman-Nya:
$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #“uqolù;$# ÇÌÈ ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ
Artinya: “Dan
tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS.
An-Najm: 3-4)
Kemudian yang perlu
kita pertanyakan adalah apa saja yang menjadi sebab kesuksesan dakwah
Rasulullah saw? Berikut penjelasannya.
Pertama, dakwah Rasulullah saw adalah dakwah etis (sesuai dengan
etika). Ali mufrodi dalam tulisannya Sejarah dan Dakwah Nabi saw, sekurang-kurangnya
ada dua nilai etis yang terpancar dari dakwah Nabi saw, yaitu nilai konsistensi
dan nilai keteladanan. Yang dimaksud dengan nilai konsistensi adalah (1) bahwa
Nabi saw selalu istiqomah, tetap pada pendirian, tanpa mengenal putus asa untuk
terus berdakwah kendatipun berbagai tantangan, godaan, bujukan sampai kepada
teror yang sering ia peroleh, (2) bahwa Nabi saw konsekuen dengan apa yang
diucapkan tanpa harus menarik kembali apa yang didakwahkannya, karena memandang
dirinya belum mampu/enggan mempraktekkannya. (3) adanya kesesuaian antara apa
yang ia ucapkan dengan apa yang beliau perbuat, demikian pula sebaliknya apa
yang ia perbuat itulah yang ia katakan.[5]
Sedangkan yang
dimaksud keteladanan adalah bahwa Nabi saw merupakan orang pertama yang
mempraktekkan apa yang didakwahkannya. Apabila ia menyuruh ibadah maka ibadah
Nabi walaupun sudah mendapat jaminan ma’shum hampir seluruh waktu malamnya
digunakan untuk ibadah, kalau beliau menyuruh agar membiasakan pola hidup
sederhana maka ia tampakkan kesederhanaan itu dalam kehidupannya sehari-hari.[6]
Kedua, Nabi saw sangat mampu menjaga dan merawat kompetensinya,
dan ini menjadi energi kekuatan yang melahirkan serangkaian perilaku etis dalam
berdakwah. Sebagai contoh:
1.
Sejarah
sering menyebutkan bahwa Nabi saw sangat pandai merawat spiritualnya sehingga
tampak kekhusyu’an batinnya, ketenangan, kenyamanan dan kedamaian dari raut
wajahnya, serta melahirkan sifat-sifatnya yang mulia.
2.
Keberhasilannya
dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia di tengah kehidupan sosial
masyarakat.
3.
Keteguhannya
dalam menanamkan rasa percaya para jama’ah. Dalam sejarah hidupnya tidak pernah
sekalipun melahirkan perilaku yang menurunkan wibawanya. Ini terpancar pada
misi perjuangan dakwahnya yang tidak pernah berakhir serta kesinambungannya
antara prinsip gerak dakwah pertama dengan prinsip-prinsip gerak dakwah
selanjutnya.
Selain
faktor-faktor di atas, faktor lain yang dapat dibaca dari keberhasilan dakwah
Rasul adalah terletak pada prinsip-prinsip etika yang dijunjung tinggi ketika
berdakwah.
Pertama, cara Rasul dalam merespon sebuah kemungkaran. Jika suatu
kemungkaran dipandang masih bisa disampaikan dengan cara lemah-lembut dan
simpatik, maka beliau akan menempuh cara tersebut, akan tetapi jika setelah
diperhitungkan kondisinya membutuhkan ketegasan, maka beliau akan menempuhnya.
Bahkan beliau juga akan menunjukkan roman muka merah karena marah untuk menekan
pelaku kemungkaran supaya kembali ke jalan yang benar.[7]
Kedua, dalam melakukan amar ma’ruf nahyi mungkar, beliau selalu
memperhatikan akibat yang ditimbulkan, jika sekiranya beliau beranggapan bahwa
amar ma’ruf nahyi mungkar tersebut menimbulkan kemadharatan, maka beliau akan
menahan diri untuk tidak melakukannya terlebih dahulu. Beliau akan melakukannya
dengan menunggu waktu yang paling tepat, sehingga akan dapat diterima oleh
orang yang diberi nasehat. Namun jika amar ma’ruf nahyi mungkar yang akan
beliau sampekan dipandang tidak mengandung madharat, maka beliau akan segera
menyampaikannya.[8]
Ketiga, dalam merespon sebuah kejadian (tindakan kesalahan),
beliau tidak pernah bersikap kasar ataupun mencaci maki seseorang yang berbuat
salah. Namun sebaliknya, beliau sangat lapang dada dan selalu memberikan
kesempatan untuk memperbaiki diri. Kalaupun beliau harus mengungkapkan rasa
kesalnya terhadap sebuah kesalahan, maka beliau tidak langsung menunjuk hidung
si pelaku.
