BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Islam merupakan agama dakwah, di mana di dalamnya terdapat
usaha menyebarluaskan kebenaran ajaran yang diyakini berasal dari Tuhan, untuk
disebarluaskan kepada semua manusia. Semangat menyebarluaskan kebenaran ini
merupakan tugas suci dan wujud pengabdian kepada Tuhan.Dalam agama Islam
melaksanakan dakwah (menegakkan amar ma’ruf nahi munkar) merupakan kewajiban
semua umat Islam baik laki-laki maupun perempuan, baik dilakukan secara
individu maupun berkelompok ( jami’ayah) yang terorganisir.
Dakwah menjadi tugas setiap muslim dalam pengertian yang
sederhana (dalam skala mikro) sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Namun
dalam pengertian dakwah secara ideal dan makro, baik yang dilakukan oleh
individu maupun kelompok (organisasi) harus dilakukan dengan menguasai berbagai
aspek, baik methode, materi, media, dan menguasai sasaran dakwah. Di samping
juga pelaksana dakwah harus memiliki integritas, kapabelitas, kredibelitas baik
dari segi keahliannya maupun moralitasnya, dan memiliki keperibadian yang
sholeh. Di samping itu juga untuk menghasilkan pelaksanaan dakwah secara
efektif dan efesien, harus dilakukan secara sistemik dengan menerapkan
aspek-aspek manajerial secara baik dan tepat.
1.2 Rumusan
Masalah
Dari latar belakang
di atas maka rumusan masalahnya sebagai berikut:
-
Bagaimanakah hikmah diwajibkannya berdakwah bagi umat
Islam?
-
Bagaimanakah cara berdakwah secara efektif?
1.3 Tujuan
Pembahasan
Dari rumusan masalah
di atas maka tujuan pembahasannya sebagai berikut:
-
Untuk mengetahui hikmah diwajibkannya berdakwah bagi
umat Islam
-
Untuk mengetahui cara berdakwah secara efektif
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hikmah
diwajibkannya berdakwah bagi umat Islam
Dakwah Islam adalah tugas suci yang dibankan kepada setiap
muslim dimana saja ia berada. Hal ini termasuk dalam al-Qur’an dan as-sunnah
Rasulullah SAW, kewajiban berdakwah menyerukan, dan menyampaikan agama Islam
kepada masyarakat. Pada intinya bahwa tugas dakwah adalah tugas ummat secara
keseluruhan bukan hanya tugas kelompok tertentu ummat Islam.
Menurut bahasa hikmah adalah ungkapan untuk mengetahui
sesuatu yang utama. Ada lagi yaitu al hikmah, yaitu objek kebenaran (al haq)
yang di dapat dari akal dan ilmu. Dan dapatdiartikan juga sebagai “pengetahuan”
(ma’rifah). Makna ini pun berkaitan dengan “mencegah” karena pengatahuan yang
benar (shahih) mengandung arti: mencegah, membatasi, dan memisahkan berbagai
hal. Selain itu al itqan yang bermakna mencegah dari kerusakan dan cela.
Sehubungan dengan hal ini syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “ Al Ihkam
ialah memisahkan, membedakan, membatasi sesuatu, yang dapat mewujudkan
kebaikan. Karena itu makna
“mencegah”tersirat di dalamnya. Seperti juga kata al had (batas) yang berarti
mencegah(meskipun mencegah di sini dalam arti bukan keseluruhan, tetapi sebagai
saja)”.
