PESAN SINGKAT

Kamis, 15 Desember 2011

HAKEKAT, MATERI, METODE, TEKNIK, MEDIA DAN SASARAN DAKWAH ISLAMIYAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.                 Latar Belakang
Secara harfiah da’wah merupakan masdar dari fi’il da’a dengan arti ajakan, seruan, panggilan, undangan. [1] Dalam Al- Qur’an surat An- Nahl ayat 125 disebutkan bahwa dakwah adalah mengajak umat manusia ke jalan Allah dengan cara bijaksana, nasehat yang baik serta berdebat dengan cara yang baik pula.[2] 
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Sedangkan hakikat dakwah Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umat baik di dunia dan di akhirat, dengan bermanhajkan Islam, berpedoman pada Al-Qur’an dan sunnah. Dan tentunya, selain mewujudkan itu, bahwa hakikat dakwah juga ingin memberikan kontribusi perbaikan.[3]
Seorang da’i atau mubaligh dalam menentukan strategi dakwahnya sangat memerlukan pengetahuan dan kecakapan di bidang metodologi. Selain itu bila pola berfikir kita berangkat dari pendekatan sistem (system apprach), di mana dakwah merupakan suatu sistem dan metodologi merupakan salah satu komponen dan unsurnya, maka metodologi mempunyai peranan dan kedudukan  yang sejajar atau sejajar dengan unsur- unsur lainya seperti tujuan dakwah, sasaran masyarakat, subyek dakwah (dai atau mubaligh). [4]Dan tidak bisa ditinggalkan pentingnya sebuah  materi dakwah juga menentukan metode yang seperti apa yang nantinya akan dipergunakan dalam berdakwah.   
Ketika seseorang inggin berdakwah juga harus memperhatikan media dakwah yang mana juga memiliki peranan atau kedudukan sebagai penunjang tercapainya tujuan. Media dakwah mencangkup keseluruhan aktifitas (kegiatan) dakwah walaupun itu bersifat sederhana dan sementara.[5] Dengan demikian media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Media dakwah ini dapat berupa barang (material), orang, tempat, kondisi tertentu dan sebagainya.
Dalam semua aktivitas dakwah tentunya sebuah sasaran haruslah dirumuskan agar tujuan umum dakwah dapat tercapai dengan cara dan tahapan yang realistis. Jadi dari semua pemaparan di atas merupakan sarana untuk mencapai sebuah tujuan dakwah yang efektif dan efisien agar lebih jelasnya perlunya pembahasan yang lebih detail dalam makalah ini.

B.                 RUMUSAN MASALAH
Menilik latar belakang diatas maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.             Bagaimana hakikat dakwah islamiyah?
2.             Apa saja macam materi dakwah islamiyah?
3.             Apa saja metode dakwah islamiyah?
4.             Apa saja teknik dan taktik dakwah islamiyah?
5.             Apa saja media dakwah islamiyah?
6.             Siapa saja sasaran dakwah islamiyah?

C.                 TUJUAN
1.             Untuk memahami hakikat dakwah islamiyah.
2.             Untuk mengetahui macam materi dakwah
3.             Untuk mengetahui metode dakwah
4.             Untuk mengetahui teknik dan taktik dakwah
5.             Untuk mengetahui berbagai media dakwah
6.             Untuk mengetahui siapa saja sasaran dakwah islamiyah





























BAB II
PEMBAHASAN

A.                 HAKIKAT DAKWAH ISLAM
Istilah dakwah Islam diungkapkan secara langsung oleh Allah SWT dalam ayat-ayat  Al-Qur’an . kata dakwah di dalam Al-Qur’an diunkapkan kira-kira 198 kali yang tersebar dalam ayat 55 surat (176 ayat). Kata dakwah oleh Al-Qur’an digunakan secara umum. Artinya, Allah masih menggunakan istilah da’wah il Allah( dakwah Islam) dan da’wah ila nar (dakwah setan) oleh, karena itu, dalam tulisan ini dakwah yang dimaksud adalah da’wah ila Allah (dakwah Islam)[6].
Secara terminologi, para ahli berbeda-beda dalam memberikan pengertian tentang dakwah Islam. Ada yang mengartikan dakwah Islam secara luas seperti Hasan al-Banna, ada yang memberikan pengertian bahwa dakwah merupakan transformasi sosial, seperti Adi Sasono, Dawam menafsirkan dakwah secara normatif yakni mengajak manusia ke jalan kebaikan dan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan di duniadan akhirat.
Meskipun terjadi perbedaan-perbedaan, tetapi sebenarnya pendapat-pendapat nereka memilki benang merah yang dapat menjadi titik temu dan hakikat dari dakwah itu sendiri, yakni dakwah Islam sebagai aktivitas (proses)mengajak kepada jalan Islam[7].
Dalam aktivitas mengajak kepada jalan Islam, Al-Qur’an memberikan gambaran yang jelas seperti tertera dalam surat Fushilat (41) ayat 33 :
ô`tBur ß`|¡ômr& Zwöqs% `£JÏiB !%tæyŠ n<Î) «!$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ tA$s%ur ÓÍ_¯RÎ) z`ÏB tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÇÌÌÈ  
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
            Dari ayat ini ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam menjalankan aktivitas dakwah, yakni dakwah bil-qoul dan dakwah bil-amal. Dakwah bil-qaul  dapat dilakukan secara individual, kelompok atau massa. Inilah yang kemudian menjadi kajian utama dalam Progam Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan Konseling Islam (BKI). Sementara dakwah bil-amal merupakan aktivitas dakwah yang dilakukan dengan cara social engineering (rekayasa sosial). Dakwah model ini yang menjadi fokus kajian program studi pengembangan masyarakat Islam (PMI). Untuk mengefektifkan dan mengkoordinasikan antara  antara dakwah bil-qaul dengan dakwah bil-amal diperlukan adanya manajemen dan inilah yang menjadi fokus dalam Progam Studi Manajemen Dakwah (MD)[8].
Ismail R. Al-Faruqi dan istrinya Lois Lamnya membagi hakikat dakwah Islam pada tiga term: kebebasan, rasionalitas dan uviversalisme. Kebebasan sangat dijamin dalam agama Islam, termasuk keyakinan dalam meyakini agama. Objek dakwah harus merasa bebas sama sekali dari ancaman, harus benar-benar yakin bahwa kebenaran ini hasil penilaiannya sendiri, karena dakwah tidak bersifat memaksa. Dakwah juga merupakan ajakan untuk berfikir. Keuniversalan Risalan Nabi Muhammad adalah untuk semua manusia, bahkan juga jin. Risalahnya berlaku sepanjang masa tanpa batasan ruang dan waktu[9].
1.                  Sifat-Sifat Dasar Dakwah
Dalam dialog internasional tentang Dakwah Islam dan Misi Kristen pada tahun 1976, Ismail Raji Al-Faruqi dari Universitas Temple Philadelphia, USA, merumuskan sifat-sifat dasar dakwah sebagai berikut[10]:
a.              Dakwah bersifat persuasif, bukan koersif
b.             Dakwah ditujukan kepada pemeluk Islam dan non-Islam
c.              Dakwah adalah anamnesis, yakni berupa mengembalikan fitrah manusia
d.             Dakwah adalah rational intelection, dakwah bersifat rasional.
e.              Dakwah adalah rationally necessary, dakwah bersifat kebutuhan.