Dari situ diperoleh
beberapa poin hikmah penting dalam dakwahnya Rasulullah saw, yakni arahan
secara bijaksana dengan melihat situasi dan kondisi, bertahap dalam
menyampaikan pesan, mengambil yang paling ringan madharatnya di antara dua
madharat, mengambil yang paling tinggi kemashlahatannya di antara dua
mashlahat.[9]
Rasulullah saw
memang sangat terkenal dengan akhlaknya yang agung. Dikalangan kafir Quraisy
sendiri mengakui akan kejujuran beliau, sampai diberi gelar al-Amin (jujur).
Allah swt juga menegaskan dalam al-Qur’an akan kebagusan perangai beliau,
y7¯RÎ)ur
4’n?yès9
@,è=äz
5OŠÏàtã
Artinya: “Dan
Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam:
4).
B.
Contoh perilaku dakwah Rasulullah
1. Model
Implementasi Unsur Etis dalam Dakwah Rasul terhadap Umat Muslim
Berikut
adalah beberapa uraian yang mengilustrasikan praktek dakwah Rasul saw terhadap
umat Islam:
a) Aktivitas
dakwah dalam memberikan arahan tentang shalat
Jika
Rasulullah melihat ada salah seorang sahabat melakukan kesalahan dalam
shalatnya maka beliau akan langsung memberitahukan kesalahan tersebut dengan
cara yang bijak dan lemah lembut.[10]
Suatu
ketika Rasulullah tidak sempat mengimami shalat jama’ah karena suatu urusan,
waktu itu iqomah sudah dikumandangkan dengan secara terpaksa Abu Bakar ditunjuk
jama’ah untuk menjadi imam shalat. Setelah beberapa saat berlangsung kemudian
tibalah Rasulullah ke masjid untuk shalat, jama’ah yang sempat melihat Rasul
spontan bereaksi, diantaranya mereka lakukan tepuk tangan untuk mengingatkan
imam. Rasul pun menghampiri shaf terdepan sehingga Abu Bakar pun sempat
menolehnya. Tapi Rasul memberikan isyarat agar shalat tetap dilanjutkannya,
sehingga Abu Bakar pun melanjutkannya, tapi setelah memuji Allah Abu Bakar
mundur dari posisi imamnya hingga Nabi maju ke depan dan memimpin shalat hingga
selesai. Setelah shalat selesai Rasul bertanya kepada Abu Bakar, mengapa kau
tidak melanjutkan shalat hingga selesai? Kata Abu Bakar: “apa pantas bagiku
untuk shalat di depan Rasulullah?” kemudian Rasulullah bertanya kepada para
sahabat, “ mengapa kalian bertepuk tangan, isyarat tepuk tangan itu hanya untuk
kaum wanita sedangkan bagi laki-laki hendaknya mengucapkan tasbih.”
Suatu
ketika Rasul masuk masjid untuk melakukan shalat, tiba-tiba seorang sahabatpun
menyusul masuk masjid juga untuk melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat si
sahabat itu menjumpai Rasul seraya mengucapkan salam, setelah salamnya dijawab
Rasul berkata: “ulangilah shalatmu karena dengan shalatmu seperti tadi, sama
saja dengan belum melaksanakan shalat!”, orang itupun mengulangi shalatnya.
Setelah selesai kembali ia menjumpai Nabi seraya mengucapkan salam. Persis sama
peristiwanya dengan yang pertama, ia pun kembali disuruh mengulangi shalatnya,
hal itu hingga tiga kali. Setelah itu Rasul menjelaskan, shalat itu hendaknya
dilakukan dengan tuma’ninah, setelah berdiri lakukan takbiratul ihram, kemudian
ruku’ yang tuma’ninah, berdiri tegak tuma’ninah, sujud tuma’ninah demikian pula
duduk dengan tuma’ninah”. Berdasarkan riwayat ini cara dakwah Rasul dengan cara
mengoreksi kekeliruan sahabatnya, seraya menyuruhnya untuk mengulang shalat
hingga 3x, hal itu untuk memastikan kesalahan yang dilakukan sahabat apakah
karena lupa atau memang belum mengetahuinya.
Rasul
pernah menegur ketika melihat ada orang begitu tergesa-gesa pergi ke masjid
lantaran takut ketinggalan rakaat pertama. Kata Rasul, kalau diantara kamu
melihat ada orang begitu tergesa-gesa karena tidak mau ketinggalan raka’at
pertama, hendaklah segera diingatkan, sarankan agar ia berjalan lebih tenang.
Kalau memang ternyata ketinggalan rakaat pertama, maka hendaklah
menyempurnakannya.
