PESAN SINGKAT

Kamis, 15 Desember 2011

Agama Hindu


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan  makalah  yaitu:
1.      Mengetahui bagaimana tinjauan umum agama hindu yang terbagi menjadi asal-usul agama Hindu, Pembawa Agama Hindu Ke Indonesia, Sistem Ketuhanan Agama Hindu, Kitab-kitab Suci Agama Hindu, Madzhab/Sekte-sekte Agama Hindu, dan Doktrin-doktrin yang Dikembangkan Agama Hindu.
2.      Mengetahui bagaimana praktek keagamaan agama Hindu yang terbagi menjadi Ritual keagamaan dalam Agama Hindu, Upacara keagamaan Agama Hindu, Tempat-tempat Suci Agama Hindu, Kasta-kasta dalam Agama Hindu, Pengajaran Agama Hindu, dan Bandingan Agama Hindu dengan Islam.

B.     Alasan Pembahasan
Hindu yang dipergunakan sekarang sebagai nama agama pada umumnya tidak dikenal pada jaman klasik. Beratus- ratus tahun sebelum tahun masehi, penganut ajaran kitab suci Weda tumbuh subur dan berkembang pesat dalam masyarakat, sehingga para ahli menyebutkannya dengan nama agama Weda atau Jaman Weda.
Kemudian Hindu dipakai nama dengan mengambil nama tempat di mana agama itu mulai berkembang, yakni di sekitar sungai Sindu atau Indus. Kata Sindu inilah yang kemudian berubah menjadi kata Hindu karena terkena pengaruh hukum metathesis dalam bahasa Sanskerta di mana penggunaan huruf "s" dan "h" dapat ditukar- tukar, misalnya kata "Soma" dapat menjadi kata Homa, kata "Satima" dapat menjadi Hatima, dan sebagainya.
Kata Hindu atau Sindu dalam bahasa Sanskerta adalah tergolong kata benda masculine, yang berarti titik- titik air, sungai, laut, atau samudra. Air melambangkan Amrita yang diartikan air kehidupan yang kekal abadi, dipergunakan dalam upacara- upacara agama Hindu dalam bentuk tirtha (air suci).
Istilah agama dengan istilah dharma mempunyai pengertian yang sulit dibedakan, maka dalam kaitannya dengan nama agama Hindu biasa juga disebut Hindu Dharma, bahkan di India lebih umum nama ini dipakai.
Di dalam kitab suci Weda dijelaskan tujuan agama sebagai tercantum dalam sloka "MOKSARTHAM JAGADHITA YA CA ITI DHARMAH" yang artinya bahwa tujuan agama atau dharma adalah untuk mencapai jagadhita dan moksa. Moksa juga disebut Mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau juga disebut mencapai kebahagiaan rohani yang langgeng di akhirat. Jagadhita juga disebut bhukti yaitu kemakmuran dan kebahagiaan setiap orang, masyarakat, maupun negara.
Jadi secara garis besar tujuan agama Hindu adalah untuk mengantarkan umatnya dalam mencapai kesejahteraan hidup di dunia ini maupun mencapai moksa yaitu kebahagiaan di akhirat kelak.
Pembahasan tentang agama hindu dapat di bahas pada bab selanjutnya.












BAB II
TINJAUAN UMUM AGAMA HINDU

A.    Asal Usul Agama Hindu
Dalam membicarakan agama Hindu, perlu mengetahui sejarah yang panjang dari gejala-gejala keagamaan yang telah terlebur di dalam agama Hindu. Dimulai dari zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan besar di Mesopotamia dan Mesir. Karena rupanya antara tahun 3000 dan 2000 sebelum masehi di lembah sungai Sibdhu (Indus) sudah ada bangsa Sumeria di daerah sungai Eufrat dan Tigris, maka terdapat peradaban yang sama di sepanjang pantai dari laut tengah sampai ke teluk Benggala. Rentangan daerah antara tempat-tempat di sepanjang pantai dari laut tengah sampai ke teluk benggala terdapat peradaban yang sama, yang sedikit demi sedikit meningkat kepada perkembangan yang tinggi.
Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa di Punjab dan di sebelah utara Karachi, ditemukan puing-puing kota yang sangat tua berasal dari masa 2500-2000 sebelum masehi, yang memberikan gambaran tentang suatu masyarakat yang teratur dan baik.
Penduduk India pada zaman itu terkenal sebagai bangsa Dravida. Mula-mula mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tetapi lama kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memerintah negaranya sendiri, karena mereka di sebelah utara hidup sebagai orang taklukan dan bekerja pada bangsa-bangsa yang merebut negeri itu. Bangsa Dravida adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih, berpawakan kecil dan berambut keriting.[1]
Antara tahun 2000 dan 1000 sebelum masehi dari ssebelah utara masuk ke India kaum Arya, yang memisahkan diri dari kaum sebangsanya di Iran yang memasuki India melalui jurang-jurang di Pegunungan Hindu Kush.

B.     Pembawa Agama Hindu Ke Indonesia
Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Kedua tokoh besar ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan Dharma. Bukti- bukti peninggalan ini sangat banyak berupa sisa- sisa kerajaan Hindu seperti Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman di Jawa Barat.[2]
Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman di Kalimantan Timur, Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dengan rajanya Sanjaya, Kerajaan Singosari dengan rajanya Kertanegara dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, begitu juga kerajaan Watu Renggong di Bali, Kerajaan Udayana, dan masih banyak lagi peninggalan Hindu tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Raja- raja Hindu ini dengan para alim ulamanya sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan agama, seni dan budaya, serta kesusasteraan pada masa itu. Sebagai contoh candi- candi yang bertebaran di Jawa di antaranya Candi Prambanan, Borobudur, Penataran, dan lain- lain, pura- pura di Bali dan Lombok, Yupa- yupa di Kalimantan, maupun arca- arca dan prasasti yang ditemukan hampir di seluruh Nusantara ini adalah bukti- bukti nyata sampai saat ini. Kesusasteraan Ramayana, Mahabarata, Arjuna Wiwaha, Sutasoma (karangan Empu Tantular yang di dalamnya terdapat sloka "Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa") adalah merupakan warisan- warisan yang sangat luhur bagi umat selanjutnya. Agama adalah sangat menentukan corak kehidupan masyarakat waktu itu maupun sistem pemerintahan yang berlaku; hal ini dapat dilihat pada sekelumit perkembangan kerajaan Majapahit.
Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit menerapkan sistem keagamaan secara dominan yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Sewaktu meninggal, oleh pewarisnya dibuatkan pedharman atau dicandikan pada candi Sumber Jati di Blitar Selatan sebagai Bhatara Siwa dan yang kedua didharmakan atau dicandikan pada candi Antapura di daerah Mojokerto sebagai Amoga Sidhi (Budha). Raja Jayanegara sebagai Raja Majapahit kedua setelah meninggal didharmakan atau dicandikan di Sila Petak sebagai Bhatara Wisnu sedangkan di Candi Sukalila sebagai Buddha.
Maha Patih Gajah Mada adalah seorang Patih Majapahit sewaktu pemerintahan Tri Buana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk. Ia adalah seorang patih yang sangat tekun dan bijaksana dalam menegakkan dharma, sehingga hal ini sangat berpengaruh dalam pemerintahan Sri Baginda. Semenjak itu raja Gayatri memerintahkan kepada putranya Hayam Wuruk supaya benar- benar melaksanakan upacara Sradha. Adapun upacara Sradha pada waktu itu yang paling terkenal adalah mendharmakan atau mencandikan para leluhur atau raja- raja yang telah meninggal dunia (amoring Acintya). Upacara ini disebut Sradha yang dilaksanakan dengan Dharma yang harinya pun telah dihitung sejak meninggal tiga hari, tujuh hari, dan seterusnya sampai seribu hari dan tiga ribu hari. Hal ini sampai sekarang di Jawa masih berjalan yang disebut dengan istilah Sradha, Sradangan yang pada akhirnya disebut Nyadran.
Memperhatikan perkembangan agama Hindu yang mewarnai kebudayaan serta seni sastra di Indonesia di mana raja- rajanya sebagai pimpinan memperlakukan sama terhadap dua agama yang ada yakni Siwa dan Budha, jelas merupakan pengejawantahan toleransi beragama atau kerukunan antar agama yang dianut oleh rakyatnya dan berjalan sangat baik. Ini jelas merupakan nilai- nilai luhur yang diwariskan kepada umat beragama yang ada pada saat sekarang. Nilai- nilai luhur ini bukan hanya mewarnai pada waktu lampau, tetapi pada masa kini pun masih tetap merupakan nilai- nilai positif bagi pewaris-pewarisnya khususnya umat yang meyakini agama Hindu yang tertuang dalam ajaran agama dengan Panca Sradhanya.
Kendatipun agama Hindu sudah masuk di Indonesia pada permulaan Tarikh Masehi dan berkembang dari pulau ke pulau namun pulau Bali baru mendapat perhatian mulai abad ke-8 oleh pendeta- pendeta Hindu di antaranya adalah Empu Markandeya yang berAsrama di wilayah Gunung Raung daerah Basuki Jawa Timur. Beliaulah yang memimpin ekspedisi pertama ke pulau Bali sebagai penyebar agama Hindu dengan membawa pengikut sebanyak ± 400 orang. Ekspedisi pertama ini mengalami kegagalan.
Setelah persiapan matang ekspedisi kedua dilaksanakan dengan pengikut ± 2.000 orang dan akhirnya ekspedisi ini sukses dengan gemilang. Adapun hutan yang pertama dibuka adalah Taro di wilayah Payangan Gianyar dan beliau mendirikan sebuah pura tempat pemujaan di desa Taro. Pura ini diberi nama Pura Murwa yang berarti permulaan. Dari daerah ini beliau mengembangkan wilayah menuju pangkal gunung Agung di wilayah Besakih sekarang, dan menemukan mata air yang diberi nama Sindhya. Begitulah permulaan pemujaan Pura Besakih yang mula- mula disebut Pura Basuki.
Dari sini beliau menyusuri wilayah makin ke timur sampai di Gunung Sraya wilayah Kabupaten Karangasem, selanjutnya beliau mendirikan tempat suci di sebuah Gunung Lempuyang dengan nama Pura Silawanayangsari, akhirnya beliau bermukim mengadakan Pasraman di wilayah Lempuyang dan oleh pengikutnya beliau diberi gelar Bhatara Geni Jaya Sakti. Ini adalah sebagai tonggak perkembangan agama Hindu di pulau Bali.
Berdasarkan prasasti di Bukit Kintamani tahun 802 Saka (880 Masehi) dan prasasti Blanjong di desa Sanur tahun 836 Saka (914 Masehi) daerah Bali diperintah oleh raja- raja Warmadewa sebagai raja pertama bernama Kesariwarmadewa. Letak kerajaannya di daerah Pejeng dan ibukotanya bernama Singamandawa. Raja- raja berikutnya kurang terkenal, baru setelah raja keenam yang bernama Dharma Udayana dengan permaisurinya Mahendradata dari Jawa Timur dan didampingi oleh Pendeta Kerajaan Empu Kuturan yang juga menjabat sebagai Mahapatih maka kerajaan ini sangat terkenal, baik dalam hubungan politik, pemerintahan, agama, kebudayaan, sastra, dan irigasi semua dibangun. Mulai saat inilah dibangun Pura Kahyangan Tiga (Desa, Dalem, Puseh), Sad Kahyangan yaitu Pura Lempuyang, Besakih, Bukit Pangelengan, Uluwatu, Batukaru, Gua Lawah, Sistem irigasi yang terkenal dengan Subak, sistem kemasyarakatan, Sanggar/ Merajan, Kamulan/Kawitan dikembangkan dengan sangat baik.
Sewaktu kerajaan Majapahit runtuh keadaan di Bali sangat tenang karena tidak ada pergolakan agama. Pada saat itulah datang seorang Empu dari Jawa yang bernama Empu Dwijendra dengan pengikutnya yang mengembangkan dan membawa pembaharuan agama Hindu di Bali. Dewasa ini, terutama sejak jaman Orde Baru, perkembangan Agama Hindu makin maju dan mulai mendapat perhatian serta pembinaan yang lebih teratur.

C.    Sistem Ketuhanan Agama Hindu
Agama Hindu pada pokoknya tidak mempercayai adanya Tuhan dalam arti kata yang sebenarnya, seperti dalam pengertian kita umat Islam. Unsur-unsur kepercayaan kekuatan gaib, tidak tegas malah menurut filsafat wedanta, semua benda ini hanyalah khayal belaka, pada hakekatnya semua itu Tuhan.
Kekuasaan gaib yang tidak berwujud ini tidak dapat digambarkan dalam pikiran, karena dorongan untuk mengenal kekuasaan yang tak kelihatan ini, maka orang Hindu mewujudkannya dengan TRIMURTI yang terdiri dari sang Brahmana, Wisynu dan Syiwa. Brahma ialah pencipta alam semesta, wisnu adalah dewa pelindung dan siwa adalah dewa pembinasa. Pada dasarnya ketiganya adalah wujud dari satu ke Tuhanan.
a.      Brahmana
Dewa Brahma mempunyai empat buah kepala yang melihat ke segala penjuru. Ini adalah satu tanda yang menyatakan kebijaksanaannya. Ialah pencipta segala sesuatu dan isterinya Saraswati adalah Dewi Kesenian. Dewa Brahma sekarang tidak lagi dipandang sebagai dewa yang terutama. Di seluruh India hanya ada sebuah candi Brahma yaitu di Pusykar.
Dewa Wisynu makin lama makin banya pemujanya karena ia diwujudkan  sebagai dewa yang penyayang yang bertangan empat. Di tempat tidurnya berbaring seekor ular bernama Ananta, yang mempunyai seribu kepala. Ia hanya tertidur bila mendengar doa-doa dewa yang lain, mereka memerlukan seorang juru pemisah dan penolong, untuk menjaga seluruh alam, karena kadang-kadang terancam oleh kekuasaan-kekuasaan jahat.
b.      Wisynu
Menurut kepercayaan Hindu, Wisynu menjelma sepuluh kali untuk menolong dunia ini. Sembilan dari penjelmaan telah berlaku, akan tetapi penjelmaan yang kesepuluh masih akan tiba.
Kesepuluh penjelmaan (avatara) itu ialah sebagai:
a.       Ikan
b.      Kura-kura
c.       Babi
d.      Singa berkepala manusia
e.       Korcaci (orang kate)
f.       Parasuratna (seorang Brahmana)
g.      Rama
h.      Krisyna
i.        Buddha Gautama
j.        Kalki
Semua penjelmaan ini gunanya untuk menolong dunia dan manusia.
c.       Syiwa
Dewa Syiwa diwujudkan sebagai seorang pengemis kayangan dan sebagai seorang pelancong yang suka bergaul dengan hantu dan orang halus yang selalu berkeliaran di tempat-tempat pembakaran mayat di gurun pasir. Ia tak mempunyai istana, sebab ia diam bersama istri-istrinya di Durga di atas gunung Kailasa di pegunungan Himalaya. Menurut orang Hindu hal ini adalah akibat dari pada sumpah dewa Brahma karena Syiwa telah memancung salah sebuah kepala Brahma ketika timbul pertengkaran antara keduanya tentang kekuasaan.
Ia menjadi Dewa dari orang-orang pertama dan mereka yang telah menguasai hukum-hukum alam. Binatang kendaraannya Nandi pun dipuja orang. Istrinya mempunyai beberapa nama: Pati, Durga, Kali, Sakti, Uma, dan sebagainya. Anak mereka ada dua orang yaitu Ganesya dan Kartikaya.
Dari kedua anak Syiwa ini, Ganesyalah yang lebih dihormati orang. Ia adalah dewa kecerdasan dan kesabaran. Ia berkepala gajah dan berbadan manusia. Hal inipun adalah akibat sumpah dari Dewa Brahma. Kartikaya, anak bungsu adalah Dewa peperangan.[3]
Ibadat dan pemujaan tidaklah hanya dihadapkan kepada mahadewa Brahma, Wisynu dan Syiwa tetapi lebih dahulu langsung kepada tenaga dan daya alam yang dianggap sebagai dewa, yang langsung mempengaruhi kehidupan manusia. Tenaga dan kekuatan alam inilah yang sebenarnya dipuja. Nama dari masing-masing dewa itu adalah daya alam itu sendiri. Diantara dewa-dewa itu ialah:
1.      Surya (Dewa Matahari)
2.      Agni (Dewa Api Suci)
3.      Wayu (Dewa Angin)
4.      Candra (Dewa Bulan)
5.      Waruna (Dewa Alam/Angkasa)
6.      Marut (Dewa Badai/Topan)
7.      Paryania (Dewa Hujan)
8.      Acwin (Dewa Kembar atau Dewa Kesehatan)
9.      Usa (Dewa Fajar)
10.  Indra (Dewa Perang)
11.  Westra (Dewa Jahat)
Diantara semua dewa-dewa itu yang terutama sekali dan paling banyak mendapat puji-pujian ialah dewa Indra dan Agni. Dewa indra dipandang juga sebagai dewa rahmat yang membawa kebahagian. Dewa indra juga mendapat julukan dengan sebutan “puramdara” yaitu dewa penggempur benteng. Hal ini mengingatkan mereka ketika bangsa Arya mula-mula dating kelembah Sindhu dengan peperangan, bertemu dengan bangsa Dravida yag bertahan dalam Sembilan puluh benteng, akhirnya bangsa dravida dapat dikalahkan. Bagi bangsa arya kemenangan ini sebagai pertolongan dari dewa indra.
Dewa Indra adalah dewa yang terus menerus berperang menggempur dewa wertra, yaitu dewa jahat yang selalu menahan air hujan dalam gumpalan-gumpalan awan. Dewa pertolongan Indra memaksa wertra akhirnya hujan turun ke bumi.
Dalam memuja Dewa Indra, biasa dipersembahkan saji yang berisi soma, yaitu semacam minuman dari getah tumbuh-tumbuhan candu yang biasa memabukkan. Maksud saji ini agar Dewa Indra terus berperang dalam keadaan mabok dan tak peduli, sehingga Wertra dapat dikalahkannya.
Dewa kedua yang dianggap mulia dan lebih banyak dapat pujaan ialah dewa api (agni), karena agni sebagai sahabat bagi manusia dalam hidupnya. Di dalam setiap rumah sudah tentu dibutuhkan api untuk memasak, untuk penerangan dan pemanas. Pada setiap upacara pemujaan, api tidak boleh ketinggalan, api menjadi syarat utama.
Pada waktu upacara pemujaan dewa yang disembah dimohon agar turun, duduk di atas selembar tikar kuca (tikar rumput) yang dibentangkan, lalu barang-barang sajian dimasukkan ke dalam api, sebagai khayalan bahwa sajian ini dimasukkan ke dalam mulut dewa.
Selain kepada Dewa Indra dan Agni ada juga dilakukan pemujaan, menurut kebutuhan masing-masing yang memuja. Dan bagi tiap-tiap keluarga dan rumah tangga, kepala keluargalah yang berkewajiban melakukan saji dalam pemujaan menurut apa yang dibutuhkan oleh keluarganya.
Hanya pada ketika memuji dan memuja suatu dewa dalam memohon kebutuhan dan hajat, si pemuja hendaklah meletakkan suatu kepercayaan dalam hatinya, bahwa tidak ada suatu dewa yang lain selain dewa yang disembahnya itu.

D.    Kitab-kitab Suci Agama Hindu
1.      Masa Agama Weda
Pada zaman ini hidup keagamaan orang Hindu didasarkan atas kitab-kitab yng disebut: weda samitha, yang berarti pengumpulan weda. Kata “weda” berasal dari “wid” = tahu, jadi weda artinya pengetahuan yang amat tinggi[4]. Menurut tradisi Hindu kitab-kitab ini ialah buah ciptaan dewa Brahmana sediri. Isinya diwahyukan oleh dewa Brahmana kepada para resi atau para pendeta dalam bentuk mantera-mantera, yang kemudian disusun sebagai puji-pujian oleh para resi sebagai pernyataan rasa hatinya.
Pada waktu bangsa Arya memasuki India mereka telah mempunyai kitab Weda tersebut. Matera-mantera tadi disusun lalu dibukukan menjadi 4 bagian atau samhita (pengumpulan). Keempat Samhita tersebut ialah:
1.        Rig Weda, berisi 1028/sukta atau mantera-mantera dalam bentuk nyanyian digunakan untuk mengundang para dewa agar hadir pada upacara-upacara korban yang dipersembahkan kepada mereka (dewa-dewa). Imam-imam atau pendeta yang mengajukan pujian ini disebut: Hotr
2.        Sama Weda, hampir sama dengan Rig Weda, hanya diberi “sama” atau lagu. Imam atau pendeta yang menyanyikannya: disebut Udgatr.
3.        Yayur Weda, berisi yayur atau rapal. Rapal tersebut dipakai untuk mengubah korban menjadi makanan para dewa. Singkatnya, berisi tentang du’a-du’a untuk pengantar saji-saji yang dipersembahkan kepada dewa-dewa dengan diiringi pengajian Rigweda dan nyanyian samaweda.[5]  Pendeta atau imamnya disebut: Arwarya.
4.        Atharawa weda, berisi mantera-mantera khusus untuk menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, pengikat cinta, menghancurkan musuh dan sebagiannya. Dipimpin oleh atharawan (golongan pendeta sendiri).
Isi kitab weda pada umumnya mengenai ritus (upacara-upacara keagamaan) terutama korban. Bermacam-macam cara korban diuraikan di dalamnya dan yang terpenting ialah korban yang menggunakan air soma (semacam minuman yang penyelenggaraannya memerlukan banyak tenaga dan biaya).
Korban-korban itu dipersembahkan kepada dewa-dewa yang pada hakikatnya merupakan personifikasi dari kekuatan-kekuatan alam yang dahsyat atau menakutkan seperti dewa Agni (api), surya (matahari), vayu (angin), maruta (taufan), pertiwi (bumi), Indra (perang), Waruna (langit), Rud (perusak), dan lain-lain.
Pandangan mereka terhadap dewa-dewa pada zaman permulaan weda ini, pada hakikatnya adalah seperti kepercayaan bangsa Arya di Iran sebelum mereka masuk India terlebih dahulu. Jadi politeisme, yaitu mempercayai dan menyembah banyak dewa dan dewa-dewa itu antara satu dengan yang lain sama tinggi kedudukannya. Pandangan mereka terhadap wujud dewa itu pun masih kabur, belum ada gambaran tentang adanya satu dewa yang tertinggi.
Dalam kepercayaan kuno, disamping dewa-dewa masih ada lagi roh-roh jahat yang berkuasa dan sebagian merupakann musuh dewa. Dewa-dewa tersebut kadang-kadang satu diantaranya dianggap paling atas tetapi di saat lain berganti dewa lain yang dianggap menduduki tempt tertinggi. Seperti Indra kemudian Waruna dan pada saat lan Prajapati yang tertinggi.
Karena belum adanya gambaran tentang dewa yang berpribadi, maka sikap penyembahan mereka terhadap dewa-dewanya, bukan sebagi makhluk yang rendah terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, melainkan sebagai daya upaya mempengaruhi kekuatan-kekuatan gaib agar mengikuti kehendak mereka. Jadi hubungan mereka dengan kekuatan-kekuatan tersebut bersifat magis, sehingga fungsi ritus menjadi amat penting sebagai alat untuk mempengaruhi dewa-dewa.
2.      Masa Agama Brahmana
Agama Brahmana bersumber kepada kitab Brahmana, yaitu bagian kitab weda yang ke-2. Kitab-kitab ini ditulis oleh para imam atau brahmana dalam bentuk prosa. Isinya memberi keterangan tentang korban. Hal ini disebabkan karena zaman ini adalah suatu zaman yang memusatkan keaktifan rohaninya kepada korban. Oleh karena itu kitab-kitab ini menguraikan upacara-upacara korban, membicarakan nilainya serta mencoba mencari asal-usul korban.
Pada zaman Brahmana ini memang timbul perubahan-perubahan suasana. Ciri-ciri zaman ini adalah:
1.      Korban mendapat tekanan berat.
2.      Para imam (Brahmana) menjadi golongan yang paling berkuasa.
3.      Perkembangan kasta dan asrama.
4.      Dewa-dewa berubah perangainya.
5.      Timbulnya kitab-kitb sutra.
3.         Masa Agama Upanishad
Upanishad artinya duduk bersimpuh ddidekat gurunya untuk mendengarkan wejangan-wejangan yang bersifat rahasia (khusus). Upanishad terutama mengandung ajaran-ajaran filosofis tentang hakikat atma (Atmawidya). Jadi titik beratnya adalah ontology. Didalamnya diuakan tentang hubungan antara Brahman dan Atma. Upanishad juga sering disebut Wedanta, artinya akhir Weda. Ada banyak kitab Upanishad yang jelas lebih dari 100 buah.
4.         Masa Agama Pancasradha
a)      Atman
Dijelaskan bahwa Atman adalah hakiakat manusia yang sebenarnya.
b)      Brahman
Brahman diartikan do’a dan kemudian kekuatan gaib yang terkandung dalam do’a. Karena dalam Agama Brahmana korban dan do’a dinilai tinggi sekali, maka arti Brahman pun menjadi tinggi
c)      Samsara
Samsara adalah perputaran kelahiran kembali. Hanya manusia yang telah mencapai atman yang mulia dan yang teu akan maya saja yang dapat mengatasi hukum karma dan mencapai moksha
d)     Karma
Karma meluti kehidupan dahulu, sekarang dan yang akan datang. Karma berarti kehidupan sebelumnya. Menurut Harun Hadiwijono, ajaran Karma ini berakar pada ajaran arta dalam agama Weda Purba, pada agama Brahmana yang memusatkan perhatian pada korna atau mempunyai arti yang sama dengan korban atau yajna.
e)      Yoga
Yoga dalam pengertiannya yang sederhana adalah usaha mendisiplinkan diri. Yoga terdiri dari emapt macam dan tiap orang boleh memilih beberapa diantara yang empat itu sesui dengan bakat dan kemampuan masing-masing yaitu:
1)   Bhakti Yoga: dengan sujud bakti, dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan.
2)   Karma Yoga: dengan melakukan kewajiban-kewajiban dan perbuatan-perbutan baik dengan ikhlas tanpa pamrih.
3)   Jnana Yoga: dengan jalan pengetahuan atu filsafat, tetapi yang dimaksud semula ialah pengetahuan yang berdasarkan intuisi.
4)   Raja Yoga: dengan jalan mistik, yang terdiri dari beberapa tahap yang disebut dengan Astangga Yoga.[6]

E.     Madzhab/Sekte-sekte Agama Hindu
Jalan yang dipakai untuk menuju Tuhan (Hyang Widhi) jalurnya beragam, dan kemudian dikenallah para dewa. Dewa yang tertinggi dijadikan sarana untuk mencapai Hyang Widhi. Aliran terbesar agama Hindu saat ini adalah dari golongan Sekte Waisnawa yaitu menonjolkan kasih sayang dan bersifat memelihara; yang kedua terbesar ialah Sekte Siwa sebagai pelebur dan pengembali yang menjadi tiga sekte besar, yaitu Sekte Siwa, Sekte Sakti (Durga ), dan Sekte Ganesha, serta terdapat pula Sekte Siwa Siddhanta yang merupakan aliran mayoritas yang dijalani oleh masyarakat Hindu Bali, sekte Bhairawa dan Sekte - Sekte yang lainnya. Yang ketiga ialah Sekte Brahma sebagai pencipta yang menurunkan Sekte Agni, Sekte Rudra, Sekte Yama, dan Sekte Indra. Sekte adalah jalan untuk mencapai tujuan hidup menurut Agama Hindu, yaitu moksha (kembali kepada Tuhan), dan pemeluk Hindu dipersilahkan memilih sendiri aliran yang mana menurutnya yang paling baik/bagus.[7]

F.     Doktrin-doktrin yang Dikembangkan Agama Hindu
Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk.
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Pancasradha. Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:
1.    Widhi Tattwa - percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
2.    Atma Tattwa - percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
3.    Karmaphala Tattwa - percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan
4.    Punarbhava Tattwa - percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
5.    Moksa Tattwa - percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia.
Widhi Tattwa merupakan konsep kepercayaan terdapat Tuhan yang Maha Esa dalam pandangan Hinduisme. Agama Hindu yang berlandaskan Dharma menekankan ajarannya kepada umatnya agar meyakini dan mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan dalam kitab Weda, Tuhan diyakini hanya satu namun orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Dalam agama Hindu, Tuhan disebut Brahman. Filsafat tersebut tidak mengakui bahwa dewa-dewi merupakan Tuhan tersendiri atau makhluk yang menyaingi derajat Tuhan.
Atma tattwa merupakan kepercayaan bahwa terdapat jiwa dalam setiap makhluk hidup. Dalam ajaran Hinduisme, jiwa yang terdapat dalam makhluk hidup merupakan percikan yang berasal dari Tuhan dan disebut Atman. Jivatma bersifat abadi, namun karena terpengaruh oleh badan manusia yang bersifat maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut Awidya. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatma mengalami proses reinkarnasi berulang-ulang. Namun proses reinkarnasi tersebut dapat diakhiri apabila Jivatma mencapai moksa.
Agama Hindu mengenal hukum sebab-akibat yang disebut Karmaphala (karma = perbuatan; phala = buah/hasil) yang menjadi salah satu keyakinan dasar. Dalam ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil, baik atau buruk. Ajaran Karmaphala sangat erat kaitannya dengan keyakinan tentang reinkarnasi, karena dalam ajaran Karmaphala, keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah reinkarnasi.
Punarbhawa merupakan keyakinan bahwa manusia mengalami reinkarnasi. Dalam ajaran Punarbhawa, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Apabila manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya (baik atau buruk) yang belum sempat dinikmati. Proses reinkarnasi diakhiri apabila seseorang mencapai kesadaran tertinggi (moksa).
Dalam keyakinan umat Hindu, Moksa merupakan suatu keadaan di mana jiwa merasa sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya karena tidak terikat lagi oleh berbagai macam nafsu maupun benda material. Pada saat mencapai keadaan Moksa, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi menikmati suka-duka di dunia. Oleh karena itu, Moksa menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh umat Hindu.[8]














BAB III
PRAKTEK KEAGAMAAN DALAM AGAMA HINDU

A.      Ritual keagamaan dalam Agama Hindu
Ada dua macam ritual hindu yang lazim dikalangan orang hindu masa kini,yaitu yang disebut sebagai ritual keagamaan Vedis dan agamis. Ritual-ritual Vedis pada pokoknya meliputi kurban-kuban para dewa. Suatu upacara korban berupa melekukan persembahan, seperti mentega cair, bulir-bulir padi, sari buah soma dan dalam kesempatan tertentu juga binatang, kepada suatu dewata. Biasanya sesajian ini ditempatkan pada baki suci ataupun-atau lebih umum dilemparkan kedalam api suci yang telah dinyalakan diatas altar pengurbanan. Imam-imam mempersembahkan kurban-kurban melalui perantaraan Dewa Api (Agni) yang menjadi perantara dewa dengan manusia.
Ada suatu perbedaan antara upacara-upacara keagamaan umum yang besar (Srauta) dengan upacara-upacara domestic (Grhya). Upacara-upacara keagamaan umum dilakukan oleh imam-imam-imam dengan dengan rumusan samhita dan memerlukan tiga persiapan. Sedangkan upacara domestik dilakukan didepan tungku keluarga oleh kepala keluarga dengan menggunakan rumusan dari kumpulan do’a khusus. Ritual ini memikat orang-orang india purba sedemikian rupa sehingga mereka melihat segala sesuatu dengan kacamata rumusan-rumusan dan cara-cara prosedur yang dituntut untuk memenuhi kewajiban keagamaan. Orang yang tahu menyusun bata-bata altar perapian dan menjalankan persembahan korban dengan tepat dan memperoleh pewahyuan tentang misteri-misteri yang agung.
Bentuk-bentuk ritual yang paling meriah didahului dengan konsekrasi (diksha) yang bertujuan mengangkat peserta dari lingkungan profane kelingkungan yang kudus, suatu proses pendakian yang berat (durohana) dengan membebaskannya dari kebusukan-kebusukan didunia. Pada akhir upacara, proses balik terjadi, yakni dari lingkungan yang kudus. Obyek yang telah dikuduskan dihanyutkan dalam  aliran air. Ritual Vedis merupakan ritual yang menetapkan suatu hubungan antara dunia ilahi dan dunia manusia, bahkan memberi wawasan tentang hakikat yang ilahi.
Upacara domestik yang dilakukan dirumah ada dua macam: yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari yakni semacam persembahan dan sesuatu yang disebut sakramen-sakramen hindu (samskaras). Lewat sakramen-sakramen inisecara bertahap pribadi mencapai tingkat ‘kelahiran kedua’ dan diteguhkan dalam kedudukan istimewa. Upacara ini meliputi tahap penting dari keberadaan manusia, sejak kelahiran hingga kematian dan dialam baka.
Ritual Agamis memusatkan perhatian pada pujaan-pujaan, pelaksanaan puasa serta pesta yang termasuk bagian agama hindu yang merakyat.[9]

B.       Upacara keagamaan Agama Hindu
1.      Upacara Nyepi
Upacara Nyepi adalah upacara dimana semua warga Hindu khusunya untuk berpuasa 1 hari penuh dengan tujuan semua dosanya di ampuni oleh Tuhannya. Ketika proses penyepian berlangsung semua warga di Bali di wajibkan untuk mematikan semua listrik dan juga di larang membuat kegaduhan selama penyepian. Ketika malam hari semua warga tidak diperkenankan untuk menyalakan lampu dan juga hal-hal yang terang sperti lilin. Upacara Nyepi ini bertepatan dengan SASIH KESANGE (bulan kesange) tau di bulan masehi bertepatan dengan bulan Maret atau April.
2.    Upacara ogoh-ogoh
Upacara ogoh-ogoh ini bertepatan sehari sebelum penyepian berlangsung. Upacara ini diadakan dengan membuat kreasi-kreasi patung yang menyeruapai BARONG yang terbuat dari bambu-bambu, kayu, dan juga di lapisi dengan kertas semen dan cara membawa ogoh-ogoh ini dengan cara mengarak (mengusungnya) dengan diiringi musik yang bernama BLEGANJUR. Upacara ini diadakan dengan bertujuan mengusir Bhuta Kala (Roh-roh Jahat). Ogoh-ogoh biasanya di buat hanya perbanjar/perdusun tetapi sekarang kita bisa membuatnya perkelompok. Tiap kelompok pun bermacam-maca, jumlahnya, ada yang 15 sampai dengan 30 orang perkelompoknya. Ogoh-ogoh juga bisa diperlombakan, perlombaan ogoh-ogoh dilaksanakan antar banjar/dusun.
3.    Upacara Ngaben
Upacara Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang dilakukan pada saat ada kematian di kalangan umat Hindu. Upacara ini dilakukan untuk mengambil sisa abu si mayat agar bisa di sucikan. Upacara ngaben juga hampir mirip dengan ogoh-ogoh, tetapi perbedaan di upacara ngaben ini hanya di medianya saja. Upacar ngaben di butuhkan BADE atau yang dikenal alat untuk mengusung mayat. Tentunya upacara Ngaben ini dilakukan di pemakaman dan juga saat mengusung BADE tersebut masyarakat hindu berjalan kaki meskipun jarak yang ditempuh sampai berkilo-kilo. Saat mengusung BADE biasanya masyarakat Hindu melantumkan doa yang bernama ONG SARWA KARYA PRASIDANTA NAMA SWAHA juga diiringi dengan gamelan  ANGKLUNG.[10]

C.    Tempat-tempat Suci Agama Hindu
Tempat suci Hindu adalah suatu tempat maupun bangunan yang dikeramatkan oleh umat Hindu atau tepat persembahyangan bagi umat Hindu untuk memuja Brahman beserta aspek-aspeknya. Di Tanah Hindu, banyak kuil yang didedikasikan untuk Dewa-Dewi Hindu, beserta inkarnasinya ke dunia (awatara), seperti misalnya Rama dan Kresna. Di India setiap kuil menitikberatkan pemujaannya terhadap Dewa-Dewi tertentu, termasuk memuja Bhatara Rama dan Bhatara Kresna sebagai utusan Tuhan untuk melindungi umat manusia.
Tempat suci Hindu umumnya terletak di tempat-tempat yang dikelilingi oleh alam yang asri, seperti misalnya laut, pantai, gunung, gua, hutan, dan sebagainya. Namun tidak jarang ada tempat suci Hindu yang berada di kawasan perkotaan atau di dekat pemukiman penduduk.
Tempat suci Hindu memiliki banyak sekali sebutan di berbagai belahan dunia, dan nama tersebut tergantung dari bahasa yang digunakan. Umumnya berbagai nama tersebut memiliki arti yang hampir sama, yaitu merujuk kepada pengertian “Rumah pemujaan kepada Tuhan”.
Berbagai istilah tempat suci Hindu yaitu:
a.       Mandir atau Mandira (bahasa Hindi – salah satu bahasa resmi India)
b.       Alayam atau Kovil (bahasa Tamil)
c.        Devasthana atau Gudi (Kannada)
d.       Gudi , Devalayam atau Kovela (bahasa Telugu)
e.        Puja pandal (bahasa Bengali)
f.        Kshetram atau Ambalam (Malayalam)
g.        Pura atau Candi (Indonesia: Bali, Jawa, dll.)
Terdapat juga berbagai nama lain seperti Devalaya, Devasthan, Deval atau Deul, dan lain-lain, yang berarti “Rumah para Dewa”. Biara Hindu sering disebut Matha, dimana para pendeta dididik dan guru spiritual tinggal. Kebanyakan tempat-tempat tersebut merupakan rumah kuil.
Bangunan suci Hindu umumnya menyerupai replika sebuah gunung, karena menurut filsafat Hindu, gunung melambangkan alam semesta dengan ketiga bagiannya. Selain itu, gunung merupakan kediaman para Dewa, seperti misalnya gunung Kailasha yang dipercaya sebagai kediaman Dewa Siwa. Selain menyerupai gunung, terdapat bangunan suci Hindu yang memiliki atap bertumpuk-tumpuk, dan di Indonesia dikenal dengan istilah Meru. Meru merupakan lambang dari lapisan alam, mulai dari alam terendah sampai alam tertinggi.
Arsitektur bangunan suci Hindu tidak lepas dari aturan-aturan yang termuat dalam kitab suci. Dalam pembangunan suatu tempat suci Hindu, arsitekturnya harus mengikuti apa yang termuat dalam sastra suci Hindu. Di Indonesia, selain berbentuk candi dan meru, bangunan suci Hindu juga berbentuk gedong dan padmasana.
Dalam bangunan suci Hindu, tidak jarang dijumpai relief atau pahatan, serta patung-patung yang berada di sekeliling areal suatu tempat suci. Umumnya patung-patung tersebut melambangkan Dewa-Dewi yang muncul dalam sastra dan mitologi Hindu. Fungsi berbagai patung dalam bangunan suci Hindu adalah sebagai hiasan atau simbol, karena bukan untuk disembah.[11]

D.    Kasta-kasta dalam Agama Hindu
Perbedaan susunan masyarakat Hindu dari masyarakat lain di dunia ini karena adanya golongan-golongan yang eksklusif dan berdiri sendiri dalam masyarakat mereka, golongan-golongan ini disebut kasta. Tiap kasta mempunyai kedudukan sosial yang sangat tajam batas-batasnya, batas-batas mana diasaskan pada Hinduisme. Hanyalah asal kelahiran yang menentukan kedudukan sesuatu golongan dan seseorang dalam masyarakat Hindu, yang tidak dapat diubah oleh prestasi apapun dalam hidup seseorang. Perbedaan besar antara mesyarakat Hindu dengan golongan-golongan bangsa-bangsa lain ialah: bahwa perbedaan derajat yang ditimbulkan asal kelahiran ini dapat berubah ole adanya prestasi seseorang dalam hidupnya, sedang masyarakat Hindu percaya bahwa pembedaan derajat itu berakar dalam prinsip-prinsip yang tidak dapat diubah sama sekali.
Golongan kasta yang utama adalah :
1.    Brahmana, yang terdiri dari golongan pendeta dan ulama-ulama.
2.    Ksatrya terdiri dari perwira balatentara, dan pegawai negeri.
3.    Waisya, yaitu kaum buruh, tani, dan saudagar.
4.    Sudra, yaitu hamba sahaya dan orang-orang yang mengerjakan pekerjaan yang hina.
Perlu diketahui bahwa anggota-anggota keempat kasta tadi, tidak sudi terhadap satu sama lainnya. Mereka tidak diizinkan berhubungan antara yang satu dengan yang lain dengan begitu saja, misalnya dalam perkawinan antara orang-orang dari kasta yang berlainan.
Di bawah katagori yang keempat tadi, masih ada golongan ke-lima yaitu golongan Paria yang biasa disebut dengan outcast. Golongan ini hampir tidak dapat dinamakan suatu suatu kasta dan malah tidak boleh didekati. Anggota-anggota kasta yang empat tadi tidak boleh berhubungan langsung dengan anggota-angngota golongan ini.[12]

E.     Pengajaran Agama Hindu
Seorang anak Hindu telah faham akan peraturan-peraturan di dalam Hinduisme dari pada seorang anak di dalam agama-agama lain. Hal ini disebabkan karena hidup seorang Hindu itu telah terjalin di dalam agamanya. Hidupnya tidak dapat dipisah-pisahkan dari paham Hindu itu. Seorang anak Hindu dengan sendirinya mempelajari dewa-dewanya.
a.     Lembu
Seorang Hindu memandang lembu sebagai binatang yang suci, menghormati dan memujanya serta melarang menyembelihnya. Membunuh seekor lembu sama dosanya dengan membunuh seorang Brahma. Memakan daging lembu diangap lebih kejam daripada makan daging manusia.
Selain dari lembu ada binatang-binatang lain yang dipandang suci yaitu ular. Pemujaan terhadap ular dilakukan di India Selatan dan Benggala. Raja dari segala ular ialah Ananta yang mempunyai 1000 kepala. Di atas pungung ular ini Dewa Wisynu berbaring sepanjang masa. Untuk menghormati ular diadakan upacara tersendiri.
Pohon banya (sebangsa beringin) dianggap juga suci oleh orang Hindu. Di bawah pohon yang rindang inilah para pujangga memperdengarkan cerita-cerita yang terkenal di dalam kesusateraan.
b.        Tempat-tempat suci
Tempat suci yang terutama adalah di Benares. Kota yang dipandang suci terutama karena menjadi tempat dewa Syiwa. Setiap orang Hindu yang alam cita-citanya tak lain hanya ingin menghembuskan nafasnya yang penghabisan di kota ini. Kota ini penuh dengan candi-candi, ada kira-kira 2000 banyaknya. Kebanyakan adalah candi Syiwa.
c.         Kesucian sungai gangga
Sungai Gangga ini dianggap sungai yang suci, sebab airnya dapat mensucikan segala dosa. Sedangkan tulang dan abu dari seorang mayat yang sudah dibakar dan dilemparkan kedalamnya menyebabkan arwahnya terus masuk kedalam surga. Pada masa-masa yang tertentu orang pergi kesana untuk menghanyutkan dosa, dan sungai itu diberi pujaan-pujaan yang berupa bunga-bungaan, ditepi sungai ini terletak kota Benares.
d.        Pembakaran mayat
Menurut syarat agama Hindu, mayat seorang yang meninggal iti dibakar. Upacara pembakaran mayat adalah salah satu upacara ibadat yang besar. Pembakaran yang termulia ialah kalau dilakukan di tepi sungai Gangga yang suci dan abunya dihanyutkan ke dalamnya.
e.    Surga dan neraka
Gunung dewata Mahameru dianggap tempat tinggal dewa-dewa. Di atas Mahameru itulah letaknya surga. Adapun neraka terdapat di bawah bumi, dan dikuasai oleh Yama, dewa maut yang memberi keputusan tentang kedudukan dari orang yang menghadap itu. Setelah beberapa lama ia tinggal dan ditahan ia pun dilepaskan dan dilahirkan kembali.
f.         Qurban dan sajian
Ajaran Hindu tentang qurban, menurut bentuknya, lamanya dan harganya dapat dibagi menjadi dua bagian.
1.         Yayna besar
Qurban-qurban ini dijalankan oleh padri-padri yang dipilih oleh Yayamana (yang mengongkosi upacara). Yayamana harus membelanjai berupa ternak, barang dan uang. Padri-padri pula mendapat bagiannya.
2.         Yayna kecil
Qurban ini dijalankan dengan hanya satu api tapi upacara. Tiap-tiap greharta mempunyai api upacara. Dan prakteknya Yayna ini bertalian rapat dengan hidup sehari-hari.[13]

F.     Bandingan Agama Hindu dengan Islam
1.         Tuhan Yang Maha Esa
Sudah diterangkan di atas pengertian ketuhanan dalam agama Hindu sangat berbeda dengan Islam, malah dapat dikatakan bahwa agama Hindu tidak mempercayai adanya Tuhan dalam arti yang sebenarnya. Yang ada di sana hanya berupa kekuasaan ghaib Hindu mewujudkannya dengan Dewa dan Dewi. Diantara dewa-dewa yang terpenting ialah Brahma (pencipta alam), Wisynu (pemelihara alam), dan Syiwa (pembinasa alam), yang ketiga-tiga disebut Trimurti. Mula-mula Brahma dianggap sebagai Dewa tertinggi, kemudian derajadnya jatuh dan merosot dan kedudukannya diganti oleh Wisynu dan Syiwa. Penyembah Wisybu lebih memuliakan Wisynu dari pada Syiwa, sedang penyembah Syiwa lebih mengutamakan Syiwa, yang dapat muncul berupa macam-macam Dewa.
Sebagai Mahakarya Syiwa menguasai kematian dan menyebabkan dunia ini binasa. Dan sebagai mahaguru ia pengajar besar dan contoh bagi para pertapa. Sebagai mahadewa atau mahaswara ia menjadi rata dewata yang menguasai hidup dan mati.
Sedangkan agama Islam hanya mempercayai Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat kesempurnaan-Nya tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, sebagaimana yang disifatkan oleh surat Al-Ikhlas: 1-4.
Katakanlah hai Muhammad! Allah itu Esa, Allah tempat meminta. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada pula yang menyerupai-Nya
Dalam Al-Qur’an ada 4 macam syirik:
a.       Percaya bahwa Tuhan itu banyak
b.      Percaya bahwa selain Tuhan itu ada barang-barang yang mempunyai sifat-sifat Tuhan
c.       Percaya bahwa sesuatu itu ada pertalian keluarga dengan Allah
d.      Percaya bahwa ada sesuatu yang dapat mengerjakan hal-hal yang hanya dapat dikerjakan oleh Allah sendiri.
2.         Kitab Suci
Kitab suci dalam Islam adalah Al Qur’anul Karom, seluruh isinya ialah wahyu Tuhan kepada Nabinya Muhammad SAW; para ulama dan umat Islam tidak akan mampu merobahnya; pikiran dan ciptaan manusia tidak mencampurinya. Sedangkan sabda dan ucapan dari Nabi yang membawanya tidak termasuk didalamnya bahkan terpisah sama sekali dengan sebutan yang terkenal ialah hadis (sunnah). Nabi Muhammad sendiri memperingatkan demikian. Apalagi ucapan para sahabat, para ulama dan sarjana tidak mungkin dapat dimasukkan didalamya.
Tetapi dalam agama Hindu kitab Weda yang mula-mulanya hanya satu, yang bernama Rigweda itu, tidak diketahui siapa nabi yang membawanya. Kitab yang satu itu akhirnya telah bertambah menjadi tiga, dari tiga menjadi empat, dan selanjutnya dari masa kemasa semakin banyak tambahnya, sehingga selain Bhrahmana, Upanishad, Purana, Tantra, dan sebagainya, pun kitab-kitab cerita, filsafat dan kebudayaan, seperti Ramayana dan Bagawad Gitajuga telah digolongkan ke dalam apa yang dinamakankitab suci. Hal ini lebih menjelaskan kepada kitabahkan kedudukan agama Hindu, tepat jika dinamai agama kebudayaan, agama Thabi’I hasil ciptaan manusia.
3.         Roh Manusia
Dalam agama Hindu terdapat dua macam filsafat tentang roh manusia, yaitu filsafat Wedanta dan filsafat Sangkya. Paham Pantheisme seperti yang diajarkan oleh filsafat Wedanta maupun filsafat Sangkya tidak dibenarkan oleh Islam.
Menurut Islam alam semesta ini termasuk juga roh manusia adalah makhluk Tuhan yang ada permulaannya dan penghabisannya, dapat rusak dan binasa, dan hanya Allah sajalah yang bersifat qidam dan baqa. Firman Allah dalam surat Ar-Rahman: 26,27: “Tiap-tiap yang di atas bumi ini akan rusak dan binasa, dan hanya Tuhanlah yang kekal selama-lamanya. Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Mulia”.[14]
4.         Hukum Karma
Biasa juga disebut dengan the law of cause and effect, atau hukum sebab akibat.
Agama Hindu mengejarkan bahwa tiap-tiap amal perbuatan manusia itu ada pahala/siksanya. Islam mengajarkan, bahwa amal perbuatan manusia akan diberi ganjaran atau balasan baik dan buruk dari Tuhan.
Tetapi menurut agama Hindu manusia tidak mungkin menerima pahala atau siksa yang tidak terbatas, karena ada hukum karm itu. Sedangkan menurut Islam hukum pembalasan itu terletak di tangan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang sepenuhnya. Artinya Tuhan berkuasa memberi pahala yang tidak terbatas atas amal baik manusia yang terbatas itu, dan lagi Tuhan itu Maha Pengampun, dapat mengampuni dosa dan mengurangi siksa dan amal yang jahat.
Kebahagiaan atau penderitaan hidup di dunia menurut Islam bukanlah hasil dari perbuatan manusia pada hidup yang lain, karena hasil dari perbuatan manusia itu akan diterimanya baru nanti di akhirat dengan sepenuh-penuhnya dan dengan wujug yang senyata-nyatanya, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-zalzalah: 7-8 yang artinya:
“barang siapa yang berbuat kebaikan walaupun sekecil biji dzarah akaln dilihatnya dan barang siapa berbuatan kejahatan walaupun sekecil biji dzarahpun akan dilihatnya juga”.
Menurut Islam setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing. Firman Allah dalam surat An-Najm: 39-41 yang artinya: “Dan tidak adalah bagi manusia itu kecuali usahanya sendiri, dan hasil usahanya itu bakal dilihatnya”.[15]
5.         Penjelmaan Jiwa
Tentang hal ini ajaran agama Islam sangat berbeda dengan ajaran agama Hindu. Kelahiran kembali sebagai samsara seperti yang diajarkan oleh hukum karma itu tidak dibenarkan oleh Islam. Jika seseorang telah meninggal menurut Islam rohnya masuk ke alam barzah, bukan menjelma lagi ke dala jasad atau makhluk lain. Di alam barzah roh manusia akan mendapat badan yang sesuai dengan alamnya, untuk kemudian tiba saatnya manusia memasuki alam akhirat yang kekal abadi. Disitu manusia akan mendapat badan yang sesuai dengan alam akhirat pula.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-mukminun : 99-100 yang artinya: “sehingga apabila mau mendatangi salah seorang dari mereka, ia berkata: Oh Tuhan kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat baik (di dunia), jangan sesungguhnya perkataan itu hanya sekedar dapat diucapkan. Dihadapan mereka ada barzah, dinding yang membatasi hari mereka dibangkitkan”.
6.         Kasta
Dalam hal ini terdapat perbedaan yang besar sekali antara agama Hindu dengan agama Islam. Hubungan manusia dengan sesamanya serta tinggi rendahnya derajat manusia di sisi Tuhan menurut Islam itu seluruhnya merupakan satu lingkungan persaudaraan yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Perbedaan keturunan, jenis, warna kulit, pangkat, bahasa dan sebagainya bukanlah ukuran yang menyebabkan seseorang lebih mulia dari orang lain. Yang menjadikan seseorang mulia di sisi Allah SWT adalah ketaqwaan dan baktinya kepada Allah SWT.
Mengenai kedudukan seseorang bagi Allah, disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya: “Sesungguhnya yang semulia-mulia kamu disisi Allah itu ialah orang yang paling taqwa kepda-Nya”. Nabi Muhammad SAW bersabda: “tak adalah kelebihan bagi bangsa Arab atas bangsa ajam (lain arab) kecuali dengan taqwa”.[16]

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
1.        Agama Hindu Dimulai dari zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan besar di Mesopotamia dan Mesir. Karena rupanya antara tahun 3000 dan 2000 sebelum masehi di lembah sungai Sibdhu (Indus) sudah ada bangsa Sumeria di daerah sungai Eufrat dan Tigris, maka terdapat peradaban yang sama di sepanjang pantai dari laut tengah sampai ke teluk Benggala. Rentangan daerah antara tempat-tempat di sepanjang pantai dari laut tengah sampai ke teluk benggala terdapat peradaban yang sama, yang sedikit demi sedikit meningkat kepada perkembangan yang tinggi.
2.        Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Kedua tokoh besar ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan Dharma.
3.        Agama Hindu pada intinya tidak mempercayai adanya Tuhan dalam arti kata yang sebenarnya, seperti dalam pengertian kita umat Islam. Unsur-unsur kepercayaan kekuatan gaib, tidak tegas malah menurut filsafat wedanta, semua benda ini hanyalah khayal belaka, pada hakekatnya semua itu Tuhan. Dan agama hindu mempercayai wujud tuhan yaitu brahmana, wisynu dan syiwa.
4.        Kitab-kitab Suci Agama Hindu ada 4 yaitu weda, brahmana, upanishad dan pancasradha
5.        Madzhab/Sekte-sekte Agama Hindu terbagi menjadi tiga yaitu golongan Sekte Waisnawa, sekte Siwa, dan sekte Brahma.
6.        Doktrin-doktrin yang dikembangkan agama hindu dengan Kelima keyakinan yaitu Widhi Tattwa, Atma Tattwa, Karmaphala Tattwa, Punarbhava Tattwa dan Moksa Tattwa.
7.         Ritual Keagamaan dalam agama Hindu Ada dua macam ritual hindu yang lazim dikalangan orang hindu masa kini,yaitu yang disebut sebagai ritual keagamaan Vedis dan agamis.
8.        Upacara keagamaan agama hindu yang ada di Indonesia yaitu upacara nyepi, ogoh-ogoh dan ngaben.
9.        Tempat-tempat suci agama Hindu adalah Mandir atau Mandira Alayam atau Kovil, Devasthana atau Gudi, Gudi , Devalayam atau Kovela, Puja pandal, Kshetram atau Ambalam dan Pura atau Candi.
10.    Kasta-kasta dalam Agama Hindu adalah Brahmana, Ksatrya, Waisya, dan Sudra.
11.    Pengajaran agama Hindu diantaranya adalah lembu, tempat-tempat suci, kesucian sungai gangga, pembekaran mayat, surga dan neraka, qurban dan sajian.
12.    Bandingan agama Hindu dengan Islam sangat berbeda dapat dilihat Tuhan Yang Maha Esa, kitab suci, roh manusia, hukum karma, penjelmaan jiwa, dan kasta.




[1] Mujahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-agama. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 1996 hal 7-8
[3] Moh. Rifai, Perbandingan Agama-agama. Semarang : Wicaksono 1984 hal 84-86
[4] Agus Hakim. Perbandingan Agama, Bandung: Diponegoro. 2006. hal: 132
[5] Ibid, hal: 132
[6] Mujahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-agama. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 1996 hal 9-19
[7] Ihsan hafiyudin, http://asal-usul-motivasi-blogspot.com/2011/02/asal-usul-agama-hindu.html. diakses pada 06 Oktober 2011 pada jam 15:53 wib
[9] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, Yogyakarta : Kanisius, 1995. Ha 171-172
[10] Prastiano, http://prastiano.student.umm.ac.id/2010/07/14/macam-macam-upacara-keagamaanya/, diakses pada tangal 06 Oktober 2011 pada jam 16:24 wib
[11] Anonim, http://creatifcommons.org/licenses/by-sa/3.0/ diakses pada 06 Oktober 2011 pada jam 16:29 wib
[12] Moh. Rifai, Perbandingan Agama-agama. Semarang : Wicaksono 1984 hal 79-80
[13] Moh. Rifai, Perbandingan Agama-agama. Semarang : Wicaksono 1984 hal 86-88
[14] Moh. Rifai, Perbandingan Agama. Semarang : Wicaksana 1984 hal 88-89
[15] Ibid, hal 90
[16] Op cit, hal 90-91

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

GALERI

Photobucket