PESAN SINGKAT

Jumat, 14 Oktober 2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Peserta didik adalah manusia dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi, kebutuhan akan rasa aman,mendapatkan pengakuan, dan mengaktualisasi dirinya. Dalam tahapperkembangannya,siswa SMP/SMA berada pada periode perkembangannya yang sangat pesat dari segala aspek. Perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian individu?
2.      Bagaimana karakteristik individu?
3.      Bagaimana perbedaan setiap individu?
4.      Apa aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan individu?
C.     Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian individu.
2.      Untuk mnegetahui karakteristik individu.
3.      Untuk mengetahui perbedaan setiap individu.
4.      Untuk mengetahui aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan individu.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian individu
            Manusia adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi salah satu objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkanhakikat manusia maupun objek materiil yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dan dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berpikir atau “homo sapiens”, makhluk yang berbentuk atau “homo faber”, makhluk yang dapat dididik atau “homo educandum”, merupakan pandangan-pandanagn tentang manusia yang dapat digunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan terhadap manusia tersebut. Berbagai pandangan itu membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks. Kini bangsa Indonesia telah menganut suatu pandangan, bahwa yang dimaksud manusia secara utuh adalah manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejewantahan manunggalnya berbagai ciri atau karakter atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu antara segi (i) individu dan sosial, (ii) jasmani dan rohani, dan (iii) dunia dan akhirat. Keseimbangan hubungan tersebut menggambarkan keselarasan hubungan antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alamsekitar atau lingkungan, dan manusia dengan Tuhan.
            Dalam kaitannya dengan pendidikan, akan lebih ditekankan hakikat manusia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dan makhluk sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk Tuhan dngan menempatkan hidupnya didunia sebagai persiapan kehidupannya di akhirat. Sifat-sifat dan ciri-ciri tersebut merupakan hal yang secara mutlak disandang oleh manusia, sehingga setiap individu pada dasarnya sebagai pribadi atau individu yang utuh. Individu berarti tidak dapat digi,, tidak dapat dipisahkan keberadaanya sebagai makhluk yang pilah, tunggal, dan khas.menurut kamus Echols& shadaly, individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, oknum.
            Sejak lahir, bahkan sejak masih dalam kandungan ibunya, manusia merupakan kasatuan psikofisis atau psikosomatis yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan itu merupakan sifat kodrati manusia yang harus mendapat perhatian secara seksama. Mengingat pentingnya makna pertumbuhan dan perkembangan ini[1].