Rasulullah
juga pernah menegur Muadz bin Jabal karena saat menjadi Imam ia membaca surat
yang panjang sehingga menimbulkan keresahan pada jama’ahnya. Kata Rasul, hai
Muadz apakah kamu ingin menjadi tukang fitnah, engkau memanjangkan bacaan surat
dalam shalat padahal di belakangmu itu ada orang lanjut usia, anak-anak kecil
dan orang sakit. Memang memanjangkan bacaan itu sunnah, tapi kalau karena hanya
ingin mengejar sunnah kemudian mengganggu yang wajib bagi para jama’ahnya sama
dengan anda telah melakukan fitnah.
b) Cara
Rasul mengajarkan etika berbusana
Rasulullah
melarang menggunakan pakaian yang kotor, sebab bisa mengganggu pandanngan mata
atau baunya yang akan mengganggu orang lain. Diriwayatkan dari Jabir bin
Abdullah r.a. dia berkata, Rasulullah datang mengunjungi rumah kami lantas
beliau menyaksikan ada seorang laki-laki yang rambutnya acak-acakan, maka
beliau bersabda, “ apa anda tidak mempunyai sesuatu yang bisa digunakan untuk
merapikan rambut?”. Rasulullah juga melihat seorang laki-laki berpakaian kotor,
maka beliau pun bersabda: “apa ia tidak mempunyai sesuatu yang bisa dipakai
untuk mencuci pakaiannya”.
c) Cara
Rasul menegur laki-laki yang menyerupai wanita dan sebaliknya
Diriwayatkan
oleh Ibnu Abbas r.a Rasulullah telah melaknat kaum pria yang berperilaku
seperti wanita atau sebaliknya. Bahkan beliau bersabda: keluarkan dia dari
rumahmu! Rasulullah telah mengusir si Fulan yang kebanci-bancian.
Orang-orang
banci itu penyakit sosial, sebab mereka itu tidak bisa dikatakan pria
sepenuhnya yang bisa dimanfaatkan oleh bangsa. Namun juga tidak bisa dikatakan
wanita tulen sehingga memiliki kemampuan mendidik suatu generasi yang shaleh.
Perilaku banci merupakan penyimpangan perilaku yang diakibatkan oleh beberapa
faktor diantaranya:
1) Mungkin
seorang ibu memasrahkan tugas keibuannya pada pembantu sehingga salah didik.
2) Mungkin
anak laki-laki itu memiliki beberapa saudara perempuan, sehingga dia pun suka
ikut-ikutan menjahit dan berlogat bahasa mereka.
d) Cara
Rasul menegur praktek dagang yang menipu
Rasulullah
tak segan-segan memukul orang yang melanggar syari’at serta menyita harta
sebagai hukuman bagi pelanggar syari’at dalam transaksi perdagangan.
Pelanggaraan syariat itu seperti jual beli barang haram (haram dimakan,
diminum), jual beli yang mengandung unsur riba.
Rasulullah
saw jika melewati seorang pedagang, maka beliau selalu memeriksa barang
dagangannya. Jika beliau melihat ada unsur penipuan yang merugikan pembeli,
beliau akan langsung menegur dan memberinya nasihat. Bukan hanya itu,
Rasulullah juga menunjukkan bagaimana cara dagang yang benar.
Uraian
di atas hanyalah sekelumit tentang cara dakwah Rasul yang mengantarkan pada
keberhasilannya, faktor-faktor kesuksesan lainnya juga ditopang oleh
mentalitas, sikap, karakter, perangai, budi pekerti yang umumnya sarat dengan
nilai keteladanan.
2. Model
Implementasi Unsur Etis dalam Dakwah Rasul terhadap Umat Non Muslim
Dakwah bermaksud untuk menyatakan dan
tabligh bermakna menyampaikan. Allah telah memerintahkan kita untuk menyatakan
atau menyampaikan Kalimah Mulia kepada
mereka yang belum mengucapkan Kalimah Mulia. Kalimah Mulia adalah aku bersaksi
tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah Nabi
Allah. Dakwah atau Tabligh adalah perintah pertama Allah dan itu adalah yang
paling mudah untuk dilakukan. Satu-satunya prasyarat untuk melakukan dakwah,
ialah orang yang tahu Kalimah Mulia. Ia tidak memiliki prasyarat lain selain
mengetahui Kalimah Mulia. Seseorang selepas membaca Kalimah Mulia mempunyai
tanggungjawab untuk menyampaikan Kalimah Mulia kepada orang lain yang belum
mengucapkan Kalimah. Nabi Muhammad saw mengatakan dalam arti, sampaikan dariku walau kamu tahu hanya satu ayat. Menyampaikan
Kalimah Mulia kepada orang lain adalah perintah Allah dan itu adalah perintah
Allah yang pertama seseorang harus
melakukan selepas dia masuk Islam. Perintah pertama Allah bukan menunaikan
sembahyang lima kali sehari. Perintah pertama Allah adalah untuk menyampaikan
Kalimah Mulia kepada mereka yang belum menerima Kalimah Mulia.