2.                  Fungsi Dakwah[11]
a.              Dengan dakwah umat Islam dapat menjadi saudara.
b.             Dakwah Islam mutlak diperlukan agar Islam menjadi penyejuk bagi kehidupan manusia
c.              Melalui dakwah, Islam tersebar keseluruh penjuru dunia, jadi dakwah Islam berfungsi sebagai tongkat estafet peradaban manusia.
d.             Dakwah berfungsi menjaga orisinalitas pesan dakwah Nabi SAW
e.              Dakwah berfungsi mencegah laknat Allah, yakni siksa untuk seluruh manusia.
3.                  Faktor Hidayah dalam Sistem Dakwah
Pendapat-pendapat para ahli tafsir mengenai pengertian hidayah ada dua yakni pertama, hidayah sebagai petunjuk informatif, yaitu memberikan pemahaman tentang pesan Islam. Hidayah jenis ini ditunjukkan kepada masyarakat yang masih membutuhkan banyak informasi ajaran Islam. Kedua, hidayah sebagai petunjuk pembinaan. Dalam hal ini masyarakat dibimbing dan digerakkan untuk menjalankan ajaran Islam[12].
Lebih rinci lagi Al-maroghi membagi hidayah Allah menjadi lima macam yaitu[13]:
a.         Hidayah Ilham (hidayah al-Ilham)
Hidayah jenis ini terbentuk sejak kita dilahirkan. Kita dituntut oleh Allah SWT untuk memenuhi kebutuhan pokok kita.
b.         Hidayah pancaindera (hidayah al-haws)
c.         Selain dorongan insting, kita juga dituntun oleh Allah lewat pancaindera untuk mengenali dunia disekeliling kita.
d.         Hidayah akal (hidayah al-aql)
e.         Melalui akan kita Allah membimbing kita untuk menyelidiki aspek baik dan buruk dalam kehidupan ini.
f.           Hidayah agama dan syariat (hidayah al-adyan wa al-syara’i)
g.         Hidayah pertolongan (hidayah al-maunah wa al-taufiq)
Hidayah ini mutlak hak milik Allah, tak satupun makhluk bisa memberikan hidayah ini.
Dengan mengetahui peranan hidayah dalam Islam kita dapat memahami kebebasan dalam dakwah. Pendakwah bukan penentu hidayah tetapi pendorong. Dari berbagai macam hidayah tadi dapat diketahui bahwasanya ada keterbatasan hak dan kemampuan pendakwah untuk merubah sikap dan tingkah laku keagamaan orang yang didakwahinya. Pendakwah hanya bertugas menyampaikan ajaran Allah SWT[14].

B.                 MATERI DAKWAH
Pada dasarnya materi dakwah Islam itu kembali apa tujuan dakwah, karena pada dasarnya apa yang terdapat dalam materi dakwah bergantung pada tujuan dakwah yang yang ingin dicapai. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Quran, bahwa: “Tujuan umum dakwah adalah mengajak ummat manusia (meliputi orang mukmin maupun kafir atau musyrik) kepada jalan yang benar yang diridhai  Allah SWT, agar dapat hidup bahagia dan sejahtera didunia maupun diakhirat”.[15]
Apa yang disampaikan  seorang da’i dalam proses dakwah (nilai-nilai dan ajaran-ajaran islam) untuk mengajak ummat manusia kepada jalan yang diridhai Allah, serta mengubah perilaku mad’u agar mau menerima ajaran-ajaran islam serta memanifestasikannya, agar mendapat kebaikan dunia akhirat, itulah yang disebut materi dakwah. Allah SWT telah memberi petunjuk  tentang materi dakwah yang harus disampaikan , untuk lebih jelasnya perlu mencermati firman Allah SWT dalam Q.S. Ali-Imran : 104.[16]