B.     Karakteristik Individu
            Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Pada masa lalu ada keyakinan, kepribadian terbawa pembawaan (heredity)  dan lingkungan, merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor terpisah, masing-masing memepengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Namun kemudian makin disadari bahwa apa yang dipikirkan dan dikerjakan seseorang, atau apa yang dirasakan oleh seorang anak remaja atau dewasa, merupakann hasil dari perpaduan antara apa yang ada di antara faktor-faktor biologis yang diturunkan dan dipengaruhi lingkungan.
            Seorang anak mungkin memulai pendidikan formalnya di tingkat taman kanak-kanak pada usia 4 atau 5 tahun. Pada awal ia memasuki sekolah mungkin tertunda sampai ia berusaha 5 atau 6 tahun. Tanpa memperdulikan berapa umur seorang anak, karakteristik pribadi dan kebiasaan-kebiasaan yang dibawanya ke sekolah akhirnya terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan hal itu tampaknya mempunyai pengaruh penting terhadap keberhasilannya di sekolah dan masa perkembangan hidupnya di kelak kemudian.
            Natur dan nurture merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emisional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi seorang individu seperti “dia”atau sejauh mana seseorang individu dipengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedang karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
            Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis besar keluarga, yaitu garis keluarga ayah dan garis keluarga ibu. Sejak saat terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru itu secara berkesinambungan dipengaruhi oleh banyak dan bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang. Masing-masing perangsang tersebut, baik secara terpisah atau terpadu dengan rangsangan yang lain, semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya suatu pola karakteristik tingkah laku yang dapat mewujudkan seseorang sebagai individu yang berkarakteristik berbeda dengan individu - individu  lain.[2]
            Karakteristik utama individu manusia yaitu:
a)      Individu itu unik
b)      Individu itu berada dalam proses perkembangan yang dinamis.[3]
C.     Perbedaan Individu
            Aspek perkembangan individu dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu: (i) semua manusia mempunyai unsur-unsur kesamaan di dalam pola perkembangannya dan (ii) di dalam pola bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia secra biologis dan sosial, tiap-tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secra keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan kualitatif. Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut.
            Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perorangan, barkaitan dengan perbedaan individual seseorang. Ciri dan sifat orang yang satu dengan yang lainnya berbeda. Perbedaan ini disebut perbedaan individu atau perbedaan individual.[4]
            Garry mengatagorikan perbedaan individual ke dalam bidang-bidang berikut:
1)      Perbedaan fisik: usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bertindak.
2)      Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga dan suku.
3)      Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
4)      Perbedaan inteligensi dan kemampuan dasar.
5)      Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.[5]
            Perbedaan fisik bukan hanya terbatas pada ciri yang dapat diamati dengan pancaindra kita, seperti tinggi badan, warna kulit, jenis kelamin, nada suara, dan bau keringat, akan tetapi juga ciri lain yang hanya dapat diketahui setelah diperoleh informasi atau diadakan pengukuran usia, berat badan, kecepatan lari, golongan darah, pendengaran, penglihatan merupakan ciri-ciri yang tidak dapat diamati perbedaannya dengan pengindraan.
            Secara kodrati, manusia memiliki potensi dasar yang secara esensial membedakan manusia dengan hewan, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Sekalipun demikian, potensi dasar yang dimilikinya itu tidaklah sama bagi masing-masing manusia. Oleh karena itu sikap, minat, kamampuan berpikir, watak, perilakunya, dan hasil belajarnya berbeda-beda antara manusia satu dengan yang lainnya.
            Perbedaan- perbedaan tersebut berpengaruh terhadap perilaku mereka di rumah maupun di sekolah. Gejala yang dapat diamati adalah bahwa mereka menjadi lebih atau kurang dalam bidang tertentu dibandingkan dengan orang lain. Sebagian manusia lebih mampu dalam bidang seni atau bidang yang lainnya, seperti olah raga, dan keterampilan, sebagian lagi dapat lebih mampu dalam bidang kognitif atau yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
a)    Perbedaan Kognitif
        Menurut Bloom, proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah, menghasilkan tiga pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai taxonomy Bloom, yaitu kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
        Kemampuan kognitif menggambarkan penguasaan imu pengetahuan dan teknologi tiap-tiap orang. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Sebagaimana diketahui bahwa hasil belajar merupakan perpaduan antara fektor pembawaan dan pengaruh lingkungan. Tingkat kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang diukur dengan tes hasil belajar.
        Tes hasil belajar menghasilkan nilai kemampuan kognitif yang bervariasi. Variasi nilai tersebut meggambarkan perbedaan kemampuan kognitif tiap-tiap individu. Dengan demikian pengukuran kemampuan kognitif dilakukan dengan tes kemampuan belajar atau tes hasil belajar. Tes  hasil belajar yang digunakan hendaknya memenuhi persyaratan sebagai tes yang baik, yaitu bahwa tes tersebut harus bersih (valid) dan andal (reliabel). Inteligensi (kecerdasan) sangat mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang.[6]
b)   Perbedaan Individu dalam Kecakapan Bahasa
        Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan individu untuk menyatakan buah pikiran dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat bermakna, logis dan sistematis, yang dipengaruhi oleh factor kecerdasan dan factor lingkungan, termasuk factor fisik yakni orang berbicara.
c)    Perbedaan dalam Kecakapan Motorik
        Kecakapan motorik atau kemampuan untuk melakukan koordinasi kerja syaraf pusat (otak) untuk melakukan kegiatan. Gerakan, motorik, saraf pusat, saraf sensoris Ransangan Kemampuan motorik dipengaruhi kematanga fisik dan tingkat kempuan berfikir.
        Kemampuan motorik dipengaruhi oleh kematangan pertumbuhan fisik dan tingkat kemampuan berpikir. Karena kematangan pertumbuhan fisik dan kemampuan berpikir setiap orang berbeda-beda, maka hal itu membawa akibat terhadap kecakapan motorik masing-masing, dan dengan dekikian kecakapan motorik setiap individu akan berbeda-beda pula.
d)   Perbedaan dalam latar Belakang
        Latar belakang individu dimaksud dibedakan dari factor dalam dan luar dirinya. Factor dari dalam : kecerdasan, kemampuan, bakat, dll. Factor dari luar : social ekonomi, pola sikap orangtua, dll.
e)    Perbedaan dalam bakat
        Bakat adalah kemampuan khusus yang dibaca sejak lahir, kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik bila mendapat ransangan / kesemapatan dan pemupukan secara tepat.
f)    Perbedaan dalam Kesiapan Belajar
        Kesiapan belajar individu didukung oleh kematangan fisik, mental, umur, kesehatan, dan pengalaman-pengalaman hasil persepsi dan perhatiannya terhadap lingkungan.[7]