Perintah pertama hanya untuk menyatakan
atau menyampaikan Kalimah Mulia kepada
orang lain yang belum menerima Kalimah dan bukan untuk membuat orang untuk
memeluk agama Islam. Perintah yang
sangat ringkas dan itu adalah yang paling mudah untuk dilakukan bila
dibandingkan dengan semua perintah Allah. Setiap orang yang mengetahui Kalimah
Agung harus mampu menyampaikan Kalimah kepada orang lain. Perintah hanya untuk
menyampaikan dan bukan untuk membuat orang itu untuk memeluk agama Islam. Tidak
ada yang dapat memberi petunjuk kecuali Allah. Siapa pun yang Allah ingin
memberi petunjuk akan mendapatkan petunjuk
dan sesiapa sahaja yang Allah ingin menjadi sesatkan akan sesat. Tidak ada yang
dapat memberi petunjuk kecuali Allah. Hanya Allah memerintahkan kita untuk
menyampaikan dan Allah tidak memerintahkan kita untuk memberi petunjuk.
Kerja yang memberi petunjuk adalah pekerjaan Allah dan kita hanya
diperintah untuk menyampaikan atau untuk menyampaikankan Kalimah Mulia kepada orang lain. Jika kita
berfikir bahawa Allah telah memerintahkan kita untuk menjadikan orang bukan
Islam masuk Islam maka kita menjadikannya kerja yang sangat berat. Kerja menukar
bukan Islam menjadi Muslim adalah kerja
Allah. Ketika kita telah mengambil kerja Allah, maka perintah ini menjadi
sangat berat pada kita. Kita akan membuat pelbagai alasan untuk tidak melakukan
kerja dakwah.
Kini Muslim percaya bahawa hanya para
ulama boleh melakukan kerja dakwah. Mereka juga percaya bahawa muslim terlebih dahulu menjadi baik sebelum kita
boleh memberikan dakwah kepada bukan Islam.
Dakwah bererti untuk menyampaikankan Kalimah Agung kepada bukan Islam,
usaha dakwah harus dilakukan oleh semua muslim dan bukan hanya para ulama.
Allah telah membuat usaha dakwah wajib bagi semua Muslim dan selepas masuk
Islam; perintah pertama ialah melakukan dakwah. Ketika seseorang melakukan
kerja dakwah, Allah akan membuat iman kita menjadi kuat. Ketika Abu Bakar masuk
Islam, yang pertama Nabi Muhammad saw
memintanya agar menyampaikan Kalimah
Mulia kepada orang lain. Pada hari yang sama, Abu Bakar masuk Islam beliau
telah menyampaikan Kalimah Mulia kepada banyak orang lain yang belum
mengucapkan Kalimah dan beberapa daripada mereka memeluk Islam. Sebaliknya,
kita menyuruh orang yang baru memeluk
Islam untuk bersolat lima kali sehari
dan tidak untuk menyampaikan Besar
Kalimah kepada orang lain. Kita percaya bahawa perintah Allah pertama adalah
untuk melakukan solat lima kali sehari dan tidak untuk menyampaikan Kalimah
Agung. Ketika seseorang setelah masuk Islam dan tidak melakukan pekerjaan
menyampaikan Kalimah Mulia, maka iman nya akan menjadi lemah. Pertama, iman
mereka harus diperkuatkan dengan mengajak mereka untuk melakukan pekerjaan
menyampaikan Kalimah Mulia dan ketika
iman mereka meningkat maka hanya kita menyuruh mereka untuk melakukan
sembahyang lima kali sehari.
Dakwah bererti menyatakan, tabligh
bermakna menyampaikan Kalimah Mulia, dan merupakan perintah pertama Allah
kepada semua umat Islam. Ini adalah perintah Allah termudah. Allah telah
memerintahkan semua umat Islam untuk melakukan dakwah bahkan jika mereka tahu
hanya Kalimah Mulia . Allah telah memberikan kerja dakwah atau tabligh untuk
semua muslim dan semua muslim mampu melakukan pekerjaan dakwah. Allah telah
membuat usaha dakwah ringkas dan mudah
kerana itu adalah cara untuk mendapatkan iman. Iman adalah hal yang paling
berharga bahawa semua orang harus memiliki. Tanpa iman, Allah tidak akan
menerima amalsmanusia. Tanpa iman, orang akan hidup dalam penderitaan di dunia
ini dan di akhirat akan harus pergi ke api neraka. Iman adalah hal yang paling
penting bahawa keperluan manusia. Kerana iman adalah sangat penting dan
merupakan keperluan semua umat manusia, Allah telah membuat pekerjaan
mendapat iman yang ringkas dan mudah. Ketika seseorang selepas
mengucapkan Kalimah Mulia dan menyampaikan Kalimah Mulia kepada orang lain maka
Allah akan memberi iman yang kuat. Saat
ini muslim memiliki iman sangat lemah kerana mereka telah meninggalkan
pekerjaan menyampaikan Kaliamh Mulia kepada orang lain. Mereka telah
meninggalkan pekerjaan dakwah kerana mereka percaya bahawa pekerjaan dakwah
adalah untuk membuat bukan Islam menjadi muslim. Hanya Allah yang akan membuat bukan Islam untuk menjadi
Muslim dan Allah telah memerintahkan kita hanya untuk menyampaikan Kalimah
Mulia bukan Islam .. Sama ada orang
bukan Islam tidak masuk Islam atau tidak, tetapi kita telah menyampaikan Kalimah Mulia menjadi
muslim kita berjaya kerana kita sudah menuruti perintah Allah.