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$#  
Artinya:
 Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung. Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.”
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/  
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.” [ Q.S. As-Nahl: 125][17]
Dalam ayat tersebut yang dimaksud al-Khair adalah nilai-nilai universal yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, Al-Khair menurut Rasulullah Saw sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Katsir dalam Tafsirnya adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nbi Muhammad Saw, sedangkan Al-Ma’ruf adalah sesuatu yang baik menurut pandangan umum suatu masyarakat selama sejalan dengan Al-Khair.[18] Yang dimaksud dengan Sabili Rabbika adalah jalan yang ditunjukkan Tuhanmu yaitu; Ajaran Islam.
Dari dua ayat tersebut dapat difahami bahwa materi dakwah pada garis besarnya dapat dibagi dua :
1.             Al-Qur’an dan Hadits
2.             Pokok-pokok ajaran Islam yaitu ; aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalah mencakup pendidikan, ekonomi, social, politik, budaya dll.
Namun secara global, materi dakwah dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal, yang pada dasarnya ketiganya bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Tiga hal itu adalah[19] :
a.             Masalah keimanan (aqidah)
Aqidah dalam Islam adalah bathni bersifat i’tiqad bathiniyah yang mencangkup masalah- masalah yang erat hubungannya dengan rukun iman. Masalah aqidah ini secara garis besar ditunjukkan oleh Rasulallah SAW. Dalam sabdanya:
يمان ان تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الأخر وتؤمن بالقدرخيره وشره. رواه مسلمالا
       Artinya: “Iman ialah engkau percaya pada Allah, Malaikat- malikatnya, kitab- KitabNya, Rasul- rasulNya, Hari akhir dan percaya adanya ketentuan Allah yang baik maupun yang buruk   ”. Hadist riwayat Imam Muslim.
Dalam islam, permasalahan aqidah yaitu masalah-masalah yang mencakup keyakinan yang erat hubungannya dengan rukun iman. Dalam pembahasanya, bukan saja tertuju pada hal-hal yang wajib diimani, akan tetapi materi dakwahnya juga menyangkut masalah-masalah yang menjadi lawannya. Seperti syirik, ingkar terhadap keberadaan Tuhan, dan sebagainya.
b.                  Masalah keislaman (syar’iyah)
Dalam islam, permasalahan syar’iyah erat kaitannya dengan perbuatan nyata dalam mentaati semua peraturan/hukum Allah untuk mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya serta mengatur pergaulan hidup antar sesama manusia. Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi SAW:
الاسلام ان تعبدالله ولاتشرك به شيئاوتقيم الصلاة وتؤمن الزكاة المفروضة وتصوم رمضانا.
رواه الشيخان
Artinya:
Dalam Islam bahwasannya engkau yang menyembah kepada Allah SWT. Dan janganlah engkau mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun yang melakukan sembahyang , membayar zakat- zakat yang wajib, berpuasa pada bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji di Mekah (Baitullah). ” Hadis Riwayat Bukhari Muslim.[20]
Permasalahan yang berhubungan dengan masalah syar’iyah bukan saja terbatas pada masaalah ibadah kepada Allah, namun permasalahannya juga mencakup pada masalah yang berkenaan dengan pergaulan hidup antar sesama manusia seperti masalah hukum jual-beli, berumah tangga, warisan, dan lainnya, begitu juga dengan segala bentuk larangan Allah, seperti mabuk, mencuri, berzina, dan sebagainya. Hal itu juga termasuk masalah yang menjadi materi dakwah.
c.                   Masalah budi pekerti (akhlaqul karimah)
Sebagai materi dakwah, akhlak lebih tepat dikatakan pelengkap bagi keimanan dan keislaman seseorang. Namun bukan berarti masalah akhlak tidak penting, karena bagaimana pun juga, iman dan islam seseorang tidak akan sempurna tanpa dibarengi dengan perwujudan akhlakul karimah.
Rasullulah pun pernah bersabda :“Aku diutus oleh Allah SWT didunia ini hanyalah untuk menyempurnakan Akhlak”.(Hadis sahih)[21]
Dalam buku yang berjudul Dakwah Aktual, mengatakan: Sirah Nabawiyah mengajarkan kepada kita, bahwa materi pertama yang menjadi landasan utama ajaran islam, yang disampaikan Rasullulah SAW kepada ummat manusia adalah masalah yang berkaitan dengan pembinaan akidah salimah, keimanan yang benar, masalah al-insan, tujuan program, status, dan tugas hidup manusia didunia, dan tujuan akhir yang dicapainya, al-musawah, persamaan manusia dihadapan Allah SWT, dan al-adalah, keadilan yang harus ditegakan oleh seluruh manusia dalam menata kehidupanya.
Salah satu nasihat spiritual Ikhwan al- Safa’ bagi perjalanan kehidupan manusia di dunia adalah anjuran untuk mengambil suri tauladan perjalanan kehidupan para Nabi, wali, dan orang- orang salih. Nabi dan orang- orang salih menjalin kehidupan dunianya dengan akhlak terpuji dan perjalanan hidup seimbang. Mereka adalah sosok yang mencapai kesempurnaan hidup. Karakter ini  dapat berada pada manuasia pada manusia apa pun posisinya. Baik sebagai iman- iman penunjuk jalan, para dai’i pemberi petunjuk dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan pembela- pembela kebenaran Allah di atas dunia.[22]
Hal penting yang harus disadari yaitu, semua ajaran yang disampaikan itu (materi dakwah), bukanlah semata-mata berkaitan dengan eksistensi dan wujud Allah SWT, akan tetapi bagaimana menumbuhkan kesadaran mendalam, agar mampu mewujudkan atau memanifestasikan aqidah, syar’iyah, dan akhlak dalam ucapan, pikiran, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Materi dakwah yang telah dirinci sebelumnya, pada dasarnya bersumber kepada:
1)                  Al-Quran dan Hadits
Al-Quran dan Hadits merupakan pedoman dan sumber hukum serta sumber utama ajaran-ajaran islam bagi ummat islam. Oleh karena, materi dakwah yang pada intinya menyampaikan ajaran-ajaran islam tidak mungkin terlepas dari dua sumber tersebut, jika seluruh aktivitas dakwah tidak berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadits, maka hal itu akan menjadi sia-sia dan bahkan dilarang oleh islam.
2)                  Ra’yu Ulama (opini ulama)
Islam menganjurkan umamatnya untuk berfikir- fikir, berijtihad menemukan hukum- hukum yang sangat operasional sebagai tafsiran dan akwil  Al- Qur’an dan hadis. Maka dari hasil pemikiran dan penelitian para ulama ini dapat pula dijadikan sumber kedua setelah Al- Qur’an dan Al- Hadis. Dengan kata lain penemuan baru yang tidak bertentangan dengan Al- Qur’an dan Al- Hadis dapat pula dijadikan sebagai sumber materi dakwah.[23]