Sedangkangkan menurut istilah menurut para ulama mengenai kta
hikmah yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Di antara meraka ada yang
menafsirkan hikmah sebagai kenabian, ada pula Al Qur’an serat pemahaman
terhadapnya, nasikh mansukh, mukhkam-mutasybih dan sebagainya. Hikmah juga di
tafsirkan valid (tepat) dalam perkataaan dan perbuatan. Hikmah adalah mengathui
yang benar dan mengamalkannya; hikam adalah sikap wara’ (menjauhkan diri dari
perbuatan maksiat); hikmah adalah meletakkan suautu pada tempatnya dan hikmah
adalah menjawab dengan cepat, selain itu, ada juga yang menafsirkan bahwa hikmah
adalah ilmu dan pengalamannya. Seorang tidak disebut hakim (bijak) kecuali ia
menggabungkan ilmu dengan pengamalannya.[1]
Dari sekian banya definisi hikmah beragam tersebut, dapat
ditarik suatu definisi umum bahwa hikmah adalah “tepat dalam perkataaan dan
perbuatan serta meletakkan suatu pada tempatnya”. Hikmah mencakup pengertian:
takut kepada Allah, mengamalkan ilmu, dan wara’ dalam agama. Hikmah lebihumum
dari kenabian atau kenabian merupakan salah satu dari pengertian dari kata
hikmah. Keterkaitan kenabian dengan makna hikmah adalah karena para nabi diberi
pemahaman dan selalu dalam posisi yang tepat dala perkataan, perbuatan,
keyakinan dan bahkan dalam semua persoalan.
Dalam Al Qur’an, terdapat dua penulisan kata hikmah, yaitu:
kata hikmah yang berdiri sendiri, dan kata hikmah yang sebelumnya dirangkai
dengan kata “Al Kitab”.
Contoh (kata hikmah yang berdiri sendiri) terdapat dalam
ayat:
äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# (
Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4
¨bÎ) y7/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ (
uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ
Artinya serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat
dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk.
Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat
membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
Contoh kedua (kata hikamh yang sebelumnya dirangkai dengan
kata al kitab) terdapat dalam ayat:
’ÎA÷sムspyJò6Åsø9$# `tB âä!$t±o„ 4
`tBur |N÷sムspyJò6Åsø9$# ô‰s)sù u’ÎAré& #ZŽöyz #ZŽÏWŸ2 3
$tBur ãž2¤‹tƒ HwÎ) (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÏÒÈ
Artinya: Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang
dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan
Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia
yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil
pelajaran (dari firman Allah).
Jika dicermati secara cermat, akan kita temukan adanya
hubungan erat antara pengertian hikmah menurut bahasa dan menurut syar’i.
Keduanya menjadikan ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh sebagai landasan
hikmah. Atas dasar ini. Definisi hikmah yang representatif adalah ketepatan dam
perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan suatu pada tempatnya.
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa hikmah
(kebijaksanaan) dalam mengajak manusia menuju jalan Allah tidak terbatas pada
perkataan lembut, memberi semangat, sabar, ramah, dan lapang dada, tetapi juga
tidak melakukan sesuatu melebihi ukurannya. Dengan kata lain, harus menempatkan
sesuatu pada tempatnya. Berkata harus sesuai dengan tempatnya, demikian pula
mengajar, mendidik, memberi nasihat, dan bermujadalah. Termasuk mujadalah
dengan orang-orang dzalim.
Kepada orang-orang dzalim kita memang dituntut agar bersikap keras,
tegas atau dengan kekuatan. Namun, ketegasan tersebut bukan berarti menafikan
unsur kebijakan. Jadi, tegas di sini maksudnya tegas secara bijak atau sesuai
denga kondisinya. Itulah esensinya.
Jadi, setiap pendekatan dakwah harus dilakukan secara bijak
dan cermat, dengan memperhatikan kondisi, waktu dan tempat si penerima dakwah.
untuk mendapatkan kejelasan tentang hal ini, hendaknya kita perhatikan sikap
para rasul dalam menghadapai bermacam ragam karakter manusia. Allah telah
memberikan kepada para rasul hikmah yang tidak diberikan makhluk lainnya.
2.1.1
Macam-macam Hikmah
Ada dua macam hikmah. Pertama, hikmah teoritis, yaitu
mengamati inti suatu perkara dan mengetahui kaitan sebab akibat (kausalitas)
secara moral, perintah, takdir dan syara’. Kedua, hikmah praktis, yaitu
meletakkan suatu pada tempatnya.[2]
Sebagai rujukannya hikmah teorotis adalah ilmu dan pengetahuan,
sedangkan rujukan hikmah praktis adalah perbuatan ada’il dan benar. Tidak
mungkin hikmah keluar dari dari dua arti ni, sebab kesempurnaan manusia
terletak pada dua hal, yaitu: ia mengatahui subtansi kebenaran (al haq), dan
selanjutnya ia mengamalkannya. Inilah ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh.
Allah telah memberikan dua jenis hikmah ini kepada para nabi-Nya, par rasul-Nya
dan hamba-hamba shaleh yang dikehendaki-Nya.
Allah telah berfirman tentang Nabi Ibrahim:
Éb>u‘
ó=yd
’Í< $VJò6ãm ÓÍ_ø)Åsø9r&ur šúüÅsÎ=»¢Á9$$Î/ ÇÑÌÈ
Artinya: (Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah
kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.
Bagian kalimat “berilah aku hikmah” dalam ayat di atas
merupakan hikmah teoritis, sedangkan bagian kalimat “ dan masukkanlah aku ke
dalam golongan orang-orang sholeh” merupakan hikmah praktis.
Hikmah praktis memiliki tiga tingkatan. Pertama, memberi hak
terhadap suatu, dalam arti: jangan melampaui bats, terburu-buru, dan menunda
waktu.
Demikianlah, hikmah sangat memperhatikan ketiga petunjuk di
atas dengan cara memberi hak kepada setiap
perkara, yakni hak dari Allah, dengan syariat dan takdirnya. Jika
melampaui batas, berarti melanggar hikmah, jika ditunda dari batas waktu, juga
menyalahi hikmah. Inilah ketepatan umum tentanghukum sebab-akibat yang
didasarkan pada syara’ dan takdir. Jika segala sesuatu yang dilakukan tidak
didasarkan ketepatan ini, maka itu bukanlah hikmah. Misalnya menyiram tanaman
lebih dari kadar kebutuhannya, sehingga tanaman tersebut menjadi rusak. Contoh
lain, jika kita menuai padi atau tanaman lain sebelum waktunya.
Kedua, mengetahui keadilan ancaman Allah, kepastian janji-Nya,
serta keadilan hukum-hukum-Nya yang bersifat syar’i dan hukum alam yang berlaku
pada seluruh makhluk. Sebab, tidak ada kedzaliman dan kecurangan dalam
hukum-hukum tersebut.
Termasuk dalam derajat kedua ini adalah kemampuan untuk
mengatui kebaikan dalam segala laranga-Nya. Allah Maha Kaya, perbendaharan-Nya
tidak akan habis karena diberikan kepada makhluknya. Allah tidak menurunkan
kebaikan dan keutamaan, kecuali pada tempat dan waktunya, sesuai dengan
tuntunan hikmah.
Ketiga, memiliki mata hati (Bashirah), yang antara lain
meliputi kekuatan persepsi, imntelegensi, ilmu, dan kearifan. Bashirah ini
merupakan derajat tertinggi yang dimiliki mata hati dalam mencerap ilmu yang
dinisbatkan kepadanya. Sikap ini ada pada para sahabat dan sebagian pengikut Nabi
yang ikhlas.
Ada dua hal penting yang perlu diketahui seorang da’i sehubungan
dengan sikap bashirah. Pertama hendaknya da’i secara arif mengetahui
hukum syar’i. Jika tidak, bisa saja seorang da’i berpendapat bahwa suatu
perkara hukumnya wajib, pada hal bukan wajib. Dampaknya, orang-orang yang
diserukan akan melakukan wajib. Dampaknya, orang-orang yang diserukan akan
melaksanakan suatu perkara yang tidak diperintahkan Allah. Sebaliknya, ia juga
bisa mengatakan sesuatu yang haram,
padahal sebenarnya halal. Jika seorang da’i melakukan hal seperti ini, berarti
ia telah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah.