Ketika kita berkata kepada bukan Islam,
masuk Islam dan bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad
adalah Nabi Allah, tentu saja, kita akan berjaya, maka kita telah menyampaikan
Kalimah Mulia. Dakwah adalah tugas yang sangat mudah untuk dilakukan. Tidak
memerlukan pengetahuan melainkan mengetahui Kalimah Agung. Ketika kita
melakukan dakwah, kami tidak bertanggung jawab untuk meyakinkan mereka tentang
Islam dan kami tidak bertanggung jawab untuk membuat mereka untuk masuk Islam.
Ketika kita melakukan dakwah, kita hanya bertanggungjawab untuk menyampaikan
Kalimah Mulia kepada mereka. Dalam hal mereka menolak, maka kita berdoa agar
Allah memberi mereka hidayah untuk masuk Islam. Untuk melakukan dakwah kita
perlu lakukan hanya sekali. Bahkan orang miskin boleh melakukan dakwah. Kita
harus memberi masa minimum 45 minit
setiap hari untuk melakukan kerja dakwah. Ketika kita bertemu dengan orang bukan
Islam, kita dakwahkan Kalimah dan ketika kita bertemu muslim, kami saling
mengingatkan tentang Allah dan mengajak
dia untuk melakukan kerja dakwah. Jika anda berminat untuk mempelajari usaha dakwah dan kerja umat
Islam mengingatkan pentingnya usaha
dakwah
Bimbingan Alquran Tentang Tata cara
berdakwah kepada Non-Muslim
1. Q.
S. Ali Imran ayat 64
ö@è% Ÿ@÷dr'¯»tƒ É=»tGÅ3ø9$# (#öqs9$yès? 4’n<Î) 7pyJÎ=Ÿ2 ¥ä!#uqy™ $uZoY÷t/ ö/ä3uZ÷t/ur žwr& y‰ç7÷ètR žwÎ) ©!$# Ÿwur x8ÎŽô³èS ¾ÏmÎ/ $\«ø‹x© Ÿwur x‹Ï‚Gtƒ $uZàÒ÷èt/ $³Ò÷èt/ $\/$t/ö‘r& `ÏiB Èbrߊ «!$# 4 bÎ*sù (#öq©9uqs? (#qä9qà)sù (#r߉ygô©$# $¯Rr'Î/ šcqßJÎ=ó¡ãB ÇÏÍÈ
Katakanlah:
"Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang
tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali
Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula)
sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah".
jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa
Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".
Dalam ayat ini, Allah SWT. mengajak
mereka kepada perkara lain yang merupakan masalah pokok agama dan intinya, yang
telah disepakati oleh semua Nabi. Yaitu, persamaan dan keadilan antara kedua
belah pihak secara seimbang, tidak berat sebelah, yaitu beribadah hanya kepada
Allah, tidak menyekutukan-Nya. Tatkala mereka berpaling, Allah SWT.
memerintahkan Nabi agar mengatakan kepada mereka, “Saksikanlah oleh kamu, bahwa
kami adalah orang-orang muslim.”
Katakanlah (wahai Muhammad), wahai
orang-orang ahlul Kitab, ke sinilah kalian, dan bersepakatlah pada suatu
perkataan yang adil, yang telah disepakati oleh para Rasul dan kitab-kitab yang
diturunkan kepada mereka. Hal ini diperintahkan oleh Taurat, Injil serta
al-Qur`an.
Kita tidak akan tunduk kecuali hanya kepada
Tuhan yang mempunyai kekuasaan dan mutlak dalam menentukan syariat dan yang
mempunyai wewenang menghalalkan dan mengharamkan. Kita hendaknya tidak
menyekutukan Allah dengan apapun dan sebagian dari kita tidak mengambil
sebagian lainnya sebagai Tuhan-tuhan selain Allah SWT.
Ayat ini mengandung tauhid dalam
ketuhanan, seperti yang tersurat dalam firman-Nya (Alla Na`budu illAllah),
serta tauhid dalam ketuhanan yang tersurat dalam firman-Nya (Wa la yattakhizu
ba`duna arbaaban min duunillah).
Objek ini telah disepakati dalam semua
agama. Nabi Ibrahim telah datang dengan membawa ajaran Tauhid. Nabi Musa juga
datang dengan membawa agama Tauhid. Dalam Taurat telah disebutkan dengan
mengutip firman Allah, sesungguhnya Allah adalah Tuhanmu, janganlah kamu mempunyai
Tuhan lain di hadapan-Ku. Janganlah kamu membuat patung pahatan untukmu, dan
juga gambar apapun, berupa apapun yang ada di langit atas dan di bumi bawah.
Janganlah kamu bersujud kepadanya dan janganlah kamu menyembahnya.
Bila mereka menolak dan berpaling dari
ajaran ini, hanya menyembah kepada selain Allah, dan mengambil para sekutu,
para perantara, Tuhan-tuhan yang menghalalkan dan mengharamkan, maka katakanlah
kepada mereka, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang taat kepada Allah lagi
ikhlas. Kami tidak menyembah siapapun kecuali Allah SWT. Dan kami tidak memohon
kepada selain-Nya dalam meminta suatu manfaat atau menolak bahaya. Kami tidak
menghalalkan sesuatu kecuali yang telah dihalalkan Allah, dan tidak
mengharamkan kecuali apa yang diharamkan-Nya.
Dari penjelasan Ahmad Mushtafa
al-Maraghiy tentang ayat di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa maksud Allah
dari ayat di atas adalah agar dakwah Islam yang mulia ini disebarkan kepada
orang-orang Yahudi dan Nasrani, dengan cara kita kenalkan kepada mereka
tanda-tanda kebesaran Allah SWT. dan bahwa bumi tempat kita hidup ini adalah
kepunyaan-Nya. Maka wajar dan wajiblah bagi kita sebagai makhluk-Nya untuk
menyembah dan bersujud kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.
2. Q. S. al-Maidah ayat 15
Ÿ@÷dr'¯»tƒ
É=»tGÅ6ø9$#
ô‰s%
öNà2uä!$y_
$oYä9qß™u‘
ÚúÎiüt7ãƒ
öNä3s9
#ZŽÏWŸ2
$£JÏiB
öNçFYà2
šcqàÿøƒéB
z`ÏB
É=»tGÅ6ø9$#
(#qàÿ÷ètƒur
Ætã
9ŽÏVŸ2
4 ô‰s%
Nà2uä!%y`
šÆÏiB
«!$#
Ö‘qçR
Ò=»tGÅ2ur
ÑúüÎ7•B
ÇÊÎÈ
Hai
ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu
banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang)
dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab
yang menerangkan.
Sebab turun ayat ini adalah sebagaimana
terdapat dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi Muhammad SAW. didatangi
oleh orang-orang Yahudi yang bertanya tentang hukum rajam. Nabi SAW. bertanya :
‘’Siapa di antara kalian yang paling alim ?’’, mereka menunjuk Ibnu Shuriya,
Nabi SAW. meminta kepadanya untuk menjawab dengan sebenarnya sambil bersumpah
atas nama Allah yang menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, yang mengangkat gunung
Thur dan menetapkan sepuluh janji yang telah diterima oleh mereka serta
menggemparkan mereka. Berkatalah Ibnu Shuriya : Ketika telah banyak kaum kami yang
mati dirajam karena zina, kami tetapkan hukum dera seratus kali dan kami cukur
kepalanya. Maka ditetapkanlah kembali kepada kaum Yahudi hukum rajam. Lalu
turunlah ayat ini (surat al-Maidah : 15), sebagai peringatan kepada orang yang
telah melalaikan hukum-hukum Allah SWT.
Setelah Allah menerangkan, bahwa Dia
telah mengambil janji orang-orang Yahudi dan Nasrani, seperti yang telah Dia
ambil pula dari umat islam; dan bahwa mereka ternyata melanggar janji dan
sumpah tersebut, dan tidak lagi melaksanakan apa yang telah diperintahkan
kepada mereka, bahkan mereka buang sebagian besar wahyu yang telah Dia turunkan
kepada mereka. Dan setelah itu Allah menyeru mereka untuk beriman kepada Nabi
Muhammad SAW. dan kepada kitab yang dibawanya.
Maksud ayat, hai ahli Kitab,
sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu, Muhammad Rasulullah dan pemungkas
para Nabi itu, yang menerangkan kepadamu sebagian besar dari hukum-hukum yang
kamu sembunyikan, yang dulu sudah diturunkan Allah kepadamu. Tetapi, kamu
enggan melaksanakannya.
An-Nur (cahaya) di sini yang dimaksud
adalah Nabi Muhammad SAW. Dikatakan demikian, karena beliau menerangi hati
sebagaimana cahaya menerangi mata. Dan sebagaimana tanpa cahaya, maka mata tak
akan dapat melihat barang apapun yang dapat dilihat, maka begitu pula, andaikan
tak ada wahyu yang di bawa oleh Muhammad SAW., tentu hati siapapun tak akan
tahu hakikat agama yang sebenarnya, baik dari kalangan ahli Kitab sendiri
maupun dari kalangan lainnya. Dan tentu mereka tidak akan tahu perubahan apa
yang dialami oleh kitab taurat dan Injil, baik berupa hilangnya sebagian isi
maupun dilupakannya dengan sengaja. Juga kecerobohan para pemuka agama terhadap
sebagian yang lain, dengan menyembunyikan sebagian isi Kitab atau merubahnya.
Dan tentulah mereka akan tetap berada dalam kebodohan dan kekafiran yang gelap
gulita, tanpa dapat melihat cahaya kebenaran.
Al-Kitabu al-Mubiin (Kitab yang
menerangkan), ialah al-Qur`an al-Karim, karena al-Qur`an itu sendiri jelas dan
menjelaskan apa saja yang diperlukan umat manusia, sehingga mereka mendapat
petunjuk. Membawa mereka kepada jalan keselamatan (jalan yang selamat dari
segala rasa takut).
3. Q. S. al-A`raf ayat 157
tûïÏ%©!$#
šcqãèÎ7Ftƒ
tAqß™§9$#
¢ÓÉ<¨Z9$#
¥_ÍhGW{$#
“Ï%©!$#
¼çmtRr߉Ågs†
$¹/qçGõ3tB
öNèdy‰YÏã
’Îû
Ïp1u‘öqG9$#
È@‹ÅgUM}$#ur
NèdããBù'tƒ
Å$rã÷èyJø9$$Î/
öNßg8pk÷]tƒur
Ç`tã
Ìx6YßJø9$#
‘@Ïtä†ur
ÞOßgs9
ÏM»t6Íh‹©Ü9$#
ãPÌhptä†ur
ÞOÎgøŠn=tæ
y]Í´¯»t6y‚ø9$#
ßìŸÒtƒur
öNßg÷Ztã
öNèduŽñÀÎ)
Ÿ@»n=øñF{$#ur
ÓÉL©9$#
ôMtR%x.
óOÎgøŠn=tæ
4 šúïÏ%©!$$sù
(#qãZtB#uä
¾ÏmÎ/
çnr⑨“tãur
çnrã|ÁtRur
(#qãèt7¨?$#ur
u‘q‘Z9$#
ü“Ï%©!$#
tAÌ“Ré&
ÿ¼çmyètB
y7Í´¯»s9'ré&
ãNèd
šcqßsÎ=øÿßJø9$#
ÇÊÎÐÈ
(yaitu)
orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati
tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh
mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang
mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi
mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu
yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya,
menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al
Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.
Dalam memahami ayat ini, Imam Syafi`i
berkata: Dikatakan Allah maha tahu dosa-dosa mereka serta apa yang dilarang
bagi mereka sebab apa yang mereka perbuat. Dikatakan, apa yang disyariatkan
dari agama Muhammad SAW.
Tidak ada makhluk yang berakal sejak
Allah mengutus Muhammad SAW., baik itu Ahli Kitab, penyembah berhala atau orang
yang hidup dengan ruh dari golongan jin dan manusia, yang sampai kepadanya
dakwah Muhammad SAW., kecuali pasti hujjah Allah dihadapkan kepadanya dengan
mengikuti agamanya. Orang beriman sebab mengikuti Nabi, dan orang kafir sebab
tidak mengikuti Nabi.
Setiap orang baik yang beriman maupun
yang kafir dikenai ketetapan pengharaman apa yang diharamkan Allah melalui
lisan Nabi-Nya, yang sebelumnya mubah dalam suatu ajaran agama atau tidak mubah
dan penghalalan apa yang dihalalkan Allah melalui lisan Muhammad SAW. yang
sebelumnya haram menurut satu ajaran agama atau tidak haram.
Imam Syafi`i berkata lagi, dikatakan;
semua itu diharamkan atas mereka sampai mereka beriman. Tidak sepatutnya semua
itu diharamkan atas mereka, sedangkan apa yang berbeda dari agama Muhammad itu
telah dihapus dengan agama-Nya. Sebagaimana tidak boleh dikatakan, dulu khamar
halal bagi mereka sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW., meskipun
mereka tidak masuk agama Nabi.
Jadi, dari keterangan di atas dapat
dipahami bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi-nabi dan Rasul-rasul terdahulu
telah disempurnakan oleh syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., apa yang
dilarang oleh ajaran Nabi Muhammad sekarang wajib untuk ditaati oleh
orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena ajaran Rasulullah sekarang adalah sama
dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul-rasul terdahulu, yaitu mengajak
kepada tauhid dan agama yang lurus.
4. Q.
S. Asy-Syura ayat 15
šÏ9ºs%Î#sù
äí÷Š$$sù
( öNÉ)tFó™$#ur
!$yJŸ2
|NöÏBé&
( Ÿwur
ôìÎ7®Ks?
öNèduä!#uq÷dr&
( ö@è%ur
àMZtB#uä
!$yJÎ/
tAt“Rr&
ª!$#
`ÏB
5=»tGÅ2
( ßNöÏBé&ur
tAωôãL{
ãNä3uZ÷t/
( ª!$#
$uZš/u‘
öNä3š/u‘ur
( !$uZs9
$oYè=»yJôãr&
öNä3s9ur
öNà6è=»yJôãr&
( Ÿw sp¤fãm
$uZoY÷t/
ãNä3uZ÷t/ur
( ª!$#
ßìyJøgs†
$uZoY÷t/
( Ïmø‹s9Î)ur
çŽÅÁyJø9$#
ÇÊÎÈ
Maka
karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplahsebagai mana
diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan
Katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku
diperintahkan supaya Berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan
kamu. bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada
pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan
kepada-Nyalah kembali (kita)".
Oleh karena itu, dia (Muhammad) tidak
perlu gusar dan merasa sesak dada kalau mereka itu masih tetap ingkar dan tak
mau beriman, karena bagaimanapun juga dia (Muhammad) tidak memaksa mereka untuk
beriman dan memperoleh kecuali hal itu dikehendaki Allah.
Dengan ayat ini, Rasulullah SAW. Sudah
diberi dua perintah pokok, pertama; Dakwah diteruskan, ajakan dan seruan tidak
boleh berhenti. Kedua; pendirian teguhkan, tegak lurus dengan keyakinan kepada
Tuhan (Istiqamah), karena suatu dakwah tidak akan jaya, kalau yang berdakwah
tidak mempunyai istiqamah (pendirian teguh) dan sebagai lanjutannya jangan
diikuti, jangan dipedulikan hawa nafsu mereka yang hendak membawa kepada
pertengkaran yang sangat menghabiskan tenaga dan hendaklah dijelaskan
pendirian. Pendirian yang tidak digoyahkan oleh gelora hawa nafsu lawan.
Pendirian itu adalah: Dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang
diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya Berlaku adil di antara kamu.
Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu
amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan
antara kita dan kepada-Nyalah kembali.
Ayat ini menjelaskan bahwa, walaupun
dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. banyak mendapatkan tantangan dari
kafir Quraisy, namun Allah SWT. memberikan sokongan kepada Nabi agar tetap
gigih dan istiqamah dalam berpegang kepada tauhid dan menyampaikannya kepada
seluruh umat manusia sekalipun ada di antara mereka yang enggan menerima.
Kesimpulan :
Dari uraian-uraian di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa pada hakikatnya semua ajaran-ajaran yang dibawa oleh
Nabi-nabi dan Rasul-rasul terdahulu adalah sama, yaitu sama-sama mengajak
kepada tauhid dan beriman kepada Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT.
Dalam menyampaikan kebenaran agama Islam
kepada non muslim (Yahudi dan Nasrani) dan menegakkan amar ma`ruf nahiy munkar
di muka bumi, haruslah memiliki pendirian yang teguh dan penuh dengan
kesabaran, karena banyak tantangan dan hambatan yang harus dilalui.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak
pernah senang dengan agama Islam termasuk umatnya. Namun, umat Islam sendiri
sangat menginginkan mereka untuk masuk ke dalam agama Islam, supaya mereka juga
berada dalam agama keselamatan (selamat dari rasa ketakutan) yang penuh rahmat
dari Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Karena Sejarah sering menyebutkan bahwa Nabi saw sangat pandai
merawat spiritualnya sehingga tampak kekhusyu’an batinnya, ketenangan,
kenyamanan dan kedamaian dari raut wajahnya, serta melahirkan sifat-sifatnya
yang mulia. Keberhasilannya dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia di tengah
kehidupan sosial masyarakat. Keteguhannya dalam menanamkan rasa percaya para jama’ah.
Dalam sejarah hidupnya tidak pernah sekalipun melahirkan perilaku yang
menurunkan wibawanya. Ini terpancar pada misi perjuangan dakwahnya yang tidak
pernah berakhir serta kesinambungannya antara prinsip gerak dakwah pertama
dengan prinsip-prinsip gerak dakwah selanjutnya.
2. Model
Implementasi Unsur Etis dalam Dakwah Rasul terhadap Umat Muslim dan umat non
muslim menggunakan beberapa metode.
DAFTAR
PUSTAKA
Enjang. 2009. Etika
Dakwah. Bandung: Widya Padjadjaran.
Departemen Agama
RI. 1989. Al Qur’an dan Tejemahannya.
Surabaya:Mahkota.
Masyhur, Musthafa.
2001. Teladan di Medan Dakwah. Solo: Era Intermedia.
http://revinardychaniago.blogspot.com/2009/01/bimbingan-al-quran-terhadap-dakwah.html,
di akses jam 14.28 tanggal 21102011
http://drnasoha.wordpress.com/2010/03/29/dakwah-hanya-untuk-bukan-islam/,
jam 05.13 tanggal 22 10 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar