PESAN SINGKAT

Kamis, 15 Desember 2011

Agama Shinto



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan makalah ini adalah untuk mengetahui gambaran secara umum dan jelas tentang Agama Shinto yang berbeda dengan agama Islam. Secara lebih jelasnya tujuan makalah ini yaitu:
1.      Mengetahui bagaimana tinjauan umum agama shinto yang terbagi menjadi asal-usul agama Shinto, pembawa agama Shinto, sistem ketuhanan agama Shinto, kitab-kitab suci agama Shinto, madzhab/sekte-sekte agama Shinto, dan doktrin-doktrin yang dikembangkan agama Shinto.
2.      Untuk mengetahui praktek keagamaanya yang terdiri dari ritual keagamaan agama Shinto, upacara-upacara keagamaan agama Shinto, tempat-tempat suci Agama Shinto dan bandingan agama Shinto dengan agama Islam

B.     Alasan Pembahasan
Agama Jepang biasanya disebut dengan agama Shinto. Sebagai agama asli bangsa Jepang, agama tersebut memiliki sifat yang cukup unik. Proses terbentuknya, bentuk-bentuk upacara keagamaannya maupun ajaran-ajarannya memperlihatkan perkembangan yang sangat ruwet. Banyak istilah-istilah dalam agama Shinto yang sukar dialih bahasakan dengan tepat ke dalam bahasa lainnya. Kata-kata Shinto sendiri sebenarnya berasal dari bahasa China yang berarti “jalan para dewa”, “pemujaan para dewa”, “pengajaran para dewa”, atau “agama para dewa”. Dan nama Shinto itu sendiri baru dipergunakan untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama Buddha dan agama konfusius (Tiongkok) sudah memasuki Jepang pada abad keenam masehi. 
Pertumbuhan dan perkembagan agama serta kebudayaan Jepang memang memperlihatkan kecenderungan yang asimilatif. Sejarah Jepang memperlihatkan bahwa negeri itu telah menerima berbagai macam pengaruh, baik kultural maupun spiritual dari luar. Semua pengaruh itu tidak menghilangkan tradisi asli, dengan pengaruh-pengaruh dari luar tersebut justru memperkaya kehidupan spiritual bangsa Jepang. Antara tradisi-tradisi asli dengan pengaruh-pengaruh dari luar senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi baru yang jenisnya hampir sama. Dan dalam proses perpaduan itu yang terjadi bukanlah pertentangan atau kekacauan nilai, melainkan suatu kelangsungan dan kelanjutan. Dalam bidang spiritual, pertemuan antara tradisi asli Jepang dengan pengaruh-pengaruh dari luar itu telah membawa kelahiran suatu agama baru yaitu agama Shinto, agama asli Jepang.
Oleh karena untuk mengetahui lebih lanjut tentang agama Shinto, dalam makalah kami akan menjelaskan hal-hal berkaitan dengan agama Shinto.























BAB II
TINJAUAN UMUM AGAMA SHINTO

A.    Asal Usul Agama Shinto
Agama ini timbul pada zaman Prasejarah dan siapa pembawanya tak dapat dikenal dengan pasti. Penyebarannya ialah di Asia dan yang terbanyak ialah di Jepang.[1]Agama shinto di Jepang itu tumbuh dan hidup dan berkembang dalam lingkungan penduduk, bukan datang dari luar. Nama asli agama itu ialah Kami no Michi yang bermakna jalan dewa.
Pada saat Jepang berbenturan dengan kebudayaan Tiongkok maka nama asli itu terdesak kebelakang oleh nama baru, yaitu Shin-To. Nama baru itu perubahan bunyi dari Tien-Tao, yang bermakna jalan langit. Perubahan bunyi iitu serupa halnya dengan aliran Chan, sebuah sekte agama Budha mazhab Mahayana di Tiongkok, menjadi aliran Zen sewaktu berkembang di Jepang.
Agama shinto itu berpangkal pada mithos bahwa bumi Jepang itu ciptaan dewata yag pertama-tama dan bahwa Jimmu Tenno, kaisar Jepang yang pertama itu adalah turunan langsung dari Amaterasu Omi Kami, yakni Dewi Matahari dalam perkawinannya dengan Touki Iomi, yakni Dewa Bulan. Sekalian upacara dan kebaktian terpusat seluruhnya pada pokok keyakinan tersebut.
Sejarah perkembangan agama Shinto di Jepang dapat dibagi kepada beberapa tahapan masa sebagai berikut:
1.      Masa perkembangannya dengan pengaruh yang mutlak sepenuhnya di Jepang, yaitu dari tahun 660 sebelum masehi sampai tahun 552 masehi, didalam masa duabelas abad lamanya.
2.      Masa agama Budha dan ajaran Konghuchu dan ajaran Tao masuk ke Jepang, yaitu dari tahun 552 M sanpai tahun 800 M. Yang dalam masa dua setengah abad itu agama sintho beroleh saingan berat. Pada tahun 645 M Kaisar Kotoku merestui agama Budha dan menyampingkan Kami no Michi.
3.      Masa sinkronisasi secara berangsur-angsur antara agama Shinto dengan tiga ajaran agama lainnya, yaitu dari tahun 800M sampai tahun 1700M. Yang dalam masa sembilan abad itu pada akhirnya lahir Ryobu-Shinto (Shinto-Panduan). Dibangun oleh Kobo-Daishi (774-835) dan Kitabake Chikafuza (1293-1354M) dan Ichijo Kanoyoshi (1465-1500M)dan lainnya.[2]

B.     Sistem Ketuhanan
Konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto adalah sangat sederhana yaitu : " Semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak, pada hakikatnya memiliki roh, spirit atau kekuatan jadi wajib dihormati" Sejak awal sebenarnya secara natural manusia sudah menyadari bahwa mereka bukanlah mahluk kuat dan di luar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Pengakuan, kekaguman, ketakutan dan juga kerinduan pada Spirit atau "Kekuatan Besar" yang disebut dengan nama Kami atau Kami Sama itu diwujudkan dalam bentuk tarian, upacara dan festival budaya.
Jadi Kamisama adalah tuhan, dewa, atau kekuatan tertinggi bagi agama atau masyarakat Jepang. Tuhan tersebut hidup di segala tempat dan diberi nama sesuai dengan tempat atau benda yang ditempati. Tuhan yang berdiam di gunung diberi nama Kami no Yama, kemudian ada Kami no Kawa (Tuhan sungai), Kami no Hana (Tuhan bunga).
Pada masa Restoresi Meiji (1868-1912), mulai berdiri banyak sekte baru dari Shinto seperti contohnya Tenrikyo dan Kenkokyo yang biasanya digolongkan sebagai agama baru atau Shinshūkyō. Salah satu keunikan dari Shinto baru ini adalah menggolongkan diri dengan tegas sebagai penganut monotheisme. Mereka juga memiliki pendiri yang diakui sebagai guru atau nabi dan juga mempunyai ajaran layaknya agama modern. Ajarannya umumnya sangat sederhana serta lebih banyak membahas tentang etika dan perbaikan prilaku bukan dogma atau doktrin, jadi sepertinya lebih dekat ke arah ajaran Buddha atau Confucianisme. Juga agama Shinto memuja dan menyembah hewan, orang-orangsuci, roh nenek moyang, para dewa, dewa tereinggi (Amaterasu Omi kami)
Menurut penganut agama Shinto, pengertian Matsuri adalah suatu ritual yang dipersembahkan untuk Kamisama, tetapi matsuri dalam penegertian secara global adalah festival atau suatu perayaan. pada umumnya perayaan matsuri di Jepang dilaksanakan di jinja dan kuil, walaupun ada juga matsuri yang dilaksanakan di gereja dan juga instansi tertentu. Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen, kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya.
Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi (danjin) dan yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian wanita), hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget beraneka macam makanan dan permainan
C.    Kitab Suci
Kitab Suci Agama Shinto
Kitab yang tertua didalam agama shinto ada dua buah yang disusun sepuluh abad sepeninggal Jimmu Tenno (660 SM). Dua buah lagi disusun pada masa yang lebih belakangan. Keempat itu kitab itu adalah:
1.      Kojiki, yang bermakna catatan peristiwa purbakala. Disusun pada tahun 712 M.
2.      Nihonji, yang bermakna riwayat Jepang. Disusun pada tahun 720 M.
3.      Yengisiki, yang berisi nyanyian-nyanyian dan pujaan.
4.      Manyoshiu, yang bermakna himpunan sepuluh ribu daun. Berisikan bunga rampai, terdiri atas 4496 buah sajak, disusun antara abad ke-5 dengan abad ke-8 masehi.[3]
Kitab pertama itu menguraikan tentang alam kayangan tempat kehidupan para dewa dan dewi sampai kepada Amaterasu omi Kami (dewi Matahari) dan Tsukiyomi (dewa bulan) diangkat menguasai langit dan puteranya Jimmu Tenno diangkat menguasai tanah yang indah dan subur (Jepang) di Bumi, lalu disusuli dengan silsilah turunan kaisar Jepang itu beserta riwayat hidup satu persatunya, selanjutnya upacara-upacara keagamaan yang dilakukan dalam masa yang panjang itu, berkenaan dengan pemujaan terhadap kaisar beserta dewa-dewi.
Didalam kata pendahuluan Kojiki penulisannya menyatakan bahwa dia seorang bangsawan tingkat lima diistana, yang menerima perintah kaisar untuk menyusun silsilah para kaisar beserta riwayat hidupnya. Dia menuliskanya berdasarkan kisah turun temurun yang dihafalkan dan dinyanyikan Reciter, yakni pihak penyanyi bercerita. Kitab yang kedua bersifat komentar yang panjang lebar atas kitab yang pertama itu.
Kitab ketiga dan keempat berisikan himpunan kisah-kisah legendaris, nyanyian kepahlawanan, beserta sajak-sajak tentang asal-usul kedewaan, asal-usul kepaulauan Jepang dan kerajaan Jepang. Ragam kisah tentang hal-hal yang berkaitan kehidupan para dewa dan para dewi dalam kayangan dilangit. Catatan peristiwa pada masa-masa terakhir barulah didasarkan atas kenyataan sejarah.
D.    Madzhab/ Sekte-Sekte Agama Shinto
kurang dikenal oleh kebanyakan orang. (asing) sehingga konsep monotheisme
dari Shinto aliran baru nyaris luput dari tulisan kebanyakan orang.
4.Shrine Shinto (Jinja Shinto)
Dari semua kelompok kuil Shinto yang ada, kelompok inilah yang sepertinya
paling mudah untuk ditemukan. Diperkirakan saat ini ada sekitar 80 ribuan kuil
yang ada di seluruh negeri dan semuanya tergabung dalam satu organisasi besar
yaitu Association of Shinto Shrines.
2.5 Kitab Suci agama Shinto
Kitab suci yang tertua di dalam agama Shinto itu ada dua buah, tetapi disusun
sepuluh abad sepeninggal Jimmu Tenno (660 SM), Kaisar Jepang yang pertama.
Dan dua buah lagi disusun pada masa yang lebih belakangan. Kitab suci tersebut
yakni :
1.Kojiki, yang bermakna : Catatan peristiwa Purbakala. Disusun pada tahun 712
M, sesudah kekaisaran Jepang berkedudukan di Nara, yang ibukota Nara itu
dibangun pada tahun 710 M menuruti model ibukota Changan di Tiongkok.
2.Nihonji, yang bermakna : Riwayat Jepang. Disusun pada tahun 720 M oleh
penulis yang sama dengan dibantu oleh seorang Pangeran di Istana.
Kitab Kojiki menguraikan tentang alam kayangan tempat kehidupan para dewa
dan dewi sampai kepada Amaterasu omi Kami (dewi Matahari) dan Tsukiyomi
(dewa Bulan) diangkat menguasai Langit dan puteranya Jimmu Tenno (660 sM)
diangkat menguasai "tanah yang indah dan subur" (Jepang) di Bumi, lalu disusuli
dengan silsilah turunan kaisar Jepang itu beserta riwayat hidup satu persatunya,
selanjutnya upacara-upacara keagamaan yang dilakukan dalam masa yangpanjang
itu, berkenaan dengan pemujaan terhadap kaisar beserta para dewa dan dewi.
Di dalam kata pendahuluan Kojiki, penulis menyatakan bahwa dia adalah
seorang bangsawan tingkat lima di Istana, yang menerima perintah Kaisar untuk
menyusun silsilah para kaisar beserta riwayat hidupnya. Dia menuliskannya
berdasarkan kisah turun temurun yang dihafalkan dan dinyanyikan Reciter, yakni
pihak penyanyi-bercerita. Kitab yang Nihonji berisi penjelasan mendetail mengenai
kitab Kojiki.
9
 

 
Aliran-aliran Shinto[4]
Secara umum Shinto bisa dikelompokkan menjadi 4 bagian atau kelompok. Yang masing masing mempunyai keunikannya tersendiri.
1.Imperial Shinto (Kyūchū Shinto atau Koshitsu Shinto)
Shinto kelompok ini sangat eksklusif dan tidak umum ditemukan. Memiliki beberapa kuil saja yang kalau tidak salah 5 buah di seluruh negeri. Nama kuil ini biasanya berakhir dengan nama Jingu, misalnya Heinan Jingu, Meiji Jingu, Ise Jingu dll. Kuil Shinto kelompok ini selain berfungsi sebagai tempat untuk memuja Kami juga berfungsi sebagai tempat memuja leluhur khususnya keluarga kerajaan. Salah satu dari kuil ini dibangun khusus untuk menghormati dewa Matahari. .

2. Folk Shinto (Minzoku Shinto)
Mithyologi tentang Kojiki, cerita terbentuknya pulau Jepang dan cerita tentang dewa dewa lain adalah ciri khas dari Shinto kelompok ini. Jadi Folk Shinto adalah kepercayaan Shinto yang meliputi cerita tua, legenda, hikayat dan cerita sejarah. Kuil Kibitsu Jinja yang terletak di daerah Okayama, Jepang tengah adalah salah satu contoh menarik karena dibangun untuk menghormati tokoh utama dalam cerita rakyat yaitu Momo Taro. Disamping itu Shinto kelompok ini juga mendapat pengaruh yang kuat dari agama Buddha, Konfucu, Tao dan ajaran penduduk local seperti Shamanism, praktek penyembuhan dll. Kuil kelompok ini biasanya mudah dibedakan dengan kuil lainya karena adanya sejarah pendirian kuil yang unik. Jadi jangan kaget kalau Anda menemukan kuil yang penuh dengan ornament dan pernak pernik kucing atau binatang dan benda lainya karena sejarah pendiriannya yang memang berkaitan dengan binatang tersebut.

3. Sect Shinto (Kyoha atau Shuha Shinto)
Shinto kelompok ini mulai muncul pada abad ke 19 dan sampai saat ini memiliki kurang lebih 13 sekte. Dua diantara sekte ini yang cukup banyak pengikutnya adalah Tenrikyo atau Kenkokyo. Keberadaan dari Sect Shinto ini cukup unik karena memiliki ajaran, doktrin, pemimpin atau pendiri yang dianggap sebagai nabi dan yang terpenting biasanya menggolongkan diri dengan tegas sebagai penganut monotheisme. Shinto golongan ini sepertinya jarang dibahas ataupun kurang dikenal oleh kebanyakan orang.sehingga konsep monotheisme dari shinto aliran baru nyaris luput dari tulisan kebanyakan orang.





4. Shrine Shinto (Jinja Shinto)
Dari semua kelompok kuil Shinto yang ada, kelompok inilah yang sepertinya paling mudah untuk ditemukan. Diperkirakan saat ini ada sekitar 80 ribuan kuil yang ada di seluruh negeri dan semuanya tergabung dalam satu organisasi besar yaitu Association of Shinto Shrines.
E.     Doktrin-Doktrin Yang Di Kembangkan
1.      Tidak mengenal ajaran apapun 
Shinto adalah agama kuno yang merupakan campuran dari animisme dan dinamisme yaitu suatu kepercayaan primitif yang percaya pada kekuatan benda, alam atau spirit. Kepercayaan tua semacam ini biasanya penuh berbagai ritual dan perayaan yang biasanya berhubungan dengan musim, seperti musim panen, roh, spirit dan lain-lain. Sejak awal sebenarnya secara natural manusia menyadari bahwa mereka bukanlah makhluk kuat dan diluar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak lansung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. 
Pengakuan, kekaguman, ketakutan, dan juga kerinduan pada Spirit atau “Kekuatan Besar” yang disebut dengan nama Kami atau Kamisama itu diwujudkan dalam bentuk tarian, upacara, dan festival. Layaknya suatu kepercayaan yang berakar dari Animisme, umumnya tidak memiliki ajaran khusus yang harus dipelajari, demikian juga halnya dengan agama Shinto. Jadi, agama ini sama sekali tidak memiliki buku khusus ataupun kitab suci yang harus dipelajari sehingga pelajaran ataupun ceramah agama dan sejenisnya tentu saja tidak ada. Disamping itu Shinto juga tidak mengenal istilah nabi yang berfungsi sebagai “Founding Father” karena dari awal agama ini muncul secara alami di masyarakat.
2.      Tidak mengenal ritual mengorbankan binatang
Upacara ritual dengan mengorbankan binatang sepertinya adalah umum ditemukan pada kepercayaan masyarakat lama. Sebagian kecil wilayah di Indonesia mungkin mengenal tradisi menanam kepala kerbau sebagai ritual untk pembangunan atau peresmian bangunan baru. Namun, pada kepercayaan semacam ini sama sekali tidak dikenal dalam tradisi Shinto. Hal ini tentu saja menarik karena bisa dikatakn sangat bertolak belakang dengan tradisi animisme pada umumnya.

3. Shinto adalah Pemuja Alam
Hal ini bisa dilihat dari tradisi Shinto yang memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada alam. Pohon besar misalnya tidak boleh sembarangan ditebang karena percaya ada Kami yang berdiam di dalamnya. Kebanyakan penduduk jaman dulu akan taat dan tidak merusak tempat alam atau bahkan terkadang jalan tanpa melewati hutan, gunung bahkan pulau tertentu karena dipercaya adanya Kami yang bersemayam di tempat tersebut.
Salah satu contoh kecil dari penghormatan yang tinggi kepada tumbuhan adalah pada saat makan, yaitu hormat terhadap makanan khususnya beras. Sehingga hal inilah yang menyebabkan kebanyakan orang Jepang yang anti untuk menyisakan nasi bahkan dimakan sampai butir terakhir karena dianggap tidak menghormati roh yang hidup di dalamnya. Dengan konsep kepercayaan yang sangat sederhana seperti ini bisa dibilang mereka cukup termasuk sukses menjaga kelestarian alamnya. Sekedar catatan tambahan, saat ini, tempat yang bisa dihuni di Jepang hanyalah 30% dari luas dataran yang ada, selebihnya 70% masih berupa gunung dan bukit. Walaupun angka ini tidak menjelaskan secara langsung hubungan antara kedua variabel ini secara ilmiah, namun sepertinya hal ini tidak terlepas dari konsep Shinto sebagai pemuja alam. Kuil shinto juga umumnya selalu dipenuhi dengan sejumlah pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun. Bukan pemandangan yang aneh di negara Jepang jika seandainya suatu kali Anda melihat sebuah pohon besar yang tumbuh gagah tepat di tengah jalan serta sebuah kuil kecil didekatnya yang berdiri entah sejak kapan, tanpa ada yang berani atau berniat menggusurnya.         
4. Konsep Tuhan menurut Shinto
Tradisi Shinto mengenal beberapa nama Dewa yang bagi Shinto bisa juga berarti Tuhan yang dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Kami atau Kamisama. Kamisama ini bersemayam atau hidup di berbagai ruang dan tempat, baik benda mati maupun benda hidup. Pohon, hutan, alam, sungai, batu besar, bunga sehingga wajib untuk dihormati. Penamaan Tuhan dalam kepercayaan Shinto bisa dibilang sangat sederhana yaitu kata Kami ditambah kata benda. Tuhan yang berdiam di gunung akan menjadi Kami no Yama, kemudian Kami no Kawa (Tuhan Sungai), Kami no Hana (Tuhan Bunga) dan Dewa/Tuhan tertingginya adalah Dewa Matahari (Ameterasu Omikami) yang semuanya harus dihormati dan dirayakan dengan perayaan tertentu.
Jadi inti dari konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto adalah sangat sederhana yaitu ”semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak, pada hakikatnya memiliki roh, spirit atu kekuatan jadi wajib dihormati” . konsep ini memiliki pengaruh langsung didalam kehidupan masyarakat Jepang.Misalnya seperti, seni Ikebana atau merangkai bunga yang berkembang pesat di Jepang karena salahsatunya dilandasi konsep Shinto tentang Spirit atau Tuhan yang bersemayam pada bunga serta tumbuhan yang harus dihormati.
5. Hubungan antara Manusia dengan Tuhan(Dewa)
Hubungan antara Kami dengan manusia menurut konsep Shinto juga cukup unik kaerna polanya cenderung tidak bersifat Vertikal, namun lebih banyak bersifat horizontal. Kami hidup dan berada dibawah gunung, hutan, laut, atau di tengah perkampungan penduduk yang ditandai dengan berdirinya kuil penjaga desa. 
Jadi konsep Tuhan di atas atau langit dan manusia di bumi sepertinya kurang tepat untuk kepercayaan Shinto. Mikoshi atau Dashi sebagai perwujudan dari kereta bagi Kami, yang digotong beramai-ramai selam festival di kuil mungkin salah satu contoh menarik. ”Kereta Tuhan” ini tidaklah diarak dengan hormat dan khidmad namun diguncang guncangkan, dibentur-benturkan. Dinaiki beramai-ramai bahkan tidak jarang diduduki pada bagian atapnya oleh beberarapa orang selama proses prosesi.
6. Konsep Dosa
Salah satu tokoh Shinto Shimogamo Shrine mengatakan bahwa, Shinto tidak mengajarkan adanya perbuatan dosa. Jika melakukan perbuatan tertentu yang menciptakan dosa seseorang harus mau dibersihkan semata-mata untuk ketenangan pikiran sendiri dan nasib baik, dan bukan karena dosa yang salah dalam dan dari dirinya sendiri. Perbuatan jahat dan salah disebut "Kegare",. "cerah" atau hanya "baik". Membunuh apa pun untuk dapat bertahan hidup harus dilakukan dengan rasa syukur dan melanjutkan ibadah. Jepang Modern terus menempatkan penekanan pada pentingnya "aisatsu" atau ritual frasa dan salam. Sebelum makan, orang harus mengucapkan "itadakimasu",. "Saya akan dengan rendah hati menerima", dalam rangka untuk menunjukkan rasa syukur dari makanan pada khususnya dan umumnya kepada semua makhluk hidup yang kehilangan nyawa mereka untuk membuat makanan. Kegagalan untuk menunjukkan rasa hormat yang tepat adalah tanda kebanggaan dan kurangnya kepedulian terhadap orang lain. 


7.  Konsep surga dan neraka ataupun ajaran tentang kehidupan alam akhirat 
Sepertinya adalah hal yang umu    m ditemukan pada ajaran agama ataupun kepercayaan primitif sekalipun. Shinto sepertinya memiliki tradisi yang sedikit menyimpang. Konsep surga dan neraka hampir tidak disentuh sama sekali dalam kepercayaan Shinto. Hal ini bisa dilihat dari hampir tidak ditemukannya ritual upacara kematian pada tradisi Shinto. Ritual dan tata cara pemakaman di Jepang sepenuhnya dilakukan dengan tata cara agama Budha dan sisanya menggunakan ritual agama Kristen. Kuburan dan tempat makam juga umumnya berada di bawah organisasi kedua agama tersebut. Sepertinya ritual Shinto lebih difokuskan pada kehidupan pada kehidupan duniawi atau kehidupan sekarang terutama yang berhubungan dengan alam khususnya keselarasan antara manusia dengan alam sekitarnya.




















BAB III
PRAKTEK KEAGAMAAN AGAMA SHINTO

1.      Ritual Keagamaan
Mengenai tata cara sembahyang atau doa dalam kuil Shinto sangat sederhana yaitu melemparakan sekeping uang logam sebagai sumbangan di depan altar, mencakupkan kedua tangan di dada dan selesai. Jadi semua proses berdoa yang dilakukan dengan berdiri ini tidak lebih dari sepuluh detik. Doa dilakukan tidak mengenal hari atau jam khusus jadi bebas dilakukan kapan saja. Sedikit catatan, bisa saya sebutkan bahwa tata cara doa di kuil Shinto dengan kuil Buddha sangatlah mirip. Yang sedikit berbeda adalah di kuil Buddha tangan dicakupkan ke depan dada dengan pelan, hening dan tanpa suara, sedangkan kuil Shinto adalah sebaliknya yaitu mencakupkan tangan dengan keras sehingga menghasilkan suara sebanyak dua kali (mirip tepuk tangan).
Walaupun aturan tata cara berdoa ini bisa disebut baku namun sama sekali tidaklah bersifat mengikat. Berdoa tepat di depan altara utama, dari halaman kuil, dari luar pintu gerbang, dilakukan tidak dengan mencakupkan tangan namun membungkukan badan atau bahkan tidak berdoa sama sekali bukanlah masalah sama sekali.[5]
agama Shinto ada beberapa proses ritual atau ibadah ynag bertujuan untuk mensucikan diri mereka, Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis. Menurut agama Shinto watak manusia pada dasarnya adalah baik dan bersih. Adapun jelek dan kotor adalah pertumbuhan kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara pensucian (Harae). Karena itu agama Shinto sering dikatakan sebagai agama yang dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan pensucian. Upacara pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului pelaksanaan upacara-upacara yang lain dalam agama Shinto.
Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama.[6] Juga
2.      Upacara Keagamaan
Selain itu juga ada beberpa peryaan yang biasnya di peringati oleh pemeluk agam Shinto dan perayaan itu diadakan untuk tujuan tujuan yang berkenaan dengan pusaka leluhur, pengudusan, pengusiran roh jahat atau pertanian, puncak puncak perayaan diadakan pada tahun baru, saat menanam padi pada musim semi dan pada saat panen pada musim gugur, musim semi dan musim gugur adalah saat untuk menghormati leluhur dan mengunjungi makamnya, selama perayaan kami sering diarak melewati jalan jalan dalam tempat pemujaan yang bisa dibawa bawa untuk membuat setiap orang yakin bahwa kami sedang mengunjungi masyarakat untuk memberikan perlindungan .[7]
Matsuri berasal dari kata matsuru (menyembah, memuja) yang berarti pemujaan terhadap Kami atau ritual yang terkait. Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato.
Matsuri dalam bentuk pembacaan doa masih tersisa seperti dalam bentuk Kigansai (permohonan secara individu kepada jinja atau kuil untuk didoakan dan Jichinsai (upacara sebelum pendirian bangunan atau konstruksi). Pembacaan doa yang dilakukan pendeta Shinto untuk individu atau kelompok orang di tempat yang tidak terlihat orang lain merupakan bentuk awal dari matsuri. Pada saat ini, Ise Jingū merupakan salah satu contoh kuil agama Shinto yang masih menyelenggarakan matsuri dalam bentuk pembacaan doa yang eksklusif bagi kalangan terbatas dan peserta umum tidak dibolehkan ikut serta.
Sesuai dengan perkembangan zaman, tujuan penyelenggaraan matsuri sering melenceng jauh dari maksud matsuri yang sebenarnya. Penyelenggaraan matsuri sering menjadi satu-satunya tujuan dilangsungkannya matsuri, sedangkan matsuri hanya tinggal sebagai wacana dan tanpa makna religius.
Kebanyakan festival dilaksanakan pada musim panas sekitar bulan July dan Agustus dan jatuh pada hari minggu sesuai dengan kalender masehi. Bulan ini juga merupakan bulan liburan anak sekolah, jadi festival dipastikan akan dipenuhi oleh para remaja dan anak anak.
       Matsuri Terbesar
a). Gion Matsuri
adalah tradisi yang berasal dari sekitar 1.100 tahun yang lalu. Pada tahun 869 konon terjadi wabah penyakit menular yang mengganas di seluruh Jepang, sehingga perlu diadakan upacara yang disebut Goryō-e untuk menenangkan arwah orang yang meninggal karena wabah penyakit menular. Pendeta Shintō bernama Urabe Hiramaro membuat 66 pedang dengan mata di dua sisi (hoko) untuk persembahan kepada penjaga dari penyakit menular yang disebut dewa Gozutennō. Jumlah Hoko yang dibuat sesuai dengan jumlah negara-negara kecil (kuni) yang terdapat di Jepang pada saat itu. Upacara ini kemudian dikenal sebagai Gion Goryō-e, yang kemudian penyebutannya disingkat menjadi Gion-e.[8]
Sejak tahun 970 upacara terus diselenggarakan setiap tahun hingga menjadi Gion Matsuri seperti sekarang ini. Prosesi Yamaboko seperti yang dikenal sekarang ini konon berasal dari tahun-tahun akhir zaman Heian. Gion Matsuri sempat tidak diselenggarakan sewaktu Perang Onin, akibat kebakaran besar di era Hōei, era Temmei dan era Genji, serta serangan udara pada Perang Dunia II. Gion Matsuri kemudian dihidupkan kembali oleh warga kota yang merupakan pengusaha yang berpengaruh (machishū).
Berbeda dengan Gion Matsuri yang dikenal sekarang ini, prosesi Yamaboko yang menjadi puncak perayaan Gion Matsuri pada tahun 1966 dilakukan dalam dua tahap:
  • Zensai (prosesi Yama dan Hoko pada tanggal 17 Juli)
  • Ato Matsuri (prosesi Yama saja pada tanggal 24 Juli).
Yamaboko adalah istilah untuk Yama dan Hoko. Yama adalah kendaraan beroda (float) besar dari kayu dengan hiasan megah dan ditarik oleh banyak orang. Hiasan kendaraan (kenshōhin) pada Yama berupa benda-benda keagamaan dan benda-benda seni seperti karpet yang didatangkan dari Eropa dan Tiongkok melalui Jalan Sutra. Perdagangan dengan Dinasti Ming mencapai puncaknya pada zaman Muromachi, sehingga motif dari luar negeri banyak dipamerkan dalam Gion Matsuri. Masing-masing Yama mempunyai tema yang biasanya merupakan cerita dongeng yang berasal dari Tiongkok.
Hoko adalah jenis Yama dengan menara menjulang tinggi yang di ujung paling atasnya terdapat hoko (katana dengan mata di dua sisi) walaupun ada juga Hoko yang tidak bermenara. Hoko juga dijadikan panggung untuk kelompok orang berpakaian Yukata yang terdiri dari pemain musik Gionbayashi dan peserta yang berkesempatan naik karena memenangkan undian hasil membeli Chimaki atau Gofu (semacam jimat). Musik Gionbayashi yang menurut telinga orang Jepang berbunyi "Kon-chi-ki-chin" baru menjadi tradisi Gion Matsuri pada zaman Edo.
b). Tenjin matsuri
Perayaan Tenjinmatsuri dimulai pada tanggal 1 Juni tahun 951. Pada saat itu, perayaan dibuka dengan ritual menghanyutkan kamihoko (pedang dengan mata di kedua sisi) di sungai Ōkawa. Lokasi perayaan ditentukan berdasarkan tempat tersangkutnya kamihoko yang dihanyutkan air sungai. Penghanyutan kamihoko merupakan asal-usul ritual Hokonagashi yang dilakukan sampai sekarang ini. Puncak perayaan berupa prosesi perahu berasal dari ritual Hokonagashi yang menentukan lokasi perayaan di tengah sungai.[9]
3.      Tempat-Tempat Suci
Kuil Shinto (神社 jinja) adalah struktur permanen dari kayu yang dibangun untuk pemujaan berdasarkan kepercayaan Shinto. Tidak semua kuil Shinto adalah bangunan permanen, sejumlah kuil memiliki jadwal pembangunan kembali. Bangunan di Ise Jingū misalnya, dibangun kembali setiap 20 tahun.
Pada zaman kuno, walaupun tidak didirikan bangunan, tempat-tempat pemujaan Shinto tetap disebut jinja (kuil Shinto). Pada masa itu, kekuatan alam yang ditakuti seperti gunung (gunung berapi), air terjun, batu karang, dan hutan merupakan objek pemujaan. Kuil Shinto berbentuk bangunan seperti dikenal sekarang, diperkirakan berasal dari bangunan pemujaan yang dibuat permanen setelah didiami para Kami yang pindah dari goshintai (objek pemujaan). Kuil Shinto tidak memiliki aula untuk beribadat, dan bukan tempat untuk mendengarkan ceramah atau menyebarluaskan agama. Pada zaman sekarang, kuil Shinto dipakai untuk upacara pernikahan tradisional Jepang.
a). Asal Usul Kuil Shinto
Kuil Shinto bermula dari altar (himorogi) yang dibangun sementara untuk keperluan pemujaan di iwakura (tempat pemujaan alam) atau tempat tinggal para Kami yang dijadikan tempat terlarang dimasuki manusia, pada umumnya shintaisan (gunung tempat tinggal para Kami). Bangunan bersifat permanen mulanya tidak ada. Asal usulnya mungkin seperti utaki di Okinawa.
Sejak zaman kuno hingga sekarang, kuil Shinto sering tidak memiliki honden. Ada pula kuil yang hanya membangun haiden di depan iwakura atau gunung/pulau yang terlarang dimasuki manusia (misalnya: Kuil Ōmiwa, Kuil Isonokami, Munakata Taisha). Sebagian dari kuil Shinto sama sekali tidak memiliki bangunan, misalnya Kuil Hirō di Kumano Nachi Taisha. Setelah dibuatkan bangunan permanen, para Kami sehari-harinya dipercaya selalu ada di dalam kuil Shinto. Bangunan permanen dalam kuil Shinto juga diperkirakan sebagai hasil pengaruh agama Buddha yang selalu memiliki bangunan untuk menyimpan patung Buddha.
Berdasarkan alasan yang tidak diketahui, penganut Shinto kuno mendirikan bangunan di tempat yang berdekatan dengan goshintai yang sudah dipuja sebelumnya secara turun temurun. Bangunan Kuil Koshikiiwa misalnya, dibangun berdekatan dengan iwakura. Ketika dirasakan perlu untuk mendirikan bangunan kuil, misalnya ketika mendirikan desa, penduduk memilih tempat yang dianggap suci sebagai tempat pemujaan ujigami atau bunrei. Berdasarkan alasan pendirian bangunan, kuil Shinto dibagi menjadi tiga jenis: bangunan kuil yang didirikan berdasarkan alasan sejarah (seperti di tempat yang berkaitan dengan kelahiran sebuah klan, atau di tempat yang berkaitan dengan tokoh yang disucikan, misalnya Tenmangū di Dazaifu), bangunan kuil yang didirikan di tempat yang telah disucikan, dan bangunan kuil yang didirikan di tempat yang mudah dicapai orang. Kuil Nikkō Futarasan misalnya, berada di puncak gunung hingga perlu dibangun kuil cabang di lokasi yang mudah didatangi. Bangunan kuil dapat dibangun di mana saja, mulai dari di tengah laut, di puncak gunung, hingga di atap gedung bertingkat atau di dalam rumah dalam bentuk kamidana.
b). Pendeta (guji) Dalam Agama Shinto
Pendeta Shinto disebut kannushi (shinshoku). Istilah kannushi sudah dikenal sejak zaman kuno untuk orang yang menjalankan ritual di kuil. Di antara tugas utama kannushi termasuk mengelola kuil dan melaksanakan berbagai upacara, namun tidak memberi ceramah dan tidak menyebarluaskan agama.Kepala pendeta disebut gūji, tugasnya memimpin upacara, mengelola manajemen keuangan kuil, dan bertanggung jawab atas keseluruhan urusan kuil.Miko adalah sebutan untuk wanita asisten kannushi dalam melaksanakan upacara atau pekerjaan administrasi kuil. Istilah miko dulunya dipakai untuk wanita yang memiliki kekuatan magis untuk menerima ramalan (takusen) dalam keadaan raga dirasuki Kami (kamigakari).
4.      Bandingan Dengan Islam


Kepercayaan shinto
Agama islam
Sitem ketuhanan
Primitif animisme
Samawi, monotheis
Kitab suci
Kojiki, nihonji, yengis hiki, man yos hyu
Alquran
Pembawa ajaran
Kepercayaan negara
Muhammad SAW
Pemimpin ummat
Pendeta
Ulama
Waktu ibadah
Pagi hari dan hari raya
5 waktu
Tempat ibadah
Kuil
Masjid
Moral
Menjujung tinggi kehormatan negara dan pribadi
Akhlaq
Hukuman
Karma
Dosa neraka
Aliran sekte
Imperial Shinto (Kyūchū Shinto atau Koshitsu Shinto)
Folk Shinto (Minzoku Shinto)
Sect Shinto (Kyoha atau Shuha Shinto)
Shrine Shinto (Jinja Shinto)
Imam Syafi’i, Hanafi, Hambali, Maliki
Doktrin
Tidak mengenal ajaran apapun 


Surga, Neraka






































BAB IV
PENUTUP
1.      Kesimpulan
1.    Agama shinto timbul pada zaman Prasejarah dan siapa pembawanya tak dapat dikenal dengan pasti. Nama asli agama itu ialah Kami no Michi yang bermakna jalan dewa. Pada saat Jepang berbenturan dengan kebudayaan Tiongkok maka nama asli itu terdesak kebelakang oleh nama baru, yaitu Shin-To. Nama baru itu perubahan bunyi dari Tien-Tao, yang bermakna jalan langit.
2.    Konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto adalah sangat sederhana yaitu : " Semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak, pada hakikatnya memiliki roh, spirit atau kekuatan jadi wajib dihormati" Sejak awal sebenarnya secara natural manusia sudah menyadari bahwa mereka bukanlah mahluk kuat dan di luar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Pengakuan, kekaguman, ketakutan dan juga kerinduan pada Spirit atau "Kekuatan Besar" yang disebut dengan nama Kami atau Kami Sama itu diwujudkan dalam bentuk tarian, upacara dan festival budaya.
3.    Kitab Suci Agama Shinto adalah Kojiki, Nihonji, Yengisiki, Manyoshiu.
4.    Aliran-aliran dalam agama Shinto adalah Imperial Shinto (Kyūchū Shinto atau Koshitsu Shinto), Folk Shinto (Minzoku Shinto), Sect Shinto (Kyoha atau Shuha Shinto), Shrine Shinto (Jinja Shinto).
5.    Doktrin-Doktrin yang dikembangkan dalam agama shinto adalah:
a.    Tidak mengenal ajaran apapun
b.    Tidak mengenal ritual mengorbankan binatang
c.    Shinto adalah Pemuja Alam
6.    Mengenai tata cara sembahyang atau doa dalam kuil Shinto sangat sederhana yaitu melemparakan sekeping uang logam sebagai sumbangan di depan altar, mencakupkan kedua tangan di dada dan selesai. Jadi semua proses berdoa yang dilakukan dengan berdiri ini tidak lebih dari sepuluh detik. Doa dilakukan tidak mengenal hari atau jam khusus jadi bebas dilakukan kapan saja.
Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama.
7.    Beberapa perayaan yang biasanya di peringati oleh pemeluk agama Shinto dan perayaan itu diadakan untuk tujuan yang berkenaan dengan pusaka leluhur, pengudusan, pengusiran roh jahat atau pertanian, puncak puncak perayaan diadakan pada tahun baru, saat menanam padi pada musim semi dan pada saat panen pada musim gugur, musim semi dan musim gugur adalah saat untuk menghormati leluhur dan mengunjungi makamnya, selama perayaan kami sering diarak melewati jalan jalan dalam tempat pemujaan yang bisa dibawa bawa untuk membuat setiap orang yakin bahwa kami sedang mengunjungi masyarakat untuk memberikan perlindungan.
Matsuri berasal dari kata matsuru (menyembah, memuja) yang berarti pemujaan terhadap Kami atau ritual yang terkait. Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato.





















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,Abu . Perbandingan Agama .Jakarta: PT. Rineka Cipta.
http://thoriqs.blogspot.com/2011/03/makalah-agama-shinto.html. diakses pada 24 November 2011 pada jam 11.30
http://id.wikipedia.org/wiki/Gion_Matsuri. diakses pada 24 November 2011 pada jam 11.15
http://id.wikipedia.org/wiki/Tenjinmatsuri. diakses pada 24 November 2011 pada jam 11.15
Keene, Michael . Agama-agama dunia. Jakarta: Kanisius.
Sou’yb Joesoef, Agama-agama Besar di Dunia .Jakarta:Pustaka Al-Husna
Http://myquran.com/forum/showtread.php/10898/mengenal-agama-shinto-lebih-dekat. Diakses pada 25 November 2011. Pada jam 15.45 WIB






[1] Abu Ahmadi, Perbandingan Agama (Jakarta: PT. Rineka Cipta,1991), hal 67
[2]  Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia (Jakarta:Pustaka AlHusna), hal.209
[3] Joesoef Sou’YB, Agama-agama Besar di Dunia (Jakarta:Pustaka AlHusna), hal.210-211

[6] http://thoriqs.blogspot.com/2011/03/makalah-agama-shinto.html. diakses pada 24 november 2011 pada jam 11.30

[7] Michael keene . Agama-agama dunia. (Jakarta: kanisius,2006), hal 176.
[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Gion_Matsuri. diakses pada 24 november 2011 pada jam 11.15

[9] http://id.wikipedia.org/wiki/Tenjinmatsuri. diakses pada 24 november 2011 pada jam 11.15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

GALERI

Photobucket