D.    Aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan individu
            Setiap individu pada hakikatnya akan mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan non fisik yang meliputi aspek-aspek intelek, emosi, sosial, bahasa, bakat khusus, nilai dan moral, serta sikap. Berikut diuraikan pokok-pokok pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek tersebut.

1)   Pertumbuhan Fisik
Perkembangan fisik belangsung mengikuti perinsip-perinsip cepalocaudal (mulai dari bagian kepala menuju ekor atau kaki) dan proximodistal (mulai dari bagian tengah ketepi atau tangan). Laju perkembangan berjalan secara berirama ; pada masa bayi dan kanak- kanak. Perubahan fisik sangat pesat, pada usia sekolah menjadi lambat mulai masa remaja terjadi amat mencolok. Kemudian (pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria) laju perkembangan menurun sangat lambat.[8]
a.       Pertumbuhan sebelum lahir
Manusia itu ada dimulai dari suatu proses pembuahan (pertemuan sel telur dan sperma) yang membentuk suatu sel kehidupan, yang disebut embrio. Embrio manusia yang telah berumur 1 bulan, berukuran sekitar setengah sentimeter. Pada ukuran 2 bulan embrio itu menjadi membesar menjadi dua setengah sentimeter dan disebut janin atau “fetus”. 1 bulan kemudian menjadi kandungan yang berumur menjadi 3 bulan. Janin atau fetus tersebut telah berbentuk menyerupai bayi dalam ukuran kecil.
Masa sebelum lahir merupakan pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena pada masa itu merupakan awal terbentuknya organ- organ tubuh dan tersusunnya jaringan saraf yang membentuk sistem yang lengkap. Pertumbuhan dan perkembangan janin diakhiri saat kelahiran. Kelahiran pada dasarnya merupakan pertanda kematangan biologis dan jaringan saraf masing- masing komponen biologis telah mampu berfungsi secara mandiri.

b.      Pertumbuhan setelah lahir
Pertumbuhan fisik manusi setelah lahir merupakan kelanjutan pertumbuhannya sebelum lahir.
2)   Intelek
Intelek atau daya pikir berkembang sejalan dengan pertumbuhan saraf otak. Karena pikiran pada dasarnya menunjukkan fungsi otak, maka kemampuan intelektual yang lazim dengan istilah lain kemampuan berfikir, dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik. Pertumbuhan syaraf yang telah matang akan diikuti oleh fungsinya dengan baik, dan oleh karena itu, seorang individu juga akan mengalami perkembangan kemampuan berfikirnya, mana kala pertumbuhan syaraf pusat atau otaknya telah mencapai matang. Perkembangan tingkat berfikir atau perkembangan intelek akan di awali dengan kemampuan mengenal yaitu untuk mengetahui dunia luar.
Reaksi atau respon terhadap rangsangan dari luar pada awalnya belum terkoordinasikan secara baik, hampir semua respon yang diberikan bersifat refleks. Pada umur sekitar 4(empat) bulan, respons yang bersifat refleks mulai berkurang, pemberian respon terhadap setiap rangsangan telah mulai terkoordinasikan. Contoh: respon terhadap suara, sinar dan warna mulai ditunjukkan dengan gerakan pandangan mata ke arah asal rangsangan itu di berikan.
Perkembangan lebih lanjut tentang perkembangan intelek ini di tunjukkan pada perilakunya, yaitu tindakan menolak dan memilih sesuatu. Tindakan itu berarti telah mendapatkan proses mempertimbangkan atau yang lazim dikenal dengan proses analisis, evaluasi, sampai dengan kemampuan menarik kesimpulan dan keputusan. Fungsi ini terus berkembang mengikuti kekayaan pengetahuannya tentang dunia luar dan proses belajar yang dialaminya, sehingga pada saatnya seseorang akan berkemampuan melakukan peramalan atau prediksi, perencanaan, dan berbagai kemampuan analisis dan sintesis. Perkembangan kemampuan berfikir semacam ini dikenal pula sebagai perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif seseorang menurut Piaget (Sarlito, 1991: 81) mengikuti tahap- tahap sebagai berikut:
a.       Tahap pertama : masa sensori motor (0.0 – 2.5 tahun)
Masa ketika bayi mempergunakan sistem penginderaan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Bayi memberikan reaksi motorik atau rangsangan- rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks, refleks- refleks ini kemudian berkembang lagi menjadi gerakan- an – tindakan yang berkaitan dengan hal- hal yang telah lewat, misal: seorang anak yang pernah melihat dokter berpraktek, akan (dapat) bermain “dokter- dokteran”.
b.      Tahap kedua     : masa operasional (2.0 – 7.0 tahun)
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan simbol yang mewakili sesuatu konsep. Misalnya: kata”pisau plastik” kata pisau sebenarnya mewakili makna benda yang sebenarnya. Kemampuan simbolik ini memungkinkan anak melakukan tinda
c.       Tahap ketiga     : masa konkreto prerasional (7.0 – 11.0 tahun)
Pada tahap ini anak sudah dapat melakukan berbagai macam tugas yang konkret. Anak mulai mengembangkan tiga macam operasi berfikir, yaitu:
Ø  Identifikasi       : mengenali sesuatu,
Ø  Negasi               : mengingkari sesuatu,
Ø  Reprokasi          : mencari hubungan timbal balik antara beberapa hal.
d.      Tahap keempat : masa operasional (11.0 - dewasa)
Dalam usia remaja dan seterusnya seseorang sudah mampu berfikir abstrak dan hipotesis. Pada tahap ini seseorang bisa memperkirakan apa yang mungkin terjadi. Ia dapat mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan seperti: kalau mobil A lebih mahal daripada mobil B, sedangkan mobil C lebih murah daripada mobil B, maka ia dapat menyimpulkan mobil mana yang paling mahal dan yang mana yang paling murah.

3)   Emosi
merupakan gejala perasaan yang disertai dengan perubahan atau perilaku fisik. Seperti marah yang ditunjukkan dengan teriakan suara keras, atau tingkah laku yang lain. Begitu pula sebaliknya seorang yang gembira akan melonjak lonjak sambil tertawa lebar, dan sebagainya.
4)   Sosial
diawali dengan mengenali lingkungan yang terdekat. Setiap Social  orang akhirnya mengenal bahwa manusia itu saling membantu dan dibantu, memberi dan diberi dari masa bayi melainkan masa kanak-kanak. [9]
5)   Bahasa
Pengertian bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak, dan suara untuk menyampaikan isi pikiran kepada orang lain. Dengan demikian, dalam berbahasa ada dua pihak yang terlibat, yaitu pihak penyampai isi pikiran dan pihak penerima isi pikiran. Dalam percakapan atau berdialog, pihak- pihak itu saling berganti fungsinya, antara penerima dan penyampai isi pikiran.  
Fungsi dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Sejak bayi manusia telah berkomunikasi dengan dunia lain. Menangis disaat kelahiran, mempunyai arti bahwa di samping menunjukkan gejala kehidupan juga merupakan cara bayi itu berkomunikasi dengan sekitar.
6)   Bakat khusus
Bakat merupakan kemampuan tertentu atau khusus yang dimiliki oleh seorang individu yang hanya dengan rangsangan atau sedikit latihan. Kemampuan itu dapat berkembang dengan baik.
Sumandi suryabrata (1984)menyimpulkan bahwa pengertian tentang bakat yang dikemukakan oleh para ahli memang belum seragam. Diakui bahwa adanya perbedaan dari tiap- tiap definisi bersifat saling melengkapi. Diantara berbagai definisi tentang bakat, sumadi tampak lebih mengikuti definisi yang dikemukakan oleh Guildford (Sumandi: 1984), bakat mencakup 3 dimensi yaitu:
Dimensi perseptual
Dimensi psikomotor
Dimensi intelektual
Dari ketiga dimensi tersebut menggambarkan bahwa bakat tersebut mencakup kemampuan dalam pengindraan, ketepatan dan kecepatan menangkap makna, kecepatan dan ketepatan dalam bertindak, serta kemampuan berfikir inteligen. Atas dasar bakat yang dimilikinya maka seorang individu akan mampu menunjukkan kelebihan dalam bertindak dan menguasai serta memecahkan masalah dibandingkan dengan orang lain.
Seseorang yang memiliki bakat akan cepat dapat diamati, sebab kemampuan yang dimiliki akan berkembang dengan pesat dan menonjol. Bakat khusus merupakan salah satu kemampuan untuk bidang tertentu seperti bidang seni, olah raga, atau keterampilan.
7)   Sikap, Nilai, dan Moral
Bloom (Woolfolk dan Nicolich, 1984: 390) mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses belajar di kelompokkan menjadi 3 sasaran yaitu: [10]
Penguasaan pengetahuan (kognitif)
        Teori belajar psikologi kognitif menfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauh mana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. [11]
Penguasaan nilai dan sikap (afektif)
Penguasaan psikomotorik.
Loree (1970:75) menyatakan bahwa ada 2 macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau awal masa kanak- kanaknya ialah berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). Kedua jenis keterampilan psikomotorik ini merupakan basis bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks seperti yang kita kenal dengan sebutan bermain (playing) dan bekerja (working).[12]




BAB III
PENUTUP
E.     Kesimpulan
1.    Individu berarti tidak dapat digi,, tidak dapat dipisahkan keberadaanya sebagai makhluk yang pilah, tunggal, dan khas.menurut kamus Echols& shadaly, individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, oknum.
2.    Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis.
3.    Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perorangan, barkaitan dengan perbedaan individual seseorang
        Garry pada 1963 (Hartomo, dkk.1994) mengkategorikan perbedaan individu, sbb:
a. Perbedaan fisik
b. Perbedaan sosial
c. Perbedaan kepribadian
d. Perbedaan kemampuan
e. Perbedaan kecakapan atau kepandaian disekolah
        Bidang- bidang perbedaan individu antara lain sebagai berikut:
a.    Perbedaan Kognitif
b.    Perbedaan Individu dalam Kecakapan Bahasa
c.    Perbedaan dalam Kecakapan Motorik
d.   Perbedaan dalam latar Belakang
e.    Perbedaan dalam bakat
f.     Perbedaan dalam Kesiapan Belajar
4.    Setiap individu pada hajikatnya akan mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan non fisik yang meliputi aspek-aspek intelek, emosi, sosial, bahasa, bakat khusus, nilai dan moral, serta sikap



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GALERI

Photobucket