C.                 Metode Dakwah
1.        Pengertian Metode
Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan, cara)[24]. Dengan demikian kita dapat artikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan dakwah menurut pendapat Bakhial Khauli adalah suatu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari suatu keadaan kepada keadaan lain[25]. Sedangkan Syaikh Ali mahfudz berpendapat dakwah adalah mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek, agar mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.[26]
Dari pengertian ditas dapat diambil pengertian bahwa metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang Da’i kepada Mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.[27] Hal ini mengandung arti bahwa pendekatan dakwah harus bertumpu pada suatu pandangan human oriented menempatkan yang mulia atas diri manusia.
2.                  Bentuk-bentuk Metode Dakwah
a.         Al-Hikmah
Sebagai metode dakwah, al-Hikmah diartikan bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati yang bersih, menarik perhatian orang kepada agama atau Tuhan. Al-hikmah juga diartikan sebagai kemampuan da’i dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u. Disamping itu juga al-hikmah diartikan sebagai kemampuan seorang da’i dalam menjelaskan doktrin-doktrin Islam, serta realitas yang ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu al-hikmah adalah sebagai sebuah sistem yang menyatukan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam dakwah.
b.         Al-mauidzatul Hasanah
Makna mauidzatul hasanah adalah kata-kata yang masuk kedalam qalbu dengan penuh kasih sayang dan kedalam perasaan dengan penuh kelembutan, tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain, sebab kelemah lembutan dalam menasehati sering kali dapat meluluhkan yang keras dan menjinakkan qalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan dari pada larangan dan ancaman.
c.         Al-mujadalah Billati Hiya Ahsan
Maksudnya adalah tukar pendapat yang dilakukan oleh dua belah pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti-bukti yang kuat.
3.                  Sumber Metode Dakwah
a.         Al-Qur’an
Didalam Al-quran banyak sekali ayat yang membahas dakwah. Allah telah menuliskan didalam kalam-Nya bagaimana kisah-kisah para rosul menghadapi umatnya.
b.         Hadits/Sunah Rosul
Melalui cara hidup dan perjuangannya baik di Makkah maupun Madinah memberikan banyak contoh metode dakwah kepada kita.
c.         Sejarah Hidup para Sahabat dan Fuqoha
Selain Rosulullah para Sahabat dan Fuqoha merupakan contoh juru dakwah. Karena merekalah yang melanjutkan dakwah Rosulullah dan membawanya kepada kita.
d.         Pengalaman
Melalui pengalaman-pengalaman hidup baik yang bersifat religius maupun pengalaman hidup biasa bisa menjadi sumber kita dalam menyampaikan dakwah.
4.                  Aplikasi Metode Dakwah Rosulullah
1)        Pendekatan personal
2)        Pendekatan pendidikan
3)        Pendekatan diskusi
4)        Pendekatan Penawaran
5)        Pendekatan Misi

D.                Teknik dan Taktik Dakwah
1.        Pengertian Teknik Dakwah
Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan, kita memerlukan metode. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan metode adalah cara yang digunakan untuk melaksanakan strategi, dalam setiap penerapan metode, dibutuhkan beberapa teknik.[28]
Pada garis besarnya, bentuk dakwah ada 3 yaitu:
a.         Dakwah Lisan (da'wah bil al-lisan)
b.         Dakwah Tulis (da'wah bil al-qolam)
c.         Dakwah Tindakan (da'wah bil al-hal)
Berdasarkan ketiga bentuk dakwah tersebut, maka metode dan teknik dakwah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1)                  Metode Ceramah
a)         Teknik pesiapan ceramah
b)        Teknik penyampaian ceramah
c)         Teknik penutupan ceramah
2)                  Metode Diskusi
a)         Manfaat dan macam-macam diskusi
b)        Teknik pelaksanaan diskusi
3)                  Metode Konseling
a)         Teknik non direktif
b)         Teknik direktif
c)         Teknik elektik
4)                  Metode Karya Tulis
a)         Teknik penulisan
b)        Teknik penulisan surat (korespondensi)
c)          Teknik pembuatan gambar
5)                   Metode Pemberdayaan Masyarakat
a)         Teknik non partisipasi
b)        Teknik tekonisme
c)         Teknik partisipasi / kekuasaan masyarakat
6)                   Metode Kelembagaan
a)         Manejemen SDM pengurus lembaga dakwah (man)
b)         Manejemen keuangan lembaga dakwah (money)
c)         Manejemen strategi lembaga dakwah (method)
d)        Manejemen sarana lembaga dakwah (machine)
e)          Manejemen produk lembaga dakwah (material)
f)           Manejemen pemasaran lembaga dakwah (market)
2.                  Pengertian Taktik Dakwah
Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Taktik sifatnya individual, masing-masing pendakwah memiliki taktik yang dalam menggunakan teknik yang sama, setiap pendakwah yang menjalankan kegiatan dakwah masing-masing memiliki pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini juga berlaku saat menghadapi mitra dakwah yang berbeda. Dengan demikian keberhasilan dakwah lebih bersifat kasuistik. Keberhasilan dakwah dengan suatu metode dan teknik belum tentu sukses dalam dakwah yang lain.
Taktik dakwah dapat menjadi identitas individu, setiap orang cenderung pada taktik tertentu, meski taktik yang lain bisa dilakukannya. Ada taktik dominant dalam diri kita, sehingga ini yang sering muncul dari kita, baik disadari maupun tidak disadari, taktik hampir bersama dengan karakter kita.

E.                 MEDIA DAKWAH
1.        Pengertian Sarana/Media dakwah
Kata sarana sering juga diartikan sama dengan “media” yang berasal dari bahasa latin “medius” yang berarti “perantara”. Secara etimologis sarana adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan.[29] Secara terminologi, media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan komunikator kepada khalayak. Menurut Dr. Hamzah Ya’qub, yang dimaksud media dakwah adalah alat objektif yang menjadi saluran yang menghubungkan ide dengan umat, suatu elemn yang vital dan merupakan urat nadi dalam totaliteit dakwah. [30]
Dapat disimpulkan bahwa media dakwah yaitu segala sesuatu yang dipergunakan atau menjadi penunjang dalam berlansungnya pesan dari komunikan (da’i) kepada kalayak. Atau dengan kata lain bahwa segala sesuatu yang dapat menjadi penunjang/alat daLam proses dakwah yang berfungsi mengefektifkan penyampaian ide (pesan) dari komunikator (da’i) kepada komunikan (khalayak).
2.        Urgensi Sarana/Media Dakwah
Urgensi media dakwah dalam Islam adalah mempermudah suatu proses pelaksanaan penyampaian pesan dakwah secara efektif. Dengan adanya aneka macam media, seorang da’i dapat memilih dan menggunakan media yang tepat dalam menyampaikan pesan yang disampaikan dan dengan media dakwah komunikan dapat merasa dekat dengan khalayak.
Ada berbagai macam sarana/media yang sering digunakan dalam penyampaian pesan dakwah maupun komunikasi secara umum. Dakwah sebagai suatu kegiatan komunikasi keagamaan dihadapkan kepada perkembangan dan kemajuan teknlogi komunikasi yang semakin canggih, memerlukan suatu adapasi terhadap kemajuan itu. Artinya dakwah dituntut untuk dikemas dengan terapan media komunikasi sesuai dengan aneka mad’u (komunikan) yang dihadapi. Laju perkembangan zaman berpacu dengan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak terkecualli teknologi komunikasi yang merupakan suatu sarana yang menghubungkan suatu masyarakat dengan masyarakat di bumi lain. Kecanggihan teknologi komunikasi ikut mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya kegiatan dakwah sebagai salah satu pola penyampaian informasi dan upaya transfer ilmu pengethauan. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses dakwah bisa terjadi dengan menggunakan berbgai sarana/media, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat memungkinkan hal itu. Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berdampak positif sebab dengan demikian pesan dakwah dapat menyebar sangat cepat dengan jangkauan danz tempat yang sangat luas pula.[31]
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapatlah diketahui bahwa kepentingan dakwah terhadap adanya sarana atau media yang tepat dalam berdakwah sangat urgen sekali, sehingga dapat dikatakan dengan sarana/media dakwah akan lebih mudah diterima oleh komunikan (mad’unya).
3.        Macam-Macam Media Dakwah
Berdasarkan pengertian media dakwah sebelumnya bahwa media adalah segala sesuatu yang menjadi perantara, maka ada beberapa macam media yang digunakan dalam suatu proses dakwah dengan merujuk kepada pendapat beberpa pakar, yaitu:
Hamzah Yaqub membagi sarana/media yang dikatakan sebagai wasilah dakwah itu menjadi lima macam yaitu: lisan, tulisan audio, visual dan akhlak. Secara umum pembagian Hamzah Yaqub ini tergolong dalam tiga sarana yaitu sebagai berikut:
a.                  Spoken words, yaitu jenis media dakwah yang berbentuk ucapan atau bunyi yang ditangkap dengan indera telinga, seperti radio, telepon dan sebagainya.
b.                  Printed writing, yaitu media dakwah yang berbentuk tulisan, gambar, lukisan dan sebagainya yang dapat ditangkap dengan indera mata.
c.                  The audio visual, yaitu media yang berbentuk gambar hidup yang dapat didengar, sekaligus dapat dilihat, seperti TV, Film, Video dan sebagainya
Dari segi sifatnya, media dakwah dapat digolongakan menjadi dua golongan yaitu:
a.                  Media tradisional yaitu berbagai macam seni pertunjukkan yang secara tradisional dipentaskan di depan umum terutama sebagai hiburan yang memiliki sifat komunikastif; seperti ludruk, wayang, dan drama.
b.                  Media modern yang diistilahkan juga dengan media elektronik, yaitu media yang dihasilkan oleh teknologi antara lain TV, Radio, Pers dan lain-lain
Bila dakwah dilihat sebagai salah satu tipe komunikasi secara umum maka menurut M. Bahri Ghazaly, MA,[32] ada beberapa jenis media komunikasi yang dapat digunakan dalam kegiatan dakwah yaitu:
a.                  Media Visual
Media komunikasi visual merupakan alat komunikasi yang dapat digunakan dengan menggunakan indra penglihatan dalam meangkap datanya. Jadi matalah yang paling berperan dalam pengembangan dakwah. Media komunikasi yang berwujud alat yang menggunakan penglihatan sebaai pokok persoalannya terdiri dari jenis alat komunikasi yang sangat komplit. Media visual tersebut meliputi: film slide, OHP, gambar foto diam, dan komputer.
b.                  Media Auditif
Media auditif merupakan alat komunikasi yang berbentuk teknologi canggih yang berwujud hardware, media auditif dapat ditangkap melalui indra pendengaran. Perangkat auditif ini pada umumnya adalah alat-alat yang diopersioanalkan sebagai sarana penunjang kegiatan dakwah. Penyampaian materi dakwah melalui media auditif ini menyebabkan dapat terjangkaunya sasaran dakwah dalam jarak jauh. Alat-alat auditif ini sangat efektif untuk penyebaran informasi atau penyampaian kegiatan dakwah yang cenderung persuasif. Alat-alat ini meliputi; radio, tep recorder, telpon dan telegram.
c.                  Media Audio Visual
Media audio visual merupakan perangkat yang dapat ditangkap melalui indra pendengaran maupun penglihatan. Apabila dibandingkan dengan media yang telah dikemukakan sebelumnya, ternyata media audiovisual lebih paripurna, sebab media ini dapat dimanfaatkan oleh semua golongan masyarakat. Termasuk dalam media ini; movie film, TV, video, media cetak
Seorang da’i juga hendaklah memilih metode dan media yang sifatnya ialah dari dimensi masa ke masa yang terus berkembang, seperti mimbar, panggung, media cetak, atau elektronik (radio, internet, televisi, komputer). Kemudian dengan mengembangkan media atau metode kultural dan struktural, yakni pranata sosial, seni, karya budaya, dan wisata alam. Juga dengan mengembangkan dan mengakomodasikan metode dan media seni budaya masyarakat setempat yang relevan, seperti wayang, drama, musik, lukisan, dan sebagainya. 
Dengan penjelasan di atas, maka media dakwah terdiri dari :
a.                  Media Fisik : Mimbar, Panggung, Media cetak (Majalah, Buletin, Surat Kabar, dll), Media elektonik (Radio, Televisi, Internet, dll).
b.                  Media Kultural dan Struktural : Pranata sosial, Seni (Wayang, Drama, Musik, Lukisan, cerita/dongeng, dll), Karya budaya, Wisata alam, dll.

F.                  Sasaran dakwah Islamiyah
            Sumber utama yang menjadi dasar bagi pendefinisian sasaran dakwah adalah ayat berikut ini:
!$tBur y7»oYù=yör& žwÎ) Zp©ù!$Ÿ2 Ĩ$¨Y=Ïj9 #ZŽÏ±o0 #\ƒÉtRur £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw šcqßJn=ôètƒ ÇËÑÈ 
“….dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Tetapi mayoritas manusia tiada mengetahui” (QS. Saba/34: 28).
Dari ayat itu dapat diketahui bahwa sasaran dakwah merupakan objek tujuan Nabi Muhammad diutus atau dakwah Nabi Muhammad. Lebih jelasnya, yang dimaksud pengertian sasaran dakwah, umat manusia yang menjadi sasaran risalah Nabi Muhammad SAW.
            Meskipun al-Qur’an secara simple memberikan pengertian tentang sasaran dakwah, namun dalam beberapa ayatnya , al-Qur’an juga memberikan istilah-istilah sasaran dakwah yang lebih khusus. Muhammad “Abdul al-Fath al-Bayanuni dalam Al-Madkhal ila ‘Ilmi al-Da’wah, menyebutkan beberapa istilah khusus sasaran dakwah Islamiyah berdasarkan al-Qur’an. Di antaranya, istilah berdasarkan sudut pandang iman terhadap al-Qur’an, terdiri dari dua kelompok sasaran dakwah, dakwah ke dalam kalangan umat Islam (internalisasi dakwah) dan dakwah ke kalangan non-muslim. Selanjutnya masyarakat Muslim mendapat sebutan dengan istilah Ummah (al-istijabah). Dalam sudut pandang yang lebih sempit, ruang lingkup ummah terbagi lagi berdasarkan kualitas-kualitas keimanan mereka.  Al-Qur’an menyebutkan bagian-bagian tersebut dengan istilah-istilah tertentu, seperti fasiq, fajir, salih, taqwa, dan sebagainya. Sedangkan kalangan non-muslim mendapat sebutan dengan istilah kafir. Keduanya masuk dalam satu cakupan dakwah yang disebut dengan ummat al-da’wah (masyarakat sasaran dakwah).
            Dari pandangan di atas dapat dipahami bahwa sasaran dakwah (mad’u) dalam istilah-istilah al-Qur’an merupakan tingkat keimanan manusia terhadap ajaran Islam, dengan lingkup utamanya, umat dakwah. Jadi dakwah meliputi tingkatan-tingkatan keimanan yang rendah sampai yang tertinggi. Bagitu juga dari tingkatan pengingkaran terendah sampai pada tingkatan yang sama sekali anti ajaran Tuhan. Peristilahan di atas juga menandakan bahwa sudut pandang utama hakikat sasaran dakwah adalah berpijak pada al-Qur’an sebagai dasarnya.[33] Manusia yang menjadi audiens yang akan diajak ke dalam Islam secara kaffah. Mereka bersifat heterogen, baik dari sudut idiologi, misalnya, atheis, animis, musyrik, munafik, bahkan ada juga yang muslim, tetapi fasik atau penyandang dosa dan maksiat.dari sudut lain juga berbeda baik intelektualitas, status social, kesehatan, pendidikan dan seterusnya ada atasan ada bawahan, ada yang berpendidikan ada yang buta huruf, ada yang kaya ada juga yang miskin, dan sebagainya.
            Sehubungan dengan kenyataan-kenyataan di atas, maka dalam pelaksanaan program kegiatan dakwah perlu mendapatkan konsiderasi yang tepat yaitu meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.                  Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi sosiologis, berupa masyarakat terasing, pedesaan, kota besar dan kecil serta masyarakat di daerah marjinal dari kota besar.
2.                  Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dar segi struktur kelembagaan, berupa masyarakat desa, pemerintah dan keluarga.
3.                  Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari tingkat usia, berupa golongan anak-anak, remaja dan orang tua.
4.                  Sasaran yang dilihat dari tingkat hidup social-ekonomis berupa golongan orang kaya, menengah, miskin dan seterusnya.[34]
5.                  Sasaran yang berupa kelompok-kelompok masyarakat dilihat dari segi social cultural berupa golongan priyayi, abangan, santri (klasifikasi ini terutama terdapat dalam masyarakat jawa).
6.                  Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi okuposional (profesi atau pekerjaan), berupa golongan petani, pedagang, seniman, buruh, pegawai negeri dan sebagainya.[35]
Bila dilihat dari kehidupan psikologis, masing-masing golongan masyarakat tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi dan kontekstualitas lingkungannya. Sehingga hal tersebut menuntut kepada system dan metode pendekatan dakwah yang efektif dan efisien, mengingat dakwah adalah penyampaian ajaran agama sebagai pedoman hidup yang universal, rasional dan dinamis. Kita dapati bahwa al-Qur’an mengarahkan dakwah kepada semua pihak, semua golongan dan siapa saja, sesuai dengan misi dakwah Nabi sebagai Rahmatan lil alamin.
Berangkat dari ruang lingkup dakwah Islamiyah yang amat luas itu maka implementasi dakwah Nabi menggunakan asasu al tadrij (bertahap), pertama; Nabi berdakwah kepada kerabat terdekat, kemudian diperluas kepada kaumnya, dan diperluas kepada penduduk Mekkah dan sekitarnya, selanjutnya dakwah meluas lagi mencakup manusia seluruhnya. Sedangkan sasaran (objek)nya di samping orang-orang yang takut kepada Allah, juga kepada orang dzalim dan keras kepala, orang-orang munafik, orang-orang kafir dan pembangkang, bahkan mengulangi dakwah kepada orang yang beriman, berbakti dan orang sabar.
Beranjak dari heterogenitas objek dakwah seperti gambaran di atas, maka seorang da’i di samping dituntut memahami keberagaman audiens tersebut, juga perlu menerapkan strategi dengan berbagai metode dalam berdakwah. Banyak metode yang memungkinkan diterapkan seperti bi al lisan, bi al hal, bil amal dan sebagainya, sesuai sabda Nabi “Khotibu al-Nasa ala qodri uqulihim” (Berbicalah dengan mereka (manusia) sesuai dengan kemampuannya.[36]
Objek dakwah adalah manusia, baik seorang atau lebih, yaitu masyarakat. Pemahaman mengenai masyarakat itu bias beragam, tergantung dari cara memandangnya. Dipandang dari bidang sosiologi, masyarakat itu mempunyai struktur dan mengalami perubahn-perubahan. Di dalam masyarakat terjadi interaksi antara satu orang dengan orang lain, antara satu kelompok dengan kelompok lain, individu dengan kelompok. Di dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok, lapisan-lapisan, lembaga-lembaga, nilai-nilai, norma-norma, kekuasaan, proses perubahan. Itulah pandangan sosiologi terhadap masyarakat. Pandangan psikologi lain lagi, demikian pula pandangan dari bidang antropologi, sejarah, ekonomi, agama dan sebagainya.[37]


















BAB III
PENUTUP

A.                 KESIMPULAN
1.        hakikat dakwah Islam pada tiga term: kebebasan, rasionalitas dan uviversalisme.
2.        materi dakwah dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal, yang pada dasarnya ketiganya bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Tiga hal itu adalah : masalah keimanan, keislaman, dan budi pekerti.
3.        Bentuk-bentuk metode dakwah : al- hikmah, mauidhoh hasanah, mujadalah billati hiya ahsan.
4.        Teknik dan taktik dakwah : Teknik pesiapan ceramah, Teknik penyampaian ceramah, Teknik penutupan ceramah
5.        Media – media yang digunakan untuk berdakwah adalah : media visual, auditif, dan audio visual.
6.        Sasaran dakwah adalah semua manusia dari berbagai lapisan masyarakat dilihat dari sosiologisnya, psikologisnya, usianya, sosial ekonomisnya maupun tingkat intelektualnya.

B.                 SARAN
Makalah ini tentunya jauh dari sempurna, untuk itu kami sebagai penyusun memohon banyak saran dan kritik yang membangun agar mampu menulis kembali makalah yang lebih baik. Makalah ini kami tulis agar bermanfaat untuk mahasiswa khususnya, sebagi acuan untuk melanjutkan dakwah Islamiyah.








DAFTAR RUJUKAN

Ali, Moh Aziz. 2009. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana
Bachtiar, Wardi. 1997. Metodologi Penelitian Dakwah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Bahreisy Salim, dkk. 2001. Tarjamah Al­- Qur’an Al- Hakim. Surabaya: CV. Sahabat
Basit, Abdul. 2005. Wacana Dakwah Kontemporer. Yogyakarta: STAIN Purwokerto Press
Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ghazali, M. Bahri. 1997. Membangun Kerangka Dasar Ilmu Komunikasi Dakwah. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Nurdin. 2010. Prospek Media Penyiaran Senagai Wahana Dakwah. [posting] 5 Agustus 2010
Muriah, Siti. 2000. Metodologi Dakwah Kontemporer. Yogyakarta: Mitra Pustaka
Syabibi, Ridho. 2008. Metodologi Ilmu Da’wah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Syukir, Asmuni. 1983. Dasar- dasar Strategi Dakwah Islam. Surabaya: Al- Ikhlas
Shihab, M.Quraish. 2000. Tafsir Al-Mishbah Jilid.2. Jakarta: Lentera Hati
Tim Penulis Rahmat Semesta. 2003. Metode Dakwah. Jakarta: Kencana
Ya’qub, Hamzah. 1992. Publisistik Islam, Teknik dakwah & Leadership. Bandung: CV. Diponegoro.
http://pandidikan.blogspot.com/2010/05/pendekatan-dan-metode-perencanaan.html diakses pada tanggal 25 November 2011 pukul 07.30 WIB




[1] Ridho Syabibi, Metodologi Ilmu Da’wah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 42
[2] Asmuni Syukir, Dasar- dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al- Ikhlas, 1983), hlm. 19
[4] Asmuni Syukir, Dasar- dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al- Ikhlas, 1983), hlm. 99
[5] Ibd, 164
[6] Abdul Basit, Wacana Dakwah Kontemporer, (Yogyakarta:STAIN Purwokerto Press, 2005), Hal. 27
[7] Ibid
[8] Ibid, Hal.28      
[9] Tim Penulis Rahmat Semesta, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2003), Hal.31-33
[10] Moh, Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), Hal. 98
[11] Ibid, Hal.110-119
[12] Ibid, Hal. 123
[13] Ibid, Hal. 124-125
[14] Ibid, Hal 134
[16] Salim Bahreisy, dkk, Tarjamah Al­- Qur’an Al- Hakim, (Surabaya: CV. Sahabat Ilmu, 2001), hlm. 64
[17]. Ibd.  282
[18]. M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Jilid.2, (Jakarta: Lentera Hati,  2000), hlm .143-44.
[19] Asmuni Syukir, Dasar- dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al- Ikhlas, 1983), hlm. 60
[20] Ibd, 62
[21] Asmuni Syukir, Dasar- dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al- Ikhlas, 1983), hlm. 63
[22] Ridho Syabibi, Metodologi Ilmu Da’wah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 65
[23] Asmuni Syukir, Dasar- dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al- Ikhlas, 1983), hlm  63- 64
[24]  Tim Penulis, Lihat M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1991) Hal.61
[25] Ibid, Lihat Ghazali Darussalam, Dinamika Ilmu Dakwah Islamiyah, (Malaysia: Nur Siaga SDN BHD, 1996), Hal.5
[26] Ibid, Lihat Abdul Kadir Sayid Abd, Rauf, Dirasah Fid Dakwah al- Islamiyah, (Kairo: Dar El-Tiba’ah al-Mahdiyah, 1987), Hal.10
[27]  Ibid, Lihat Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) Hal. 43
[28] http://pandidikan.blogspot.com/2010/05/pendekatan-dan-metode-perencanaan.html diakses pada tanggal 25 November 2011 pukul 07.30 WIB
[29] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990.
[30] Hamzah, Publisistik Islam, Teknik dakwah & Leadership, Hal. 47
[31] Ghazali, M. Bahri, Membangun Kerangka Dasar Ilmu Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997)
[32] Ibid
[33] Ridho Syabibi, hal. 83-85
[34] Arifin, Psikologi Dakwah (Suatu Pengantar Studi), (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hal. 3
[35] Siti Muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000), hal. 32-34
[36] Ibid., hal. 34-36
[37] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Dakwah (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 35-36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

GALERI

Photobucket