Kedua, hendaknya secara arif ia mengathui situasi kondisi
penerima dakwah, seperti: ideologi, intelektualits, ekonomi, status sosial,
psikologi, dan latar belakang dinnya. Dengan demikian, ia dapat mengemukakan
sesuatu sesuai dengan keadaan mereka.
2.1.2.
Sendi-sendi Hikmah
Hikmah mempunyai tiga sendi atau rukun, yakni: ilmu, sabar,
dan berhati-hati.[3]
a. Ilmu
Ilmu merupakan sendi
terpenting dari hikmah. Sebab itu, allah memerintahkan manusia agar mencari
ilmu atau berilmu sebelum berkata dan beramal. Firman Allah:
óOn=÷æ$$sù ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) žwÎ) ª!$# öÏÿøótGó™$#ur šÎ7/Rs%Î! tûüÏZÏB÷sßJù=Ï9ur ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur 3
ª!$#ur ãNn=÷ètƒ öNä3t7¯=s)tGãB ö/ä31uq÷WtBur ÇÊÒÈ
Artinya: Maka ketahuilah, bahwa
Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah
ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.
b. Sabar
Al Hilm berarti akal
atau dewasa. Hilman, bentuk masdar dari halima, berarti hati-hati dan tenang
ketika marah, atau tidak membalas, sekalipun ia mampu melakukannya. Diantara
nama-nama Allah terdapat nama halim, yang bertai tidak lengah sedikit pun
terhadap perbuatan (maksiat sekecil apapun) yang dilakukan hamba-Nya. Ia tidak
terpansing emosi, tetapi ia menjadikan setia sesuatu berdasarkan kadar
tertentu.
Jadi, al hilmu
artinya menahan diri dari gejolak amarah atau suatu kondisi pertengahan antara
dua sifat negatif: marah dan dungu (hina). Jika ia berdiam diri ketika di
zhalimi, ia juga hina. Jika ia bersikap sabar (hilm), padahal mampu membalas
jika ia mau, maka kesabaran bernilai positif. Dalam hal ini terdapat unsur
sabar dan pengendalian diri. Dan awal berakhlak baik dengan bersabar adalah
pengendalian amarah. Untuk sampai pada tahap ini, diperlukan perjuangan keras,
karena dalam menahan marah, tersimpan energi yang baik, yang akhirnya tertanam
dalam jiwa dan menjadi salah satu watak. Inilah hakikat hilm (sabar).
c. Berhati-hati
Dari segi bahasa,
kata Al anaah artinya “melangkah pasti”, dengan tidak tergesa-gesa. Taanna
fil amri artinya “ia tinggal diam dan tidak terburu-buru”. Juga bisa
bermakna taraffaqa (ia lembut hati), tunazhzhara (ditunda), dan tamahhala
(ia perlahan-perlahan).
Dari penjelasan di
atas dapat disimpulkan bahwa kata al anaah artinya hati-hati, yakni bersikap
pertengahan antar cepat dan lambat.
Berhati-hati adalah
salah satu ciri akhlak sabar, dan merupakan bagian dari sifat-sifat orang yang
berakal dan arif. Sebaliknya, sikap tergesa-gesa merupakan bagian dari sifat
orang ceroboh, yang menunjukbahwa pelaku tidak memiliki kemauan kuat untuk
mengendalikan emosinya. Adapun santai merupakan sikap moral menganggap remeh
persoalan. Kedua sifat tersebut, yaitu tergesa-gesa dan santai, menunjukkan
bahwa pemilik kedua sifat tersebut tidak mampu memacu semangat untuk memalkukan
perbuata-perbuatan yang dapat mewujudkan harapannya. Atau, ia tidak mempeunyai
semangat tinggi menuju kesempurnaan. Bahkan sebaliknya, ia lebih hidup
berleha-leha serta malas melaksanaka kewajiban.
2.2 Cara
berdakwah Efektif
Menurut Steward L Tubbs, bahwa
dakwah bisa dikatakan berjalan dengan efektif apabila dapat menimbulkan
indikasi, yaitu:
1.
Pengertian.
Penerimaan yang cermat dari isi stimulasi seperti yang di maksud oleh da’i.
2.
Kesenangan,
komunikasi ini juga disebut dengan komunikasi fasis yang dimaksudkan untuk
menimbulkan kesenangan. Komunikasi menjadikan hubungan antar individu menjadi
hangat, karab, dan menyenangkan.
3.
Pengaruh
pada sikap, komunikasi juga sering dilakukan untuk mempengaruhi orang lain,
seperti seorang khatib yang ingin membangkitkan sikap keagaaman dan mendorong
jamaah dapat beribadah dengan baik.
4.
Hubungan
sosial yang maikn baik, komunikasi juga ditunjukkan untuk menumbuhkan hubungan
sosial yang baik. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat bertahan hidup
sendiri, untuk itu manusia selalu berkeinginan untuk berhubungan dengan orang
lain secara positif.
5.
Tindakan,
tindakan persuasidalam komunikasi digunakan untuk mempengaruhi sikap persuasif
, juga diperlukan untuk memperoleh tindakan yang dikehendaki oleh da’i. Dalam
hal ini, efektivitas komunikasi biasaanya diukur dari tindakan nyata oleh komunikan.[4]
Untuk
mengidentifikasikan bahwa komunikasi dakwah yang dilakukakan oleh da’i berjalan
efektif , maka ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Faktor-faktor
tersebut meliputi:
a.
Kejelasan Tujuan dan Target
Tujuan konunikasi yang jelas dan semakin spesifik
akan menghasilkan komunikasi yang semakin baik. Karena spesifik tujuan
aktifitas komunikasi, maka komunikasi tersebut akan semakin fokus.
Dalam hal ini tujuan harus mendasarkan pada dua hal
pokok, yaitu: posisi faktual pengaruh para pengemban dakwah (dalam jamaah
dakwah/mad’u) di tengah masyarakat dan sumber daya saing atau nilai yang ingin
diberikan pengemban dakwah kepada masyarakat. Dalam posisi faktual, jamaah
dakwah dapat diukur dengan pendekatan Product Lifetime Cycle, yang
meliputi tahapan sebagai berikut:
ü
Tahap
lahir, merupakan tahapan di mana, ide, pemikiran, konsep dan ekstensi belum
mempunyai “ pangsa pasar” yang besar, tetapi mempunyai potensi yang besar.
ü
Tahapan
tumbuh, tahapan ini merupakan ide, pemikiran, konsep ekstensi dikenal dan
berhasil melompati “parit” (masa transisi) menjadi standar (genre) baru,
sehingga pangsa pasar akan tumbuh berkembang. Hal itu ditanda’i dengan
apresiasi yang akan terus naik.
ü
Tahap
dewasa, tahap ini di mana permintaan berada di posisi maksimal dan tidak lagi
mengalami pertumbuhan “pangsa pasar”
masih besar, tetapi pertumbuhan stagna, karena masyarakat sudah mengenal
akrab.
ü
Tahapan
turun, akan terjadi ide , pemikiran konsep dan ektensi tidak bisa
mempertahankan “pangsa pasar”, maka yang biasa dilakukan adalah mempertahankan
agar ekstensi mad’u dakwah harus tetap ada.[5]
Selain hal tersebut di atas, ada beberapa pendekatan
yang harus dilakukan oleh para agen dakwah untuk memastikan bahwa komunikasi
yang dilakuka dapat berjalan efetif. Yaitu dengan memperhatikan beberapa
kriteria yang meliputi kejelasan target audience, strategi pesan, dan media.
b.
Kejelasan target audience
Secara prinsip, semakin jelas target audienceyang
ingin dibidik, maka efek komunikasi akan semakin optimal dan tepat sasaran.
Mad’u dakwah harus menyususn dan membuat klasifikasi target audience. Dari mereka yang tidak tahu sama sekali
tentang esensi Islam, hingga meraka tahu, mendukung dan mau terlibat. Inilah
yang dinamakan dengan segmentasi.
c.
Strategi pesan
Aktivitas kominukasi dikatakan berhasil jika pesan
yang disampaikan oleh pengirim pesan dapat dipahami secara benar oleh target
atau sasaran. Untuk itu, paling tidak ada dua hal yang harus dipersiapkan
secara matang dalam melakukan pengkomunikasian.
1.
Fokus
pesan / what to say
2.
Cara
atau pendekatan dalam menyampaikan /how to say. Semakin sederhana dan simpel
pesan yang disampaikan meski yang disampaikan kompleks, maka semakin besar
kemungkinan audience memahaminya. Bukan sebaliknya.
Pesan
tersebut , tidak melulu dalam bentuk verbal, bisa juga tulisan, tanda (gambar)
, visual, bahkan penampilan seorang.
d.
Strategi media
Strategi media merupakan bagian akhir dari proses
informasi dan komunikasi yang akan dilakukan. Pemilihan media juga sangat
menentukan keberhasilan. Efektivitasdan fesiensi komunikasi yang dilakukan.
Apakah media elektronik, media cetak, maupun media alternatif.
Setelah pendekatan-pendekatan tersebut di atas
dilakukan, maka selanjutnya yang harus dilakukan oleh komunikasi berjalan
efektif adalah dengan memperhatikan faktor “persepsi”. Persepsi didefinisikan
sebagai representatif obyek eksternal dari proses penyampaian indrawi.jika
persepsi kita tidak akurat kita tidak mungkin bisa berkomunikasi secara
efektif. Proses mencapai kesepakatan, lazimnya berlangsung secara bertahap
karena itu da’i perlu memp[erahtikan 5 sasaran pokok dalam proses komunikasi,
yaitu:
ü
Membuat
pendengar mendengarkan apa yang kita katakan (atau melihat apa yang kita
tunjukan kepada mereka).
ü
Membuat
pendengar memahami apa yang mereka dengar atau melihat.
ü
Membuat
pendengar menyetujui apa yang telah mereka dengar (atau tidak menyetujui apa
yang kita katakan, tetapi dengan pemahaman yang benar).
ü
Membuat
pendengar mengambil keputusan atau tindakan yang sesuai dengan maksud kita dan
bisa mereka terima.
ü
Memperoleh
umpan bail dari pendengar.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi
efektif akan tercapai jika maksud dari pesan yang disampaikan oleh komunikator
dapat di pahami dengan baik oleh komunikan, dan komunikasi memberikan umpan
balik seperti yang diharapkan oleh kominukator. Orang yang mampu berkomunikasi
secara efektif, tidak hanya akan mampu memotivasi orang-orang, akan tetapi juga
mampu berbicara di depan umum dalam rangka memberikan informasi, motivasi,
membujuk, mengendalikan, atau memberi instruksi. Secara spesifik komunikasi
efektif akan memiliki manfaat sebagai berikut:
-
Dapat
menghemat waktu.
-
Disukai
orang.
-
Diperhatikan
orang.
-
Memberdayakan
orang.
-
Motivasi,
menjelaskan, meyakinkan, mempengaruhi orang atau kelompok.
-
Mengembangkan
hubungan secara luas.
-
Memperkuat
profesionalisme.
Dari penjelasan diatas, dapat dilacaka dan
diidentifikasikan tentanga perbedaan komunikasi yang efektif dan tidak efektif
dalam aktivitas dakwah. yaitu melalui beberapa identifikasi sebagai berikut:
Pertama, perbedaan persepsi, hal ini merupakan suatu
hambatan komunikasi yang umum dijumpai dalam aktivitas dakwah. ini mungkin bisa
terdi akibat dari sikap heterogen manusia yang berlatar belakang pengetahuan
serta pengalaman yang berbeda: sering menerima pengalaman yang sama, tetapi
dala prespektif yang berbeda, mungkin disebabkan oleh faktor perbedaan bahasa,
perbedaan gender, budaya dan lain sebagainya. Dalam konteks ini perlakuan
kemampuan para da’i dalam mempelajari latar belakang mad’u yang akan diajak
berkomunikasi. Disamping itu harus mampu
berempati melihat situasi dari sudut pandang orang lain, dan menunda reaksi
sampai mempertimbangkan informasi yang relevan yang akan mengurangi keraguan.
Kedua, reaksi emosional, reaksi ini bisa dalam
bentuk marah, benci, mempertahankan persepsi, malu, takut, yang akan mempengaruhi
cara da’i dalam memahami pesan yang disampaikan pada ssat memmpengaruhi mad’u.
Pendekatan yang terbaik dalam hubungan emosional adalah menerimanya sebagai
proses komunikasi dan mencoba untuk memehaminya ketika emosi menimbulkan
masalah.
Ketiga, ketidak-konsistenan komunikasi verbal dan
nonverbal yaitu mencakup semua stimulus dalam suatu peristiwa komunikasi baik
yang dihasilkan oleh manusia maupun lingkungan, dan yang tidak dalam stimulus
verbal yang memiliki nilai pasang potensial bagi si pengirim maupun penerima.
Keempat, kecurigaan. Seorang kominukan mempercayai
atau mencurigai suatu pesan pada umumnya merupakan fungsi kredibelitas dari
pengiriman dan pemikiran dari penerima pesan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Hikmah (kebijaksanaan) adalah mengajak manusia menuju jalan
Allah tidak terbatas pada perkataan lembut, memberi semangat, sabar, ramah, dan
lapang dada, tetapi juga tidak melakukan sesuatu melebihi ukurannya. Dengan
kata lain, harus menempatkan sesuatu pada tempatnya. Berkata harus sesuai
dengan tempatnya, demikian pula mengajar, mendidik, memberi nasihat, dan
bermujadalah. Termasuk mujadalah dengan orang-orang dzalim.
Dakwah bisa
dikatakan berjalan dengan efektif apabila dapat menimbulkan indikasi:
Pengertian, Kesenangan, Pengaruh pada sikap, Hubungan sosial yang maikn baik,
Tindakan. Maksudnya dibawah ini:
1.
Pengertian.
Penerimaan yang cermat dari isi stimulasi seperti yang di maksud oleh da’i.
2.
Kesenangan,
komunikasi ini juga disebut dengan komunikasi fasis yang dimaksudkan untuk
menimbulkan kesenangan. Komunikasi menjadikan hubungan antar individu menjadi
hangat, karab, dan menyenangkan.
3.
Pengaruh
pada sikap, komunikasi juga sering dilakukan untuk mempengaruhi orang lain,
seperti seorang khatib yang ingin membangkitkan sikap keagaaman dan mendorong
jamaah dapat beribadah dengan baik.
4.
Hubungan
sosial yang maikn baik, komunikasi juga ditunjukkan untuk menumbuhkan hubungan
sosial yang baik. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat bertahan hidup
sendiri, untuk itu manusia selalu berkeinginan untuk berhubungan dengan orang
lain secara positif.
5.
Tindakan,
tindakan persuasidalam komunikasi digunakan untuk mempengaruhi sikap persuasif
, juga diperlukan untuk memperoleh tindakan yang dikehendaki oleh da’i. Dalam
hal ini, efektivitas komunikasi biasaanya diukur dari tindakan nyata oleh
komunikan.
Daftar
Isi
Said
Bin Ali Al Qahthani. 1994. Da’wah Islam Da’wah Bijak. Jakarta: Gema
Insani Press.
Illaihi,
Wahyu. 2010. Komunikasi Dakwah. Bandung: Rosda Karya.
Suparta,
Munzier. 2009. Metode Dakwah. Jakarta. Prenada Media.
Tombak
alam, Datuk. 1990. Kunci Sukses Penerangan dan Dakwah. Jakarta: Rineka
Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar